Jumat, 12 Juli 2013

Rindu Perjumpaan Kita

PERJUMPAAN kita seharusnya sudah memasuki malam kelima. Tapi apa daya aku hanya menjumpaimu pada malam pertama saja. Malam itu aku dengan giat mempersiapkan diri untuk menyambutmu sebelum fajar menyingsing. Belum genap semalam aku menunggu, akhirnya kita berjumpa pada satu waktu, tepatnya sepertiga malam terakhir.

Aku sedikit berbeda dengan orang-orang disekililingku yang menjumpaimu esok hari. Aku ingin lebih awal, karena sudah tak sabar lagi setelah setahun lamanya kita tidak berjumpa. Selain itu juga bukan tanpa alasan, karena aku meyakini bahwa memang sudah benar-benar waktunya aku menyegerakan pertemuan denganmu.Sebagian orang mengatakan bahwa hilalNya sudah terlihat di ufuk barat yang artinya aku harus berjumpa denganmu dengan segera.

Tak butuh waktu lama untuk menghabiskan waktu bersamamu, karena aku benar-benar menikmatinya. Perjumpaan yang begitu mesra selayaknya wanita bertemu dengan kekasihnya di pelataran malam yang remang. Apalagi hanya aku dan kamu yang ada di ruangan ini. Memerangi kesunyian karena ini adalah teman kita yang ada sekarang. Teman yang akan selalu ada disaat keramaian tak mampu lagi datang di tengah-tengah hiruk pikuk takbir yang saling bersautan.

Yah, ternyata sudah waktunya kita berpisah. Bukan berarti perpisahan sesungguhnya, kita harus pergi dari waktu ijabah yang sangat istimewa ini. Sudah tidak lagi sepertiga malam terakhir, sekarang tinggal menjumpai waktu subuh yang tak kalah indah untuk dinikmati.

Pagi itu, memang benar-benar indah. Aku menyadari bahwa pagi ini memang sebuah kenikmatan yang luar biasa. Perutku tak lapar, mataku tak mengantuk, bahkan badan ini rasanya segar sekali. Dihinggapi semangat bersama sang pagi yang membawa cerita tentang burung-burung kecil yang terbang di setiap musim. Mereka tak pernah lelah mengepakkan sayapnya, bertaburan di awan, berkicauan menyanyikan cerita pagi yang telah siap menghadapi hari yang sedikit menantang.

“Hari ini akan menjadi sangat istimewa. Biasanya kalau pagiku sudah semangat akan berdampak pada perjalanan panjang untuk melewati hari ini. Semangat harus dijaga sampai sore nanti saat berbuka. Kalau mau bermalas-malasan nanti malam saja,” ujarku dalam hati.

Setiap harapan memang akan selalu terwujud meskipun sedikit. Karena nyatanya tak genap sehari aku bisa menjaga semangat ini. Akhirnya aku makan, minum, dan lepas sudah serangkaian rencana yang sudah kurancang sejak semalam. Rencana berjumpa lagi denganmu malam nanti, rencana menikmati seteguk air putih untuk menandakan syukurku padaNya, dan rencana lain untuk mengawali perbaikan diri selama sebulan ini.

Ah, artinya aku harus menunggu seminggu lagi untuk berjumpa denganmu. Rasanya pertemuan semalam yang begitu istimewa sangat sia-sia. Sebenarnya ini adalah sebuah keringanan bagiku untuk tidak menjalankan perintahNya. Untuk sejenak terbebas dari rutinitas umat muslim tiap kali berjumpa mengabsen di hadapan Tuhannya.

Aku akan merindukan masa-masa itu, dimana Dialah satu-satunya pendengarku yang paling setia. Dia satu-satunya tempat paling nyaman untukku mengadu, dan tentunya hanya Dia yang tahu akan dijadikan apa aku ini.

Sekarang sudah memasuki malam kelima, aku masih tetap tak bisa menjumpaimu. Rasanya Dia menjauh, sedang tak ingin dekat denganku. Baik pagi, siang, malam, seperti malam, ah yang jelas setidaknya tiap lima waktu aku absen dulu berjumpa denganNya. Saat ini Bulan Ramadan, pasti Dia lebih mesra ketimbang bulan-bulan sebelumnya. Kata orang selama sebulan ini Dia membuka pintu maaf lebar-lebar, banyak permintaan umatNya yang dikabulkan, bahkan Dia juga mengkhususkan diri untuk berjumpa dengan umatNya yang sengaja menunggu pada sepertiga malam.

Sudahlah, aku masih tetap merindu pertemuan denganmu. Kalau sekarang kita jauh, maka tunggulah, beberapa hari lagi kupastikan akan datang. Sekarang Dia membiarkan aku berjalan di daratan seperti kaki menapak di tanah basah yang merendah, agar aku terus merendah di hadapanNya dan umat yang lain. Dia bebaskan aku berenang di air agar aku bisa merasakan ketenangan untuk kembali mensucikan diri saat berjumpa denganNya nanti. Dan dibiarkannya aku terbang di langit layaknya burung liar agar aku dapat memilih mana tangkai kuat yang dapat kuhinggapi. Terimakasih pagi... Aku rindu perjumpaan ini.


Purwokerto, 13 Juli 2013
02.10 WIB


Tidak ada komentar:

Posting Komentar