Rabu, 09 Desember 2015

Kesetiaan Shinta Pada Rama dalam Tari Kecak

Pertunjukan Tari Kecak di Stage Chandra Budaya, Gianyar, Bali (6/12).
Foto: Imas Kurnia

Cak...cak...cak... Begitu bunyian yang keluar dari mulut para penari Kecak. Siapa yang tak kenal tarian ini? selain hits di iklan komersil dalam negeri, tarian khas Bali ini juga sering dikenalkan oleh guru-guru di sekolah dasar. Uniknya, meski meriah saat dimainkan namun tarian ini sama sekali tidak mengandalkan alat musik. Kemeriahannya hanya berasal dari suara ‘cak-cak’ para penari. Mereka duduk melingkar sambil mengangkat kedua tangan ke atas. Pakaian seragamnya hanya setengah badan yaitu kain kotak-kotak yang dikenakan seperti songket, sedang kepalanya diikat udeng khas Bali.
Saya berkesempatan menyaksikan langsung Tari Kecak di Stage Chandra Budaya, Gianyar, Bali (6/12). Pulau Dewata ini kami pilih sebagai destinasi utama untuk mengisi liburan semester genap PPG SM-3T UNY 2015. Bercerita tentang Pulau Bali, seolah semua objek wisata tumplek blek disini. Mulai dari pantai, gunung, dataran tinggi, kebudayaan, religi, hingga wisata belanja tersedia semuanya.
Kali ini saya akan mengulas tentang kebudayaan, khususnya Tari Kecak. Tarian yang sudah sangat familiar bagi masyarakat Indonesia dan informasinya pun bisa didapatkan di banyak media. Kecak adalah tarian sakral Sang Hyang, yaitu seseorang yang kemasukan roh untuk bisa berkomunikasi dengan para dewa atau leluhur yang sudah disucikan. Para penari menjadi media penghubung para dewa atau leluhur untuk menyampaikan sabdanya. Pada tahun 1930-an mulailah disisipkan cerita Epos Ramayana dalam tarian ini.
Ramayana, cerita rakyat yang mengisahkan akal jahat Dewi Keyayi, ibu tiri Sri Rama putra mahkota Kerajaan Ayodya. Sri Rama diasingkan dari istana ayahandanya Sang Prabu Dasarata. Ia pergi ke hutan Dandaka bersama sang istri Dewi Shinta dan adik laki-lakinya yang setia menemani. Keberadaan mereka di hutan diketahui oleh seorang Raja yang zalim, Prabu Dasamuka atau biasa dikenal dengan Rahwana.
Sang Raja pun terpikat dengan kecantikan Dewi Shinta. Singkatnya, Rahwana membuat rencana untuk menculik sang dewi dengan dibantu patihnya, Marica. Dengan kesaktikan yang dimiliki, Marica menjelma menjadi seekor kijang emas yang cantik dan lincah. Rencana jahat sang Raja akhirnya berhasil memisahkan Shinta dan Rama. Sang dewi kemudian dibawa kabur oleh Rahwana ke negeri Alengka Pura. Dengan ditemani Trijata, keponakan Rahwana, Sita meratapi nasibnya di taman istana.
Datanglah Hanoman, kera putih utusan Rama untuk menolong Shinta. Dengan merencanakan suatu tipuan akhirnya Rama berhasil membebaskan Dewi Shinta dengan bantuan bala tentara kera di bawah Panglima Sugriwa. Mereka berhasil mengalahkan tentara Rahwana yang dipimpin Meganada.
Adegan ini memperlihatkan Rama di medan perang melawan Meganada, putra Rahawana yang menembak Rama dengan panah saktinya. Tiba-tiba ia berubah menjadi seekor naga dan langsung melilit Rama. Muncullah Sugriwa, Sang Raja Kera menolong Rama.
Puncak pertunjukkan ini diakhiri dengan kemenangan di pihak Rama yang berhasil membawa Shinta kembali pulang dengan rasa bahagia. Cerita ini diadopsi dari kisah pewayangan Ramayana, namun tetap menarik disajikan dalam tarian khas Pulau Dewata. Tetap menghibur dan mendobrak khasanah budaya Indonesia, bukan? (*)



:: Berwisata ke Bali sekaligus reportase untuk konsumsi pribadi sungguh menarik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar