Selasa, 27 September 2011

Refleksi Rektor Ideal untuk Progresifitas Kampus


Bercermin dari tokoh perintis
Sosok  gagah  nan  ideal  sebagai  penggagas  kemuhammadiyahan.  Akrab  kita  kenal dengan   nama   K.H.   Ahmad   Dahlan.   Ide -idenya   yang   membawa   perubahan   secara revolusioner  mulai  dari  sistem  pendidikan,  ekonomi,  sosial,  dan  politik.  Ahmad   Dahlan menyaksikan  polemik  masyarakat  Yogyakarta  yang  dipandang  tidak  sesuai  dengan  jiwa ajaran  islam.  Kondisi  obyektif  umat  islam  waktu  itu  berada  dalam  keterbelakangan, kebodohan  dan  kemiskinan.  Sedangkan  bangsa  Indonesia  berada  dalam  cengkeraman penjajahan.  Kondisi  obyektif  semacam  itu  semakin  member  dorongan  padanya  untuk melakukan  perubahan  atas  kondisi  yang  buruk  itu .  Dengan  menengok  pada  khasanah pembaharuan   di   dunia   islam,   maka   ia   mewujudkan   dorongan   itu   kedalam   cita-cita
membangaun  sebuah  gerakan  islam  yang  mampu  memperbaharui  kehidupan  masyarakat. Dengan   didorong   oleh   koleganya   maka   terbentuklah   suatu   organisasi   islam   yaitu muhammadiyah pada 8 Dzulhijjah 1330 atau bertepatan tanggal 18 November 1912.
Menyaksikan  keberhasilan  Ahmad  Dahlan   dalam  membentuk  organisasi  islam menjadikannya  sebagai  sosok  pemimpin  yang  dapat  menyetarakan  masyarakat  golongan menengah  kebawah  dengan  masyarakat  golongan  atas   waktu  itu,  kita  dapat  bercermin sudahkah para pemimpin kita melakukan hal yang sama? Keberhasilan seo rang pemimpin tidak  hanya  diukur  dari  seberapa  banyak  programnya  sudah  terlaksana,  namun  seberapa besar program tersebut dapat berpengaruh terhadap  orang lain.
Kepemimpinan  yang ada pada diri  Ahmad Dahlan sesungguhnya  lahir dari sebuah proses internal  (leadership from the inside out ), bukan dari pangkat ataupun jabatan  yang disandangnya. kepemimpinan datang dari sebuah proses yang panjang, yaitu dari perubahan karakter  atau  transformasi  internal.  Begitu  juga  dengan  para  pemimpin  kita  yang  lain. Ketika seseorang menemukan visi dan misi hidupnya, setiap ucapan dan tindakannya mulai memberikan pengaruh kepada lingkungan , dan ketika keberadaannya membawa  perubahan dalam lembaga. Pada saat itulah seseorang lahir menjadi pe mimpin sejati.
Hal ini juga diperkua t oleh gagasan Tannebaum, Weschler and Nassarik:1961  yang mengatakan  bahwa  kepemimpinan  pada  dasarnya  adalah  pengaruh  antar  pribadi,  dalam situasi  tertentu  dan  langsung  melalui  proses  komunikasi  untuk mencapai  satu  atau beberapa tujuan tertentu . Sejalan dengan Tannebaum maka muncul pemikiran dari R auch & Behling:1984 yang memperkuat   bahwa kepemimpinan   adalah suatu   proses yang mempengaruhi aktifitas kelompok yang diatur untuk mencapai tujuan bersama .
Dalam kesempatan ini penulis akan membahas mengenai  kepemimpinan ideal yang kita  rindukan  sebagai  mahasiswa  dan  seluruh  civitas  akademika  serta  warga  kampus lainnya.. Sehingga peran  dan tugas mahasiswa sebagai  agent of change  dapat tercapai dan membawa dampak yang positif.  Pemimpin kita yang ideal  saat ini di UMP biasa kita sapa dengan sebutan “rektor”.   Untuk menjadi pemimpin dan orang pertama di suatu perguruan tinggi  tidaklah  mu dah.  Perlu  pertimbangan  bersama  untuk  memutuskan  suatu  kebijakan. Bukan menganut sistem otorite r dimana pihak yang memiliki  kekuasaanlah yang menang. Hal  ini  juga  sejalan  dengan  prinsip  muhammadiyah,  bahwa  dalam  menetukan  seorang pemimpin harus berdasarkan musyawarah mufakkat.

Pemilihan Rektor di UMP
Disadari atau tidak, pemilihan rektor memiliki makna penting bagi keluarga besar Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Jabatan puncak, dengan segala kewenangan yang diejawantahkan  dalam  berbagai  kebijakan  strategis  yang  dilakukan  rektor  tentunya  akan membawa  maju  mundurnya  universitas  kedepan.  Kesalahan  dalam  mengambil  kebijakan tentunya akan merugikan be rbagai pihak. Begitu pula dengan kebijakan yang tepat tentunya akan membawa kemaslahatan bagi keluarga besar UMP.
Universitas   Muhammadiyah   yang   notabene   masih   tergolong   perguruan   tinggi berkembang  hingga  saat  ini  sudah  mengalami  pergantian  rektor  sebanyak  8  periode. Memulai  perjalanannya  dibawah  pimpinan  pertamanya  yaitu  Drs.  H.  Djarwoto  Aminoto (1968-1976) kemudian habis masa jabatan  dan digantikan oleh Drs . H. Syamsuhadi Irsyad (1976-1988), berlanjut kemudian habis masa jabatan dan kembali lagi dipimpin oleh Drs. H. Djarwoto Aminoto  (1988-1997). Kemudian periode ke -4 dipegang oleh Prof. Dr. H. Max Darsono (1997-1998), dilanjutkan Ir.  H. Purwito, Ms (Pjs 1998 -1999), periode berikutnya dipegang  oleh  Dr.  H.  Djoko  Wahyono,  S.U.,  Apt  beliau  menjabat  selama  dua  periode berturut-turut  (1999-2003  dan  2003-2007).  Kemudian  rektor  periode  kali  ini  dijabat  oleh Drs. H. Syamsuhadi Irsyad, S.H.,M.H (2007-2011).

Rektor seperti apa yang diharapkan mahasiswa?
Dengan segala per an dan tanggung jawab yang dipikul, idealnya rektor Universitas Muhammadiyah  Purwokerto   menjadi  seorang  pe mimpin  yang  mumpuni  dibidangnya . Harus   berorientasi   melayani,   meninggalkan   kepentingan-kepentingan   golongan   dalam merumuskan  kebijakan  yang  dapat  menguntungkan  bersama .  Dalam  mengemban  tugas haruslah  memiliki  karakteristik  yang  bersih  di setiap  tindakan,  visioner  pada  perubahan yang  membangun  dan  action  untuk  terus  berkontribusi,  professional  dari  sisi  akademis maupun  managerial  institusi.  Rektor  harus  bisa  mengayomi  mahasiswa  dan  membangun suasana  akademik  yang  harmonis,  tanpa  menghilangkan  daya  kritis  mahasiswa  yang tumbuh alami di organisasi kampus. Sehingga mampu menjalin kerj asama yang elegan dan egaliter dengan semua pihak yang terkait dengan universitas seperti dose n, karyawan, dan mahasiswa.
Seorang rektor tidaklah hanya sebatas konseptor belaka. Namun juga sebagai pel aku pendidikan  yang  mengeluarkan  kebijakan,  menunjukkan  keberpihakannya  pada  golongan menengah  kebawah.  Seperti  yang  sedang  digencarkan  sekarang  ini  yaitu  permasalahan biaya pendidikan yang memberatkan golongan menengah kebawah.  Banyak kalangan yang belum  mampu  mengenyam  pendidikan  secara  merata.   Disinilah  rektor  sangat  berperan dalam menentukan pemerataan pendidikan.  Bukannya  hanya menyetujui semua kebijakan atasan  seperti  dibentuknya  UU  BHP  yang secara g amblang memberatkan  mahasiswa .  Itu hanyalah sebagai contoh kecil saja.
Diatas telah disebutkan bagaimana idealnya seorang rektor.  Sebagai penyempurna maka      seorang  rektor  harus  mempunyai  program -program  kerja  yang  dapat  menunjang kemajuan  universitas.  Diantaranya  dengan  meningkatkan  mutu  pendidikan.  Univ ersitas Muhammadiyah  Purwokerto  memiliki  Lembaga  Jaminan  Mutu  (LJM)  yang  tugasnya meningkatkan   mutu   pendidikan   di   UMP.   Dengan   adanya   lembaga   tersebut   rektor hendaknya  memaksimalkan  peran  dan  fungsinya,  sehingga   output  yang  dihasilkan  lebih kompeten dalam b idangnya masing -masing.
Program   pembangunan   fisik   yang  sekarang   gencar  sangat   mendukung  proses perkuliahan nantinya. namun hal ini tidak sejalan dengan kebutuhuan primer dan sekunder untuk  kemajuan  universitas.  Terbukti  dengan  pembanguna  fisik  yang  maksim al  namun menyisihkan  mutu  pendidikan  yang  ada.  Sebagai  contoh  proses  akreditasi  di  masing - masing fakultas oleh  BAN -PT  yang belum merata. Penilaian sarana dan prasarana hanya mempunyai nilai 20 %, proses pembelajaran 50 %, dan out put 30 %. Hal ini menunjuk kan bahwa seharusnya mutu pendidikan lebih diutamakan dari pada bangunan fisik.

Kesempatan menjadi rektor
Penulis katakan bahwa seandainya penulis diberi kesempatan untuk  menjadi rektor, memimpin   kampus   yang   megah   berda sarkan   syariah   islam   tidaklah   mudah.   Harus memenuhi  syarat  dan  kriteria  yang  sudah  digariskan.  Namun  seb agai  pemimpin,  penulis akan   menjalankan   tugas   dengan   baik   sebagaimana   rektor   ideal     seperti   yang   sudah dijelaskan  diatas.  M enjaga  jangan  sampai  orang  yang  membe ri  kepercayaan  dan  tugas merasa kecewa, menyesal karena tidak puas dengan  pelayanannya. Selalu merasa takut jika ada  orang  yang  kecewa  dengan  apa  yang  ia  berikan.  Sebaliknya,  dalam  hidup  ini  kita menyukai jika orang lain senang dengan apa yang kita lakukan .
Sebagai rektor di UMP, nantinya harus mem punyai tekad untuk selalu bekerja, jika apa  yang  di  perjuangkan  belum  berhasil.  Terlebih  tanggung  jawab  ini  be rkaitan  dengan kehidupan  masyarakat  di  masa  depan  karena  memimpin  suatu  lembaga  pendidikan   yang menyangkut  kepentingan  kalangan  masyarakat .  Kerja  keras  tidak  saja  dilakukan  dalam menunaikan  amanah  tatkala  menjabat,  tetapi  sampai  semampu  kita  untuk  bekerja  keras. Pekerjaan  atau  profesi  di  dunia  pendidikan  hendaknya  tidak  ditunaikan  sebatas  upaya mencari uang saja.
Oleh  karena  itu  perlu  evaluasi  untuk  pemilihan  rektor  periode  berikutnya.  Agar program-program  yang  ditawarkan  nantinya  dapat  menciptakan  kesejahteraan  bersama . Sebagai  wujud  amal  usaha  muhammadiyah  maka  pemilihan  rektor  tidak   berdasar  hak prerogatif  semata  namun  berdasarkan  musyawarah  mufakat ,  serta  konsisten  dengan  apa yang sudah menjadi kesepakatan bersama.

Oleh Fitri Nurhayati
dalam lomba penulisan essay "Andai Aku Jadi Rektor"
tingkat universitas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar