Minggu, 06 Oktober 2013

17 Islands Riung NTT

Kelelawar Island

Dalam perjalanan nyebur dulu nonton taman laut

Rutong Island
Kalong Island
Rutong Island

Jumat, 04 Oktober 2013

Bersentuhan dengan Laut Flores


AKU tidak pernah memikirkan untuk menulis sesuatu yang indah tentang Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan berlatar pantai. Dalam benakku hanya ada gambaran tentang kondisi sekolah yang memperihatinkan dan membutuhkan sedikit sentuhan mesra dari tangan-tangan generasi muda. Sebab dari cerita SM3T angkatan sebelumnya pulau yang ada di Indonesia timur ini sungguh miris, meski tak sedikit pula yang bercerita tentang keindahan alam yang terkandung di dalamnya. Mengingat niatan awal saat meninggalkan tanah Jawa, tujuanku ke provinsi yang ada di Pulau Flores ini adalah untuk menjadi pendidik, sebagai guru bantu yang ditugaskan Dikti kepada kami.
Septi, Pipit, Irsyad, Mala, dan Azifa
Belum genap sebulan aku tinggal di Flores, ada banyak bisikan mesra dari penduduk setempat yang mengharuskanku untuk mengunjungi beberapa tempat indah di pulau ini, termasuk di dalamnya adalah 17 Pulau Riung. Mulai dari rekan guru di sekolah, muridmu, tetangga baik yang dekat maupun jauh menceritakan tentang pulau di seberang Dermaga Nangamese ini. Tak sabar ingin membuktikan langsung surganya Flores, aku beserta rombongan mendatanginya, Minggu (29/9).
Masih terbilang pagi saat kami memulai perjalanan dari Dermaga Nangamese menuju pulau yang paling dekat, yaitu Pulau Kelelawar. Kapal motor berwarna putih bertuliskan EPEN mulai meninggalkan dermaga. Kami sengaja berangkat saat fajar belum menyingsing. Tujuannya agar cuaca belum terlalu panas dan alam juga masih sangat bersahabat. Harapan kami waktu itu cukup sederhana, semoga hari ini menjadi Minggu yang menyenangkan.
Dari bibir dermaga sudah terlihat hamparan pulau yang membentang sejauh mata memandang. Bentuknya memang nampak sederhana, namun keindahan sederet daratan diseberang laut itu didukung dengan rona siluet berlatar langit kebiruan yang masih remang-remang. Begitu juga dengan permukaan Laut Flores yang nampak sangat tenang dengan selimut angin pagi yang kian berhembus.
Flores pagi itu membuat aku, Azifa, Septi, Mala, dan Irsyad tak sabar untuk menginjakkan kaki di 17 Pulau. Tak lupa juga ditemani rekan guru dari SMP Negeri 1 Riung yang merupakan kenalan baru kami, Ibu Masran dan Ibu Ami namanya. Meski mereka belum menikah dan umurnya tidak jauh berbeda dengan kami namun sapaannya akrabnya tetap diawali dengan ibu karena kami terbiasa memanggil dengan sebutan ibu guru di sekolah.
Baru beberapa mil meninggalkan daratan Nangamese mata kami sudah dimanjakan dengan panorama alam yang berlatar langit dan air yang tenang. Seandainya aku bisa melukisnya maka tak butuh banyak warna untuk memperindah objek ini. Hanya warna dasar biru, kemudian disempurnakan dengan hijau, hitam, dan sedikit polesan putih atau lain agar lukisanku lebih berbicara.
Dari 17 pulau yang berjajar rapi dan jaraknya berdekatan yang pertama kami kunjungi adalah Pulau Kelelawar. Di seberang sana terlihat seperti dedauan berwarna hitam menempel diranting pohon. Kapal kami sudah mulai mendekat dengan pepohonan rindang itu. Belum usai menyaksikan keindahan pulau yang dihuni ribuan kalong ini kapal motor yang kami tunggani berjalan lebih lamban. Kata Ombing, sang komandan, kapal sengaja berjalan lebih pelan agar kami bisa melihat keindahan taman laut yang ada disekeliling kapal.
Kulambaikan tangan mengarah ke air sambil sesekali membasahinya. “Sepertinya puas sekali kalau aku bisa menyaksikan langsung taman laut tidak hanya dari kapal saja. Mumpung sedang ada di laut, tubuhku harus basah dengan air Flores,” aku hanya bisa menggerutu dalam hati. Kami terus melanjutkan perjalanan menuju kalong-kalong yang masih mendekap pepohonan.
Seperti sedang beristirahat, mereka nampak tenang dan pastinya enggan untuk diganggu. Tapi kalau didiamkan saja kami tak bisa melihat keindahan ribuan kalong yang tinggal di pulau ini. Kapal semakin mendekat dan mengarah ke tanaman bakau yang mengelilingi pulau ini. Ombing berteriak kencang membangunkan hewan yang suka tidur di siang hari ini. Tempatnya terbuka, di laut bebas sehingga suara Ombing juga terdengar lantang. Tidak menggema atau bahkan terganggu dengan kebisingan suara Ombing kecuali ribuan kelelawar ini. Mereka terbang sejenak meninggalkan peraduannya masing-masing. Inilah kesempatan kami untuk mengabadikan mereka meski hanya dengan kamera poket sederhana. Setidaknya bisa menjadi barang bukti untuk kami ceritakan dengan keluarga di kampung halaman bahwa Flores memang indah, mempesona, dan luar biasa.
Tak ada daratan yang nyaman untuk kami singgahi di Pulau Kelelawar, terpaksa kami tidak turun dari kapal. Paling pol kami berdiri di ujung kapal dan berfoto dengan background langit biru, dihiasi tanaman bakau yang keindahannya disempurnakan dengan ribuan kelelawar beterbangan.
Tak lama kami berhenti di pulau kecil ini, karena perjalanan harus terus dilanjutkan.
Saat perjalanan menuju pulau berikutnya ternyata Ombing menyuruh kami untuk terjun langsung ke laut. Memang tidak dalam ini terbukti dengan tanaman dan ikan-ikan kecil yang terlihat menyambut kedatangan kami. Mereka menampakkan diri dibeningnya air laut yang sangat transparan ini. Oh betapa segarnya saat melihat Ombing terjun bebas dari bibir kapal. Aku tak ingin kalah mencicipi asinnya laut bebas yang kaya akan keindahan alam ini. Akhirnya dengan mengenakan pelampung aku juga ikut terjun membasahi diri.
Nyebur laut bebas dari Pulau Kalong ke Rutong
Untuk yang pertama kalinya aku terjun ke laut bebas dan bercengkerama langsung dengan penghuninya. Asin yang amat sangat dan mata ini langsung terasa pedih padahal aku belum melihat dasar laut, ah akibat lupa mengenakan kacamata. Setelah seorang teman memasangkan kacamata barulah aku bisa mengintip dengan jelas bintang laut dan ribuan tanaman lain yang sangat terlindungi keberadaannya. Tak lupa terlihat juga ikan kecil yang tubuhnya bercorak indah dan bentuknya unik nan beragam.
Flores, taman lautmu sungguh indah. Mengenalkanku pada rasa asin yang teramat dan segarnya air yang membasahi tubuh. Aku sudah bercengkerama langsung denganmu dan ribuan penghunimu yang lain, puas rasanya.
Kapal motor terus berlayar, kini perjalanan kami menuju Pulau Rutong atau biasa dikenal dengan pasir putihnya. Belum sampai di pantai mata ini kembali disuguhi dengan keindahan alam yang sangat mempesona. Kali ini warna alam memang sangat sederhana namun memanjakan mata. Hanya warna pasir putih yang membentang disepanjang pantai dan beberapa pepohonan kering yang sebagian telah meranggas. Airnya nampak jernih dengan perubahan warna yang terlihat semakin kontras. Mulai dari yang paling dekat dengan kapal motor kami warnanya sangat biru, menandakan bahwa kedalamannya masih teramat sangat. Kian mendekat ke daratan warna laut sudah menjadi lebih cerah hingga akhirnya warna biru yang sangat muda bahkan bening hingga warna pasir putih terlihat jelas.
Terbayar sudah impian yang kubayangkan sejak tadi malam untuk menginjakkan kaki ke pulau pasir putih. Tak ada ragu sedikitpun untuk kembali membasahi diri. Kubentangkan tubuh ini agar semua bagian basah oleh air Rutong. Tak ada rasa takut akan kulit hitam atau kering nantinya, yang penting bisa bercengkerama dengan panorama alam ini.
Terlihat seorang bocah perempuan sedang mengumpulkan bintang laut yang mampir ke bibir pantai. Aku sedikit berkenalan dengannya, ternyata ia datang dari Medan yang sengaja ingin berlibur di Flores bersama keluarga. Akhirnya bintang laut tak lagi menjadi makhluk asing yang kupegang. Nampak cantik dengan coraknya yang bervariasi dan bentuknya yang indah. Setidaknya bisa mewakilkan gambaranku tentang bentuk bintang yang sebenarnya. Tidak hanya membayangkan bentuk bintang yang ada di langit saja, tapi aku bisa menyentuhnya langsung meski ini bintang laut.
Beberapa wanita tua juga nampak sibuk mengumpulkan kerang yang nantinya akan dijual ke pasar atau untuk konsumsi sendiri. Aku juga ikut mengumpulkannya meski hanya sekadar iseng saja. Dengan mengorek pasir putih yang lembutnya seperti tepung, kami menemukan banyak benda unik yang tak pernah dijumpai di daerah pegunungan tempatku berasal.
Flores memang indah, sekali lagi aku meyakinkan diri bahwa pulau ini benar-benar indah. Sangat tepat untuk melepas penat atau menghilangkan stress setelah menjalani banyak rutinitas.
Pulau Rutong merupakan satu dari 17 pulau yang biasa dikunjungi wisatawan baik asing maupun domestik. Pulau ini tidak terlalu luas, hanya berbentuk bukit yang menjulang, apabila kita menaikinya maka akan semakin terlihat jelas bentang alam di perairan ini.
Ibu Ami mengajakku berjalan mengelilingi pulau dengan melewati bibir pantai. Aku lebih memilih berjalan di air yang agak dalam agar bisa berenang sambil melihat taman laut yang penghuninya sangat beraneka ragam. Berputar di satu pulau tak membutuhkan waktu lama. Kami mengakhirinya di tempat yang sama saat mendarat dan kembali menikmati laut bebas yang tak ada batasnya saat dipandang. Hanya beberapa bagian saja yang dipagari pegunungan dengan tanah gersang akibat kemarau panjang.
Matahari sudah sangat terik menerangi langit kami, kemudian memantulkan cahayanya ke segala penjuru termasuk pulau ini. Sudah puas rasanya mengelilingi pulau, kini tinggal perut yang sudah mulai keroncongan. Jajanan bekal kami sudah habis dimakan selama perjalanan menuju Rutong. Ah tapi perut ini masih saja meminta asupan makanan. Tak apalah rasa lapar dibayar dengan tontonan alam yang indah, kami berharap rasa lapar ini segera pergi jauh dari perut.
Baru dua pulau, tentu masih terbayang dengan keindahan pulau lain yang mempunyai karakteristik tersendiri setiap kali dikunjungi. Sekarang kami kembali berlayar menuju pulau berikutnya. Namanya Pulau Tiga, merupakan pulau terakhir yang kami kunjungi. Kebanyakan wisatawan hanya mengunjungi tiga pulau, karena sisanya yang lain mempunyai gambaran yang hampir sama.
Kalau Pasir Putih lebih banyak menghadirkan hewan laut yang singgah di bibir pantai, Pulau Tiga sedikit berbeda. Ia lebih banyak disinggahi ikan laut yang beranekaragam. Nelayan pun mencari tangkapan ikan di pulau ini. Saat turun dari kapal motor, terlihat sebuah kapal besar yang di dalamnya banyak ikan kecil sedang dijemur. Baunya sangat menyengat saat kami melintas di sampingnya. Ombing dan Irsyad membantu nelayan ini untuk mendorong kapal agar sedikit menjauh dari pantai.
Ternyata Pulau Tiga juga lebih banyak menarik para turis asing, karena tempatnya lebih sepi dan banyak pepohonan untuk berteduh. Ikannya lebih banyak, bahkan saat menyelam dekat tanaman tembakau mereka akan terlihat lebih jelas. Ada ribuan ikan disana, saat kami menyelam untuk melihat langsung keindahan mereka, ikan-ikan ini juga tidak pergi malah semakin mendekat. Bisa bercengkerama dengan ikan kecil sungguh mengasyikkan. Hingga penyelaman kami berhenti di pantai yang lebih sepi. Kami berteduh di balik pohon besar, rehat sejenak untuk saling bercerita dengan bahasa masing-masing. Sebagai pemersatunya kami bercakap-cakap menggunakan Bahasa Indonesia.
Ombing menirukan gaya bahasa orang Lengkosambi, sebuah desa yang ada di Kecamatan Riung tempat Mala mengajar. Kami tertawa terbahak-bahak karena bahasanya yang unik. Meski tidak tahu apa maksudnya tapi kami tetap tertawa karena Ombing menirukannya dengan sangat lucu. Cepat, kasar, keras, dan sedikit membentak khas cara berbicara orang NTT. Jangan kaget kalau berbicara dengan penduduk asli pulau ini. Kalaupun menggunakan bahasa persatuan tetap saja susunan katanya tidak baku seperti Bahasa Indonesia. Apapun itu, kami tetap tertawa.
Langit sudah sangat terik, baju kami pun sudah mulai kering. Tak mempedulikan hal itu, kalau saja masih berkesempatan mengunjungi pulau lain tentu akan kami kunjungi. Tapi sepertinya pesiar pertama dicukupkan dulu, lain waktu pasti kami akan datang lagi.

17 Pulau Riung, kau adalah indah yang dapat kami jamah
kau adalah rindu yang dapat kami cumbu
diujung pandanganku ada panorama cantik yang kau gambarkan
pesiar pertamaku membuat nona jatuh hati padamu

Jumat, 5 Oktober 2013
00.16 WITA


Minggu, 18 Agustus 2013

14 Tahun Dipenjara, Yohanes Tuntut Ganti Rugi


Di Balik Hingar Bingar Perayaan HUT RI 
Yohanes, mantan tahanan politik bersama istri menunjukkan surat pembebasan sementar, Kamis (15/8)

EUFORIA Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 2013 terjadi di setiap sudut kota. Kemeriahan ini menandakan kebanggaan bangsa Indonesia di usianya yang ke-68. Ada yang sudah merasa merdeka, namun sebagian lainnya masih menyayangkan banyak hal yang tidak menyempurnakan makna kemerdekaan itu.
Seperti cerita yang disampaikan Yohanes Baptista Noor Sahid seorang saksi sejarah asal Jepara yang kini tinggal di Desa Pasirmuncang, Purwokerto. Di rumahnya ini, kepada SatelitPost, ia menceritakan detik-detik perjumpaannya dengan kemerdekaan Indonesia saat usianya masih remaja.
Pria yang akrab disapa Noor ini berkesempatan mendapat pekerjaan sebagai pegawai negeri. Noor muda waktu itu berusia 23 tahun. Saat sedang giat bekerja, hatinya tidak tenang karena bersamaan dengan  gejolak pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Para pegawai negeri seperti dirinya dicurigai menjadi anggota PKI. Setiap orang yang dicurigai atau tidak disenangi maka akan langsung ditahan oleh pasukan 1965.
Tanpa alasan yang jelas, pria yang saat ini berusia 71 tahun ini kemudian menjadi tahanan politik (Tapol) di tahanan Semarang. Perlakukan kepada para tahanan dirasa tidak manusiawi dengan banyaknya kekerasan, bahkan tak sedikit pula yang meninggal dunia.
"Waktu itu ada surat yang menerangkan bahwa saya tidak bersalah tapi tetap saja ditahan. Selama 14 tahun saya menjadi tahanan karena dituduh sebagai anggota PKI," ujarnya.
Hidup 14 tahun dalam tahanan tanpa alasan tentu membuatnya merasa tidak mendapat keadilan sebagai warga negara. Hingga akhirnya tahun 1979 ia mendapat surat pembebasan sementara. Meski bias bernafas lega menghirup udara bebas di luar tahanan namun rasa cemas masih muncul dalam benaknya.
Status pegawai negerinya hilang tanpa ada keterangan yang jelas. Tidak dicabut, dipecat, atau status lainnya yang menerangkan bahwa sebelumnya ia seorang pegawai negeri. Bahkan sampai saat ini tidak ada bekas apapun yang menerangkan hal itu. Ini pula yang disayangkan Noor bersama sang istri, Maria Magdalena Kusyati.
Ibu tiga anak yang kini berusia 68 tahun ini berharap akan ada sedikit keadilan kepada mantan tahanan yang tidak bersalah ini.
"Seharusnya pemerintah bertanggungjawab terhadap tahanan politik ini. Sudah ditahan selama 14 tahun tanpa alasan kemudian status pegawainya dicabut dan tidak ada ganti rugi," kata Maria penuh harap.
Keluarga ini hanya bisa pasrah, berharap suatu saat nanti pemerintah akan menepati janji untuk mengganti rugi terhadap tahanan tapol. Apabila dihitung secara matematis tentu ganti ruginya sudah triliunan rupiah.
Apalagi korban tapol tidak hanya satu orang saja. Di sekitar rumahnya, ada juga beberapa tapol yang masih berharap akan mendapat ganti rugi yang layak. Setidaknya diberikan kepada ahli waris atau keluarganya masing-masing. 
Ketakutannya waktu itu juga terjadi saat kepemimpinan zaman Soeharto. Dikatakan bahwa tujuh turunan bekas tahanan tidak akan menjadi pegawai negeri. Hal ini tentu tidak adil bagi Noor dan keluarga. Apalagi di tengah keramaian perayaan kemerdekaan Indonesia seperti saat ini.
"Secara yuridis Indonesia memang sudah merdeka namun secara defacto belum merdeka. Hakikat merdeka adalah adanya keadilan kepada warga negara. Saat ini banyak orang yang masih mencari penghidupan layak, tidak digusur, tidak dioyak-oyak. Karena mereka mempunyai hak untuk hidup yang layak," kata Noor dengan suara rentanya.
Menurutnya sebagai warga negara Indonesia, haknya telah dirampas sejak tahun 1966 hingga hari ini. Tidak ada kejelasan tentang statusnya yang sesuai dengan hukum yang berlaku. Padahal, kata dia Indonesia mempunyai landasan hokum yang jelas dengan mengacu pada Pancasila.
Setelah membongkar arsip dalam tas tuanya untuk mencari surat pembebasan sementara Noor yang ditunjukkan kepada SatelitPost, Maria kemudian melanjutkan cerita. Dikatakan bahwa memaknai kemerdekaan tidak hanya dengan euforia saja, namun bagaimana meneruskan cita-cita bangsa menuju masyarakat yang adil dan makmur.
Peringatan 17 Agustus adalah kejadian akbar satu bangsa, seperti apapun perayaannya menurut Noor adalah hal yang baik yang terpenting adalah kebijakan pemerintah untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan.
Meski sudah merdeka, kata dia tanda-tanda keadilan belum nampak jelas. Malahan keadilan semakin tenggelam karena rakyat yang kaya semakin kaya, begitu juga dengan yang miskin malahan semakin miskin. Kejadian yang dialaminya pada tahun 1965 ini dimata dunia telah menjadi pelanggaran HAM terberat, karena siapa saja yang tidak disenangi akan ditahan tanpa alasan yang jelas.(fitri nurhayati)