Selasa, 30 September 2014

Gabie, Siswa SLB di Nusa Tenggara Timur

Ingin Jadi Artis Seperti Daus Mini
Gabie tampil dalam Ngada Edu-Culture Fair 2014
Terimakasih untuk sentuhan atas hidupku
Baik dengan cara biasa maupun luar biasa
Aku bersyukur karena kau mengetahui banyak hal tentang diriku
Kepercayaanku dan kasihmu, melapangkan jalanku
Untuk menjadi diriku sendiri
(Sepenggal puisi yang dibawakan Gabie dalam acara Ngada Edu-Culture Fair 2014)

Ayunan tangan Gabriel Nggoli (17) nampak mungil memperagakan setiap bait puisi yang ia bawakan. Tangan kirinya mahir memegang microphone yang sesekali dipindahkannya ketangan kanan. Ia tampil percaya diri dihadapan ratusan orang yang hadir dalam acara Ngada Edu-Culture Fair 2014 yang digelar guru SM-3T Ngada, NTT.
Siapa pun tak akan menyangka jika Gabriel adalah siswa SMP. Melihat tinggi badannya yang tidak sampai satu meter orang mengira dirinya baru masuk SD. Meski tingginya tidak sempurna seperti anak seusianya, siswa kelahiran 22 September 1996 ini tetap percaya diri. Tak ayal aksinya dipanggung mampu memukau ratusan penonton yang hadir di Lapangan Kartini, Kota Bajawa, Sabtu (10/5). Bahkan tak sedikit dari mereka yang meneteskan air mata. Penampilan Gabie kali ini merupakan satu dari sederet aksinya di depan banyak orang.
Saat ditanya kenapa Gabie begitu percaya diri, ternyata ada satu hal yang memotivasi dirinya untuk berani tampil di panggung. Katanya, siswa SLB Negeri Bajawa ini ingin menjadi artis seperti pelawak, Daus Mini.
“Cita-citanya pengin jadi artis seperti Daus Mini. Jadi bisa sering tampil di panggung. Kalau tidak jadi artis ya jadi MC tidak apa-apa,” kata Gabie sambil tersipu malu.
Anak kedua dari empat bersaudara ini nyalinya tak pernah ciut meski dirinya tak sempurna seperti anak pada umumnya. Air mukanya tetap ceria dengan senyum yang menggemaskan.
Pada gelaran Ngada Edu-Culture Fair beberapa waktu lalu ia membawakan sebuah puisi dan pantun yang membuat semua pasang mata tertuju padanya. Selain syairnya yang menggelitik hati, pembawaan Gabie juga menjadi inspirasi banyak anak lain yang tergolong normal.
Arum Puspitaningtyas, guru SM-3T yang ditugaskan di SLB pun sempat meneteskan air mata. Tidak menyangka muridnya bisa tampil memukau banyak orang. Menurutnya, yang terpenting saat mengajar anak luar biasa adalah ikhlas dan mencurahkan kasih sayang kepada sang anak.
“Yang terpenting tidak pilih kasih. Mereka semua sama, tinggal bagaimana kita memotivasi dan menggali potensi mereka. Saya bangga dengan Gabie,” kata Arum.
  
Gabie Juara 2 Lomba Matematika 
Gabie bersama guru dan teman-temannya
Putih warnanya bunga melati
Pastilah tentu harum baunya
Belajarlah kamu sedari dini
Kelak berguna di hari tua
(Pantun yang dibawakan Gabie dalam acara Ngada Edu-Culture Fair 2014)

Kepandaian Gabie juga disampaikan Maria Yasinta Naru, wali kelasnya di sekolah. Menurut Yasinta, muridnya yang satu ini memang tergolong pintar. Bahkan seringkali ia menugaskan Gabie untuk mengajari teman-temannya pelajaran matematika. Kepandaian siswa berkulit hitam manis ini mengantarkannya mewakili sekolah untuk mengikuti olimpiade matematika tingkat Provinsi NTT di Kupang.
“Dulu ikut lomba matematika dapat juara dua di Kupang. Rasanya senang bisa naik pesawat terbang sampai Kupang,” ujar Gabie sambil memainkan jari-jarinya untuk menghilangkan grogi.
Tepat Bulan Mei 2013 lalu ia mengikuti olimpiade matematika khusus untuk anak SLB. Dari situ semangat belajarnya terus terpacu bahkan seolah tak pernah mengikis. Dari wajahnya selalu menyiratkan senyum yang menginspirasi banyak orang.
Dulu saat akan menamatkan sekolah dari SD Ije Kecamatan Wolomeze, ia langsung mengikuti ujian nasional di SLB N Bajawa. Ia mendapat nilai delapan untuk mata pelajaran matematika. Beruntung saat duduk di bangku SD teman seusianya memahami keterbatasan Gabie. Sehingga ia tetap percaya diri saat berada diantara siswa normal lainnya.
Dengan begitu ia pernah mengenyam pendidikan bersama siswa normal lainnya. Dunia pendidikan biasa mengenalnya dengan istilah inklusi, dimana siswa berkebutuhan khusus mendapat layanan pendidikan yang sama dengan siswa normal lainnya.
Pendidikan inklusif adalah penempatan anak berkebutuhan khusus baik tingkat ringa, sedang, dan berat secara penuh di kelas reguler. Disini, ditemukan sisi positif pendidikan inklusif bagi siswa berkebutuhan khusus. Dimana dapat terbangun kesadaran dan menghilangkan sikap diskrimatif terhadap penyandang disabilitas.
Drs. Vinsensis Milo, Kepala Dinas PKPO Kabupaten Ngada mengatakan pentingnya pendidikan inklusif karena semua anak mempunyai hak yang sama untuk belajar bersama anak yang lain. Mereka tidak dibedakan secara rigrid, tetapi yang perlu diperhatikan bahwa mereka memiliki kesulitan dalam belajar. Tidak ada alasan yang mendasar untuk memisahkan anak dalam pendidikan.
Saat ditanya bagaimana cara belajar Gabie, anak kedua dari empat bersaudara ini mengatakan cukup sederhana. Ia hanya memanfaatkan waktu sore hari untuk sekadar membaca buku. Biasanya yang dibaca adalah buku cerita. Katanya, ia menyukai pelajaran IPA.
Aktivitasnya setiap hari memang terbilang monoton, tapi ia nampak sangat menikmati hal itu. Mulai dari jam lima pagi Gabie sudah bangun. Anak dari pasangan Yosep Mena dan Filonimat ini tinggal di asrama bersama teman-teman lain.
“Setelah bangun pagi langsung berdoa, kemudian beres-beres di asrama. Setelah itu baru mandi trus makan dan pergi ke sekolah,” jawabnya sambil berfikir mengurutkan aktivitasnya pagi hari.
Di sekolah banyak hal yang dilakukan Gabie. Diantara enam orang sekelasnya, ia tergolong yang paling pandai. Karena dibanding siswa lain, ia hanya memiliki keterbatasan secara fisik saja.
  
Gabie Pandai Membuat Syal
Gabie sedang membuat syal
Burung merpati terbang lepas
Burung dara memakan roti
Jadi anak janganlah malas
Sudah tua menyesal nanti
(Pantun yang dibawakan Gabie dalam acara Ngada Edu-Culture Fair 2014)

“Saya suka membuat syal. Ibu guru yang mengajari bikin syal,” ujarnya sambil menunjuk hasil kerajinannya yang terpajang dilemari sekolah.
Tangan terampilnya ini terus merajut merampungkan tugasnya membuat syal yang sering dibawa dalam pameran. Biasanya ia mampu menyelesaikan satu syal dalam empat hari. Hasilnya tidak hanya cantik, namun syal istimewa yang dihasilkan dari tangan anak luar biasa.
Selain syal, kata Gabie hasil merajutnya juga banyak dijadikan taplak meja, tas, topi, atau kerajinan lain. Beberapa hasil karya anak SLB ini sering menarik minat orang untuk membelinya. Kerajinan ini merupakan satu dari banyak hiburan yang membuat Gabie tetap ceria menjadi anak luar biasa.
Sepulang sekolah ia tidak langsung makan siang atau beristirahat, namun rutinitas telah mengajarkannya untuk menyelesaikan tugas terlebih dahulu.
“Pulang sekolah cuci piring dulu setelah itu baru makan siang. Kalau sudah selesai semua baru istirahat,” ujarnya.
Dari rutinitas yang melekat pada diri Gabie menjadikannya pribadi yang disiplin dan penuh percaya diri. Anak yang tidak suka membeli jajanan bocah di luar rumah ini mengaku suka dengan semua makanan. Yang ada di depannya itulah yang dimakan.
Gabie mini berusaha memanfaatkan semua waktunya untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat. Blandina Owa, Guru SLB N Bajawa mengatakan selain hobi membaca buku Gabie menyisakan waktu di sekolah untuk merajut atau membuat kerajinan lain.
“Kelak keahlian yang mereka miliki akan berguna di masa depan,” ujarnya. (*)


 dimuat di Harian Pagi SatelitPost

Keutamaan Puasa Arafah

ilustrasi 
Setiap mendekati hari raya Idul Adha ibu saya selalu mengingatkan untuk berpuasa. Katanya puasa arafah, dimana saudara kita yang sedang menjalankan ibadah haji pada hari itu juga sedang menjalankan wukuf di padang Arafah. Saya dapati dari berbagai sumber, bahwa puasa Arafah mengandung banyak keutamaan. Insya Allah apabila dilakukan dengan penuh keikhlasan kita termasuk golongan orang-orang yang beruntung.
Keutamaan segala amal yang diharapkan umat manusia adalah terhapusnya dosa. Begitu juga dengan keutamaan yang terkandung dalam puasa arafah yaitu dapat menghapus dosa. Sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:

سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ
Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa hari Arafah, beliau menjawab, “Puasa itu menghapus dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun berikutnya.” (HR. Muslim)
Selain itu puasa arafah juga mengandung keutamaan bagi umat manusia sebagai pembebasan dari api neraka. Sebagian ulama menjelaskan bahwa pembebasan dari neraka pada hari Arafah diberikan Allah bukan hanya kepada jamaah haji yang sedang wukuf, melainkan juga untuk kaum muslimin yang tidak sedang menjalankan haji. Terlimpahkannya ampunan Allah terhadap dosa selama dua tahun melalui puasa Arafah sangat terkait dengan keutamaan kedua ini.

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ
“Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah hari Arofah. Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?” (HR. Muslim)
Selanjutnya, kemustajaban doa di Puasa Arafah. Secara umum doa orang yang berpuasa akan dikabulkan oleh Allah, insya Allah. Ditambah lagi dengan keutamaan waktu hari Arafah yang merupakan sebaik-baik doa pada waktu itu, maka semakin kuatlah keutamaan terkabulnya doa orang yang berpuasa Arafah pada hari itu.

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
“Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arafah. Dan sebaik-baik yang kuucapkan, begitu pula diucapkan oleh para Nabi sebelumku adalah ucapan “Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadiir (Tidak ada Ilah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. MilikNyalah segala kerajaan dan segala pujian, Allah Maha Menguasai segala sesuatu).” (HR. Tirmidzi, hasan)

Niat Puasa Arafah
نويت صوم عرفة سنة لله تعالى
 “ Saya niat puasa Arafah , sunnah karena Allah ta’ala.”
Bismillah, semoga puasa kita tidak hanya mengharap keutamaan yang terkandung di dalamnya tapi benar-benar ikhlas karena Allah ta’ala.
Selain itu, memang hari-hari pada sepersepuluh bulan Dzulhijjah adalah hari-hari yang istimewa untuk menjalankan ibadah seperti puasa. Abnu Abbas RA meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda:

مَا مِنْ أيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبَّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِيْ أَياَّمُ اْلعُشْرِ قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ! وَلَا الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ إلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهُ فَلَمْ يَرْجِعُ مِنْ ذَلِكَ شَيْءٌ
Diriwayatkan Rasulullah SAW bersabda: Tidak ada perbuatan yang lebih disukai oleh Allah SWT, dari pada perbuatan baik yang dilakukan pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: Ya Rasulallah, walaupun jihad di jalan Allah? Rasulullah bersabda: Walau jihad pada jalan Allah kecuali seorang lelaki yang keluar dengan dirinya dan harta bendanya, kemudian tidak kembali selama-lamanya atau menjadi syahid. (HR Bukhari)
Bagi kaum Muslimin yang mempunyai tanggungan puasa Ramadhan juga disarankan untuk mengerjakannya pada hari Arafah ini, atau hari-hari lain yang disunnahkan untuk berpuasa. Maka ia akan mendapatkan dua pahala sekaligus, yakni pahala puasa wajib (qadha puasa Ramadhan) dan pahala puasa sunnah. :

يُعْلَمُ أَنَّ اْلأَفْضَلَ لِمُرِيْدِ التََطَوُّعِ أَنْ يَنْوِيَ اْلوَاجِبَ إِنْ كَانَ عَلَيْهِ وَإِلَّا فَالتَّطَوُّعِ لِيَحْصُلَ لَهُ مَا عَلَيْهِ
Diketahui bahwa bagi orang yang ingin berniat puasa sunnah, lebih baik ia juga berniat melakukan puasa wajib jika memang ia mempunyai tanggungan puasa, tapi jika ia tidak mempunyai tanggungan (atau jika ia ragu-ragu apakah punya tanggungan atau tidak) ia cukup berniat puasa sunnah saja, maka ia akan memperoleh apa yang diniatkannya.
Adapun berpuasa pada hari Idul Adha (10 Dzulhijjah) dan hari-hari tasyrik (11, 12 dan 13 Dzulhijjah) adalah diharamkan berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Umar ra:
Bahwasanya Rasulullah SAW melarang berpuasa pada dua hari, yaitu ‘Eid al-Adha dan ‘Eid al-Fitr. (Hadith Riwayat Imam Muslim, Ahmad, an-Nasa’ie, Abu Dawud)
Serta hadith yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra: Rasulullah SAW telah mengirimkan Abdullah Ibn Huzhaqah untuk mengumumkan di Mina: “Kamu dilarang berpuasa pada hari-hari ini (hari tasyrik). Ia adalah hari untuk makan dan minum serta mengingati Allah.” (Hadits Riwayat Imam Ahmad, sanadnya hasan). Ulama Syafi’iyyah membenarkan bahwa berpuasa pada hari tasyrik hanya untuk keadaan tertentu seperti bersumpah, qadha puasa di bulan Ramadhan serta puasa kifarah (denda).


*dari berbagai sumber 

Minggu, 28 September 2014

Kuduran Budaya Pesta Rakyate Wong Wanayasa

Ora kudu mangan sega beras
Sega jagung ya enak
Warga menyaksikan bentang ondol sewu meter

Sepenggal lagu yang dinyanyikan masyarakat Desa Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara saat peringatan Kuduran Budaya, Sabtu (27/9). Acara yang digawangi pemuda desa setempat yang tergabung dalam Sendawa (Seni Pemuda Wanayasa) ini sudah berlangsung sejak hari Minggu lalu.
Ishom Abdulloh, Ketua penyelenggara mengatakan digelarnya kegiatan ini mempunyai makna kegotongroyongan bagi masyarakat desa setempat. Karena semua acaranya melibatkan masyarakat mulai dari anak-anak sampai orang dewasa.
Pada minggu (21/9) lalu yang sekaligus hari pertama Kuduran Budaya digelar turnamen voli. Hari kedua dilanjutkan gelaran pacuan kuda lumping, dan hari ketiga karnaval dengan mengangkat tema sarung untuk pelajar dan umum. Sunaryo, juri karnaval mengatakan peserta dari kategori pelajar berjumlah tiga belas kelompok dan tujuh kelompok sisanya dari masyarakat umum.
“Mereka kreatif membuat kreasi dari sarung,” kata dia.
Selanjutnya pada hari keempat diadakan beberapa acara sekaligus mulai dari upacara pencabutan ketela di Desa Dawuhan, jelajah desa, dan apresiasi pelajar. Ini bertujuan untuk mengenalkan keunikan yang dimiliki Desa Wanayasa. Sedang ketela pohon yang telah dicabut kemudian diolah untuk dijadikan ondol, makanan khas desa setempat.
Ondol bagi masyarakat setempat memang merupakan camilan biasa yang siapa pun bisa menikmatinya, namun makanan berbentuk bulat kecil ini akan menjadi istimewa saat dinikmati bersama masyarakat satu desa. Sendawa mengcovernya dalam gelaran bertajuk bentang ondol sewu meter.
“Bentang ondol sewu meter dimulai dari pertigaan Desa Wanayasa sampai Desa Tempuran. Saking ramainya penonton jadi kami belum memastikan panjangnya, jadi kami menyebut panjangnya tak terhingga,” kata Ishom.
Penganan khas ini dihasilkan dari empat kuintal ketela pohon yang diolah oleh para ondolers dan dipasang pada seribu tusuk dari bambu. Kemudian dibentangkan oleh 660 sang pembentang yang merupakan siswa dari beberapa sekolah di Kecamatan Wanayasa. Ishom mengatakan sang pembentang adalah siswa dari SMP Negeri 1 Wanayasa, SMP Negeri 4 Wanayasa, MTs Ma’arif Jatilawang, MTs Muhammadiyah Wanayasa, SMK N 1 Wanayasa, dan SMK Darunnajah.
Usai bentang ondol dinikmati seluruh masyarakat yang hadir, kemudian dilanjutkan kegiatan makan tumpeng sega jagung bersama yang dikirim dari tujuh belas desa di Kecamatan Wanayasa. Hadir dalam acara itu Wakil Bupati Banjarnegara Hadi Supeno, Staf ahli Bupati Kabupaten Banjarnegara, Camat Wanayasa, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Banjarnegara, Kapolsek Wanayasa, dan para kepala desa.
Hadi Supeno dalam sambutannya mengharapkan acara kuduran budaya semacam ini dapat dilestarikan. Ia juga berharap pada tahun 2015 mendatang acara ini masih dapat terlaksana untuk dipromosikan ke luar kota sebagai keunggulan budaya yang dimiliki Banjarnegara.
“Selamat menikmati sega jagung untuk seribu orang yang hadir,” ujarnya sambil ikut menikmati sajian tumpeng sega jagung.
Pada hari yang sama juga akan digelar malam inagurasi Kuduran Budaya, berbagi mimpi dalam tembang, puisi tari dan dongeng di kebun budaya. Ini sekaligus malam puncak dari serangkaian acara yang digelar. Sedang esok hari akan ditutup dengan gelaran embegan di tempat yang sama. (*)


Senin, 22 September 2014

Kerinduan Di Kaki Ragajembangan

Gunung Ragajembangan 

JIKA ada yang menyukai pegunungan, datanglah ke kampung halamanku. Di sana ada gunung yang menjulang tinggi, indah, bak lukisan yang baru saja diselesaikan dan siap untuk dipamerkan. Kampungku berada tepat di kaki Gunung Ragajembangan, Desa Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Kalau ingin menyaksikan air terjun di gunung ini aku tinggal keluar rumah dan mendengarkan desir airnya tanpa terhalang oleh sebatang pohon pun. Air terjun turun seperti gadis kecil pemalu tetapi selalu riang. Ia mengalir ke seluruh rumah penduduk untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.
Saat hujan turun, aku paling suka duduk dekat jendela sambil melipat tangan di dada. Dari jendela tampak dinding-dinding dan atap rumah yang sederhana mewakilkan nuansa pedesaan yang sejuk dan asri. Kulayangkan pandangan ke luar rumah sambil menyimak ketukan air yang tempias ke kaca. Tahun lalu aku merasakan kesejukan yang luar biasa ini dikampung halamanku. Tapi sekarang aku berada di suatu tempat yang tanahnya kering dan jarang sekali turun hujan, tanah Flores. Saat ini pula aku sangat rindu Wanayasa, kampung halaman yang aroma hujannya wangi dan udaranya sejuk.
Lebaran tahun kemarin adalah terakhir kali aku menikmati hujan di kampung halaman. Tepatnya sehari sebelum kami sekeluarga merayakan hari raya Idul Fitri. Hujan yang turun lebat waktu itu mengharuskanku untuk berjibaku dengannya. Beruntung pada hari H pelaksanaan solat Id di lapangan, cuaca sedang bersahabat jadi kami bisa melihat keindahan Wanayasa beserta Ragajembangannya.
Karena cuaca sedang bagus, kami merayakan lebaran dengan menerbangkan balon raksasa yang dibuat oleh para pemuda desa. Kebersamaan begitu terasa di desa ini, khas masyarakat tradisional yang keakrabannya masih sangat kental. Background yang melatarbelakanginya adalah gundukan tanah yang menjulang tinggi dikelilingi deretan pegunungan dan pepohonan yang subur. Gambaran alam ini pula yang mewakilkan kemakmuran tanah yang sudah tergolong dataran tinggi ini.
Keseruan menerbangkan balon bersama warga setempat usai solat Id menyisakan rindu yang saat ini sangat kurasakan. Acara ini menjadi ritual tahunan yang tak pernah ketinggalan setiap tahun. Uniknya balon raksasa ini dapat menyatukan seluruh perbedaan yang melekat dari masing-masing warga. Mempertemukan warga desa yang sebelumnya berpencar di tempat lain untuk mencari nafkah. Ada yang bekerja didesa tetangga, kota tetangga, bahkan di negara tetangga. Hiburan rakyat ini pada akhirnya mengumpulkan kami dalam waktu bersamaan.
Balon raksasa ini diterbangkan dengan bantuan tenaga bahan bakar yang dimodifikasi dengan apik. Sembari menungggu balon diterbangkan, para ibu asyik mempersiapkan hidangan berupa tumpeng dari masing-masing RT. Sedang anak-anak sibuk mengerubungi para pemuda yang sedang bersiap menerbangkan balon. Usai balon melesat mendekati Gunung Ragajembangan, kami berkumpul dan menikmati makan bersama di Lapangan Kertiyasa. Kampung halamanku selain bersahabat juga mengisahkan kenangan tersendiri setiap tahunnya.
Kalau mau melanjutkan perjalanan naik gunung juga tidak sulit. Bisa melalui jalan setapak di desa ini. Beberapa warga disini juga ada yang mempunyai lahan pertanian di gunung. Setiap harinya mereka naik gunung, berangkat pagi dan pulang sore. Membawa bekal yang mereka nikmati digubug (rumah kecil) yang sengaja dibangun di tengah ladang. Alas makannya biasanya menggunakan daun pisang jadi kalau sudah selesai bisa langsung dibuang agar tidak mengotori lingkungan.
Untuk sampai ke kampung halamanku tidaklah sulit. Biar pun desa, lebih tepatnya berada di kaki gunung tapi angkutan umum melaju setiap hari. Kalau dari kota Banjarnegara cukup naik bus sekitar satu jam. Selama perjalanan akan Anda jumpai nuansa kota karena tempat ini masih tergolong sub urban fringe. Tak lama setelah itu barulah udara mulai terasa dingin, di kanan kiri jalan hanya ada pepohonan dan beberapa rumah warga yang jaraknya saling berjauhan. Dingin kian menusuk saat melewati Gunung Lawe yang biasa menjadi destinasi para traveller untuk panjat tebing. Dari jalan nampak gunung batu yang menjulang dan cukup menghibur mata selama perjalanan.

Ini baru setengah perjalanan karena setelah mengikuti alur jalan ini selanjutnya akan dijumpai wisata kolam renang, Paweden namanya. Disini dinginnya semakin menjadi. Nah, barulah setelah itu seterusnya yang dilihat pepohonan rindang saja, namun sesekali akan ada hal yang mengejutkan selama perjalanan. Sejam hampir berlalu sampai Anda menjumpai keramaian tepatnya di perempatan Desa Karangkobar. Namun keramaian ini bukan berarti perjalanan Anda telah sampai. Tak perlu khawatir karena sepuluh menit lagi sampai di Wanayasa. Biasanya angkutan umum akan berhenti beberapa menit untuk mencari penumpang. Barulah di lintasan terakhir akan Anda jumpai lagi wisata kolam renang di tempat sepi yang dikelilingi pepohonan rindang. Meski ini sudah masuk kawasan dataran tinggi yang dingin namun tetap saja ada kolam renang yang ramai setiap hari libur. Terus melintas, nah akhirnya Anda sampai di desa Wanayasa. Meski masih di jalan raya tapi Anda akan melihat langsung gunung yang menjulang tinggi dan langsung terhirup aroma desa yang sejuk, Ragajembangan. (*)



Jumat, 12 September 2014

Menilik Varanus Komodoensis

RAMADAN datang lagi. Kali ini aku menikmatinya di tanah Flores yang kata orang penuh pesona. Dulu aku mengenal Flores hanya dari buku IPS semasa SD, tapi kali ini tidak. Aku berjibaku dengannya selama setahun dan mengunjungi titik-titik tertentu yang menjadi destinasi para wisatawan baik lokal maupun mancanegara. 
Berfoto dengan Varanus Komodoensi di Pulau Komodo
Setahun ditugaskan mengajar di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) membuatku lebih mudah untuk mengenal Indonesia lebih dekat. Meski baru setengahnya tanah Flores yang kujamah tapi setidaknya sudah tertunaikan mimpiku mengunjungi pulau bagian timur di Indonesia.
Ada satu destinasi istimewa yang kukunjungi dari sekian banyak tempat yang ada, Pulau Komodo. Satu titik di Indonesia yang terdaftar sebagai keajaiban dunia. Libur semester genap aku bersama tiga belas teman seperjuangan lain menyeberang dari Labuan Bajo ke Pulau Komodo, tepatnya tanggal 8 Juli 2014.
Tak mudah untuk sampai ke Labuan Bajo yang letaknya ada di ujung barat Flores, karena sekarang aku berdomisili di Riung, Kabupaten Ngada letaknya ada di Flores tengah. Terlebih masing-masing dari kami bertugas di daerah pelosok yang penuh dengan keterbatasan. Untuk bisa menyeberang ke Pulau Komodo kami harus melewati Kabupaten Manggarai Timur, Manggarai Tengah, barulah Labuan Bajo.
Perjalananku kali ini sudah memasuki Bulan Ramadan. Dari awal kami memang berniat menjadi backpacker untuk sampai di titik-titik indah Provinsi Nusa Tenggara Timur ini. Niatan melancong mengunjungi situs warisan dunia UNESCO tertunaikan sudah.
Di Aimere sebelum memulau perjalanan
Sebelumnya kukenalkan dulu personel SM-3T Ngada yang melancong ke Pulau Komodo. Ada Rahmat sesepuh yang kami tuakan, Dimas dan Rifqi backpacker sejati, Eko sang koordinator, Herpry fotografer handal, Anggi si gendut yang memakai syal warna pink, Arif Koordinator SM-3T Ngada, Irsyad yang logatnya sudah mirip orang Flores, Dyah gadis santai yang ikut-ikutan backpacker sepertiku, Septi si empunya kaki SNSD, Yanti yang hobi manjat gunung, Hida remaja pondok yang tomboy, dan Tya bu guru yang narsis tiap ada kamera.


Selasa, 8 Juli 2014
Biasanya usai sahur aku kembali menarik selimut, pagi ini tidak. Kali ini aku menarik tas ransel dan beberapa perlengkapan lain untuk perjalanan yang cukup jauh. Bergegas mengenakan jaket, kaus kaki, slayer, dan sarung tangan. Batok kepala dibungkus dengan helm kemudian menguncinya.
“Sudah siap melakukan perjalanan? mari kita berdoa dulu semoga perjalanan lancar,” kata Eko, koordinatorku.
Akhirnya dengan mantap kami siap melakukan perjalanan setelah sehari sebelumnya gagal gara-gara kekurangan motor. Rahmat kesana-kemari mencari motor sewaan akhirnya berjodoh dengan tukang ojek yang merelakan motornya kami sewa untuk tiga sampai empat hari ke depan. Dapat enam motor sewaan, sedang aku meminjam motor guru yang sedang liburan ke Atambua. Kebetulan selama liburan motornya nganggur bisa kugunakan. Meski tak semua motor terbilang sehat tapi berkat nekat dan pasrah yang sudah melekat dihati kami tetap berangkat.
Perjalanan dimulai dari Aimere, kontrakan Herpry yang sama-sama mengajar di daerah 3T. Sebelumnya kami mengambil posisi melingkar, tepatnya di ruang tamu yang masih berantakan. Kami memanjatkan doa yang dipimpin Rahmat sebagai orang yang dituakan. Usianya memang terpaut beberapa tahun dari kami, tapi ia seperti menjadi muda kembali
“Saya seperti salah komunitas bergabung dengan kalian. Tak apalah yang penting kita liburan ke Pulau Komodo,” ledek Rahmat.
Impianku mengunjungi Loh Liang tempat bersarangnya Komodo akan terwujud. Bersama sebelas teman yang semuanya adalah guru SM-3T Kabupaten Ngada. Liburan kami semoga menyenangkan.
Selepas dari Aimere kemudian memasuki Borong Ibukota Manggarai Barat. Sepuluh kilometer perjalanan masih dalam masa percobaan. Ternyata salah satu motor kami ada yang onar dan harus ganti oli. Berhenti sejenak di sebuah bengkel pinggir jalan. Maklum motor pinjaman ini tidak terlalu sehat untuk perjalanan jauh.
Ting...
Sebuah pesan singkat muncul dari aplikasi BBMku. Seorang teman sesama SM-3T yang kukenal diinstragram berpesan agar kami mampir dirumahnya. Ia berasal dari Malang yang ditempatkan di Manggarai Tengah, Cancar lebih tepatnya. Sambil menunggu motor sehat kembali aku sempatkan membalas pesannya.
Setengah jam berlalu, kami melanjutkan perjalanan masih dengan kecepatan rendah. Mengingat motor-motor kami adalah hasil pinjaman yang tidak terjamin kesehatan mesinnya. Dengan kecepatan yang sedang ini, aku bisa tahu desa-desa yang kami lewati. Masing-masing tidak ada yang mendahului karena memang dari awal kami sudah mengatur siasat berkendara. Kalau ada satu yang bermasalah maka semuanya harus toleran. Disitu aku merasakan kekeluargaan yang sangat erat dari teman seperjuangan.
Perjalanan dari Aimere dan sepanjang Manggarai menjadi lebih menyenangkan. Menyusuri pantai melalui jalan rusak yang menghubungkan kabupaten satu dengan lainnya. Setelah pemandangan laut habis, kemudian digantikan dengan pemandangan di kanan kiri yang berganti menjadi pohon dan perbukitan. Beberaja jam kemudian kami memasuki Ruteng, Ibukota Manggarai Tengah. Tanpa disadari setengah hari diperjalanan. Akhirnya istirahat di Masjid Kubah Hijau Kota Manggarai.
Kembali aku menilik ponsel yang sedari tadi kubiarkan diam. Beberapa pesan singkat mulai bermunculan dilayar datar ini. Salah satunya dari Asis, kenalanku di instragram. Katanya dia menunggu kami di perempatan Cancar.
“Pokoknya kalian harus mampir. Disini ada sawah laba-laba lo,” katanya merayu.
Sampai diperempatan Cancar sudah menunggu seorang pria bertopi dan mengenakan kaus putih. Awalnya aku tak mengenali pria itu. Setelah ia mendekati kami barulah kusadari kalau ia Asis yang baru pertama kali kujumpai. Beberapa kali aku hanya melihatnya di instagram saat ia mengunjungi tempat-tempat indah di Flores sepertiku.
Mampir di Cancar dan mengenal beberapa teman baru dari Malang, sungguh menyenangkan. Serupa wisata rohani yang membasahi jiwa saat bertemu dengan teman seperjuangan di daerah 3T. Tak lama dan tak ada suguhan di rumah mereka, karena kami semua masih bertahan untuk tetap puasa Insya Allah sampai maghrib nanti. Disini cukup mengabadikan cerita dan berfoto dengan mereka SM-3T Ruteng asli Malang.
Di Cancar, penempatan SM-3T teman2 UM
Roda motor kami kembali berputar melintasi jalan beraspal, masih rusak. Sesekali berhenti mengisi bensin sambil mencari sebuah bangunan berkubah yang dinamakan masjid untuk salat ashar. Sedari tadi tak ada masjid yang muncul di depan mata yang ada hanya gereja dan rumah naja (kayu) di pinggir jalan. Kalau tidak yang ada hanya tebing tinggi yang telah longsor. Alhasil jalannya licin, menanjak, dan berkelok tajam.
Hampir setengah enam kami belum salat ashar. Akhirnya berhenti dan bertanya pada penduduk setempat. Katanya masjid ada diujung gang yang beraspal rusak. Harusnya jalan kami masih lurus, kali ini harus belok kiri untuk mendapati masjid. Aku tak percaya kalau orang Flores menunjukkan jalan yang katanya dekat, ternyata masjidnya masih lumayan jauh dan waktu ashar hampir habis.
Masjid yang belum sempurna pengerjaannya ini belum memiliki nama. Katanya hanya ada satu masjid, kalau mau cari lagi harus ke kota. Sambil melepas penat, meletakkan ransel yang sedari menempel di pundak, aku menghembuskan nafas perlahan. Masjid ini letaknya memang di pinggir jalan, tapi di belakangnya membentang sawah yang luas.
Cukup beristirahat dan bergegas kembali ke jalan utama. Perut sudah mulai keroncongan, mungkin mengingatkanku kalau sebentar lagi maghrib tiba. Akhirnya perjalanan kami perlambat untuk mendapati warung makan untuk mencari sajian buka puasa. Jauh-jauh dari Jawa sampai Flores yang didapat tetap saja warung Jawa. Sudah seharian kami diperjalanan. Senja juga mulai menyingsing mengantarkan kegelapan di bumi pertiwi. Ada kepuasan tersendiri, meski perjalanan jauh tapi kami tetap berpuasa.
Perjalanan berlanjut masih ke arah barat. Kali ini jalan rusak tak begitu jelas jadi harus lebih berhati-hati lagi. Yang seharusnya dua jam sudah sampai Labuan Bajo kali ini tiga setengah baru sampai. Apalagi tadi siang diguyur hujan jadi licin oleh lumpur.
Mata sudah mulai lelah dan badan juga terasa lebih berat menahan beban. Mungkin karena kelelahan. Tapi seketika lamanya mataku langsung membelalak melihat gemerlap lampu yang berwarna di kejauhan. Ini seperti di kota tapi lebih romantis dan hangat. Kulihat kapal-kapal menepi ditandai dengan lampu-lampu malam yang tak bersuara.
“Itu pelabuhan sudah kelihatan,” kata Irsyad.
Melihat lampu-lampu itu lelahku mulai terbayar. Meski belum lunas tapi setidaknya sudah berkurang. Tempat ini ramai oleh turis asing dan wisatawan lokal. Teringat belum dapat penginapan segera kami menuju Kodim. Disana ada kenalan yang bisa dimintai bantuan mencari penginapan dan kapal untuk besok pagi nyeberang pulau. Ternyata kenalan Rifqi yang ada di Kodim sedang libur, terpaksa kami mencari penginapan sendiri. Kata orang penginapan yang murah di Hotel Pelangi. Bergegas menuju kesana tanpa memilah tempat yang lain.
Rifqi dan Eko meloby hotel dan ditetapkan harga lima puluh ribu per kepala. Kami ada dua belas kepala akhirnya memesan empat kamar. Di hotel kami juga berkenalan dengan guru SM-3T yang ditempatkan di Kupang. Dapat kenalan baru lagi teman seperjuangan. Tengah malam baru aku bisa memejamkan mata.

Rabu, 9 Juli 2014
Bangun kesiangan akhirnya hanya bisa sahur sepotong roti saja. Tapi niat berpuasa masih tertanam kuat, semoga sampai maghrib nanti. Semalam Rifqi sudah memesan kapal jadi pagi harinya kami tinggal menuju ke pelabuhan.
Di kapal menuju Pulau Komodo
Matahari pagi masih hangat, kami menunggu kapten kapal untuk menyeberang Pulau Komodo destinasi utama liburan kali ini. Akhirnya pukul 08.00 WITA kapal meninggalkan pelabuhan. Pandangan menyapu semua tepi yang dikelilingi pulau. Di baliknya langit biru yang masih meneduhkan menjadi penyempurna keindahan satu titik di Indonesia. Empat jam di kapal kami menghalau beberapa pulau kecil seperti Pulau Bidadari, Rinca, dan pulau-pulau lain yang belum kukenal satu per satu.
Setelah mendarat di dermaga Pulau Komodo kami disambut oleh para ranger yang siap memandu perjalanan kami. Alih-alih agar perjalanan aman dari serangan binatang buas yang dilindungi ini. Kami memilih rute midle way yang dipandu Mas Gugus dkk sebagai tim ranger. Mereka membawa kayu yang bagian ujungnya berbentuk V. Katanya kalau-kalau ada Komodo yang menyerang maka senjata itu yang akan langsung beraksi menjepit leher hewan spesies kadal ini.
Bersama Varanus Komodoensis
Belum berjumpa dengan komodo terlebih dahulu kami disuguhi rusa-rusa liar yang sedang berjemur. Perjalanan dilanjutkan sampai akhirnya kami melihat seekor binatang yang sedang berteduh di bawah pohon. Dia sendirian. Kulitnya mirip dengan warna tanah yang kering. Kata Mas Gugus saat itu sedang musim kawin hewan buas ini, jadi mereka tidak banyak bermunculan.
Pelan-pelan kami mengabadikan gambarnya secara bergiliran. Hewan ini seperti berpose saat kami menjepretnya, tapi tetap harus ekstra hati-hati. Meski penglihatannya tidak jelas, namun Komodo mengandalkan indera penciuman untuk memburu mangsanya. Kalau ada bau darah sedikit saja ia sudah langsung menyerang. Akhirnya tertunaikan sudah berfoto langsung dengan binatang yang menjadi satu keajaiban dunia ini. Meski pun hanya melihat satu ekor saja.
Hari yang sama kami melanjutkan penyeberangan ke Pulau Pink yang kata orang wajib dikunjungi kalau liburan disini. Kapal kami terpaksa tak bisa menepi karena laut sedang surut. Akhirnya kapal kecil menjemput kami di zona neritik Pink Beach. Menghabiskan waktu disini, mengisi botol minuman dengan pasir pink, dan akhirnya kami menyudahi snorkeling di pink beach.
Liburan kami sudahi di dua pulau ini. Kapal kembali menuju Labuan Bajo pada sore hari. Kami masih menahan diri untuk berpuasa. Alhamdulillah sampai juga waktu maghrib saat masih berada di kapal. Aku menyaksikan langsung matahari tenggelam menandakan kalau waktu berpuasa sudah habis.
“Nikmat sekali buka puasa di kapal dengan makanan seadanya,” kata Rifqi.
Pihak kapal hanya menyediakan air panas satu termos, teh, dan gula. Sedang kami hanya membawa air mineral dua botol besar dan beberapa roti sisa sahur tadi. Tetap nikmat karena dinikmati bersama-sama.
Sampai di pelabuhan kami menyegerakan diri menuju hotel dan bersih-bersih diri. Menyegerakan untuk mencari santapan buka puasa yang sebenarnya. Setelah ituah barulah free time untuk masing-masing, menyiapkan tenaga untuk kembali ke Ngada besok pagi. Sampai jumpa Komodo, sampai jumpa Pink Beach, sampai jumpa Labuan Bajo kelak aku aku akan mengunjungimu lagi. (*)

oleh Fitri Nurhayati

Indonesia Bangga

Dulu cita-citaku ingin jadi presiden
Berpakaian rapi, mengenakan jas, dan berdasi
kemana pun pergi selalu dikawal bodyguard
setelah dipikir ulang menjadi presiden mungkin hidupnya tidak tenang
aku harus mengurus negara
Akhirnya cita-citaku berganti ingin jadi dokter
Menyembuhkan orang sakit dan memberi suntikan obat
tapi sayang kuliah di kedokteran itu mahal
kalau pun ada beasiswa hanya untuk anak-anak yang pintar
kembali kuurungkan mimpi kedua
Cita-citaku baru lagi, kali ini ingin jadi tentara
Angkat senjata untuk membela negara
tapi fisikku tak memenuhi syarat
tidak kekar, tidak membaja, tidak pula siap untuk selalu push up
akhirnya kuurungkan mimpi ketiga

Masih ada cita-cita lain, kali ini aku hanya ingin kebebasan
gagal jadi presiden, dokter, dan tentara membuatku pasrah
aku ingin jadi orang bebas saja yang bisa keliling Indonesia
Tapi kalau jadi orang bebas darimana aku dapat uang untuk bisa keliling Indonesia
Ah, memikirkan cita-cita memang tidak ada habisnya
tanganku tak sampai untuk menjangkau banyak mimpi yang melenakan
Akhirnya cita-citaku menjadi sangat sederhana, jadi guru
mungkin akan lebih mudah untuk kujangkau
kulihat tetanggaku yang jadi guru hidupnya enak
berangkat pagi, siang sudah pulang
gajinya juga mungkin akan cukup untuk membawaku keliling Indonesia
Semesta sepertinya mendengar mimpiku yang satu ini
alam bertasbih seperti tasbihku pada tuhan di malam hari
jadilah aku seorang guru yang ingin hidup enak dan bisa keliling Indonesia
Suatu hari alam menghembuskan angin segar
mengantarku mengunjungi titik-titik indah di Indonesia
aku dikirim menjadi guru di pulau seberang yang penuh keterbatasan
kudapati disana ada calon presiden yang bijaksana, calon dokter yang pintar, 
calon tentara yang kuat, ada juga calon guru yang sederhana
Kurasakan menjadi guru pun ternyata tak mudah
Aku tak lagi memikirkan gaji dan kerja yang nyaman
tapi bagaimana caraku bisa memintarkan anak orang
Ada satu yang menjadi kebanggan
aku bisa mengantarkan tunas-tunas bangsa meraih mimpi
menjadi presiden, dokter, tentara,
dan akan banyak orang sukses lainnya yang lahir dari tanganku
Perlahan mimpi keliling Indonesia tertunaikan
Malahan aku tak hanya mengenal bahwa negeri ini indah
tapi negeriku punya banyak tunas yang masih terpendam
dan tugasku untuk menumbuhkan
Tempat baru mengajarkanku tentang perjuangan meraih mimpi,
tentang pengabdian kepada negeri, tentang keikhlasan untuk berbagi
Ah, ingat guru ingat kamu
aku dan kamu akan membuat bangga Indonesia

Riung, 13 Agustus 2014
Pipit Nurhayati