Tampilkan postingan dengan label Oase. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oase. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Februari 2016

Menggapai Titik Tertinggi Inerie

Gunung Inerie, Kabupaten Ngada, NTT
Inerie, 2 September 2014. Dua hari sebelum mudik aku menunaikan janji untuk menggapai titik tertinggi Pulau Flores. Adalah Gunung Inerie yang setahun belakangan hanya dapat dinikmati oleh mata. Bagi para pendaki, ketinggian 2.245 mdpl terbilang landai, namun tidak bagiku. Tetap butuh perjuangan untuk bisa mencapai puncak.

Letaknya Inerie tak jauh dari pusat kota Kabupaten Ngada, Flores, NTT. Sore itu ketika kabut tipis mulai menutupi Bajawa, aku dan tiga orang teman kabur dari hotel menuju Langa. Dua ojek yang telah kami pesan sebelumnya telah menunggu di seberang jalan. Aku, Yanti, Mas Aziz, dan Deni mengistilahkan acara kabur, karena seharusnya dua hari ini kami stay di hotel menunggu jemputan dari Jawa.

Mas Aziz berangkat dari Were, maka ia bisa membawa motor pinjaman dari bapak asuh. Kami bertemu di Langa dan menginap di rumah kepala sekolah. Tuan rumah menyambut hangat kedatangan kami. Tak lama, kabut sore berubah menjadi gelap menandakan waktu sudah malam. Tuan rumah mengajak makan bersama dan segera beristirahat karena dini hari nanti kami akan melakukan pendakian.

Foto bersama di puncak Inerie
Kepala sekolah akhirnya memutuskan untuk ikut mendaki. Dulu ia sering naik gunung, jadi sekarang ingin mengulang masa mudanya lagi. Seorang bernama Om Pius juga akan ikut bersama kami. Mereka akan berperan sebagai guide. Maka personel bertambah menjadi enam orang.

Perjalanan dimulai jam dua dini hari. Carrier dan aksesori pendakian telah siap. Kami langsung menyusuri pekarangan warga di Watumeze, satu-satunya jalur pendakian ke Inerie. Malam kian mencekam dengan gonggongan anjing yang terusik dengan langkah kami. Usai menembus rerumputan yang basah oleh embun, kami memasuki kaki gunung menuju lereng. Perjalanan diperlambat karena medan mulai menanjak. Disana sudah jarang dijumpai vegetasi.

Igir Wolo Deru
Udara kian dingin, perjalanan pun semakin menguras tenaga. Om Pius memastikan jalur yang kami lewati tidak keliru. Terkadang jalur pendakian menghilang karena tertutup longsoran pasir. Di kanan dan kiri banyak jurang sempit yang dalam. Kami hanya mengandalkan bebatuan sebagai pegangan, bahkan ketika medan mengharuskan kami berjalan merayap.
Waktu menunjukan pukul 05.00 WITA. Pendakian hampir mencapai puncak ketika fajar menyingsing di ufuk timur. Tak lama muncul bola merah di atas Gunung Ebulobo. Embun perlahan menguap dan seolah alam sedang melakukan pertunjukan, kami disuguhi pemandangan yang menakjubkan. Di sebelah Utara nampak bukit Wolo Gedha, di Timur Laut adalah Desa Langa dan Bajawa. Sedang di Tenggara ada kampung adat Bena dan di Selatan igir Wolo Deru disambung pantai yang memanjang ke Timur. Sungguh lukisan Maha Pencipta yang sempurna. Kami tidak bosan menggumamkan kalimat Tasbih. Banyak harapan muncul ketika aku menyapu pandangan ke Wolo Gedha. Bumi pertiwi ini sangat indah, suatu saat aku ingin kembali lagi. Akhirnya, kami melanjutkan perjalanan ke puncak.
Berada di puncak Inerie
Dari puncak aku jadi tahu bahwa Inerie merupakan gunung bertipe strato. Ia pernah erupsi yang dibuktikan dengan sisa kawah di puncaknya. Kami menikmati tiap sudut Flores dari puncak, mengabadikan dengan kamera, dan mencari inspirasi di titik tertinggi ini. Setelah puas kami memutuskan untuk turun sebelum matahari terik. Medan yang terjal membuat kami ngeri ketika perjalanan menuruni gunung. Aku memilih meluncur di lereng berpasir untuk sampai di bawah. Namun, ketakutan berubah menjadi tawa riang saat kami bermain luncuran. Puncak Inerie telah menjadi titik perpisahan kami dengan Flores sebelum kembali ke kampung halaman di Jawa. (*)


Selasa, 27 Januari 2015

Gandaria

Mungkinkah mati itu tidur? Bila hidup hanyalah mimpi
Dan gambaran bahagia luput seperti hantu berlalu
Segala kesenangan  fana seakan-akan khayali
Betapapun hebat kita, matilah terperi antara pilu
Alangkah anehnya insan harus mengembarai bumi
Dan walau hidup serba sengsara
Namun masih saja setia di jalanNya
Tegar dan berani sendiri
Menatap bencana yang hakikatnya bangun kembali.

Gelora asa

Dalam ketidakmengertianku, kugoreskan luka ini. Luka yang mungkin tiada lagi tersembuhkan karena ketidakberdayaanku. Luka yang semakin menganga karena tak henti kau menyayatnya, walaupun kau tahu aku menjerit kesakitan. Kutahan nafasku dalam-dalam sesaat setelah kau menyentuh lukaku. Aku terhenyak dalam kebimbangan. Sudah benarkah yang aku jalani? Berartikah apa yang aku lakukan? Aku terus bertanya dalam hati walau kutahu pasti aku takkan bisa menjawabnya.
Aku terus menipu diriku sendiri walau aku tak ingin. Aku hibur hati ini dengan kata-kata yang pernah terucap. Aku hiasi hari ini dengan canda yang dulu pernah aku rasakan. Kusejukkan jiwa ini dengan bayangmu yang semakin lama kian memudar, kian menghilang, dan terus menghilang. Aku tak lagi bisa melihat kesejukkan diindahnya pagi. Karena matahari terlalu cepat membenamkanku sebelum aku terbangun. Menertawakan aku karena aku tak mampu mengingkarinya.

Aku terus menatap hari dalam kehampaan yang semakin lama tak bisa kuterawang. Kupalingkan wajahku tertunduk bisu. Kuhadirkan kebekuan dalam hati. Kegalauan terus membebaniku. Hariku semakin suram. Aku tak lagi percaya akan semua.  Karena hatiku, nuraniku, penuntun hidupku. Aku tak lagi percaya akan janji karena sumpah bisa dirubah dan kata tak lagi bermakna. Terlalu banyak sudah aku kehilangan. Terlalu banyak sudah yang pergi. Entah karena ingin atau karena terpaksa. Semua begitu dan terlalu berarti bagiku. Semua pergi disaat aku belum sanggup untuk melangkah sendiri. Hingga akhirnya aku tertatih-tatih, terjatuh, dan terjerembam. Dan kini setelah kuyakin kutemukan lagi jiwaku, aku tak mampu menjaganya. Mungkin bintangku ingin pergi disaat aku mengharapnya, karena mungkin aku memang belum pantas menemaninya. Mungkin bintangku ingin menghiasi langit lain yang lebih indah dari langitku. Karena ia nyaman berada disisinya. Tapi aku terus berharap hatinya hanya untukku. Cintanya hanya bagiku. Walau mungkin ia lebih memilih dirinya. Karena aku sendiri yang merasakan. (*)

Selasa, 30 September 2014

Gabie, Siswa SLB di Nusa Tenggara Timur

Ingin Jadi Artis Seperti Daus Mini
Gabie tampil dalam Ngada Edu-Culture Fair 2014
Terimakasih untuk sentuhan atas hidupku
Baik dengan cara biasa maupun luar biasa
Aku bersyukur karena kau mengetahui banyak hal tentang diriku
Kepercayaanku dan kasihmu, melapangkan jalanku
Untuk menjadi diriku sendiri
(Sepenggal puisi yang dibawakan Gabie dalam acara Ngada Edu-Culture Fair 2014)

Ayunan tangan Gabriel Nggoli (17) nampak mungil memperagakan setiap bait puisi yang ia bawakan. Tangan kirinya mahir memegang microphone yang sesekali dipindahkannya ketangan kanan. Ia tampil percaya diri dihadapan ratusan orang yang hadir dalam acara Ngada Edu-Culture Fair 2014 yang digelar guru SM-3T Ngada, NTT.
Siapa pun tak akan menyangka jika Gabriel adalah siswa SMP. Melihat tinggi badannya yang tidak sampai satu meter orang mengira dirinya baru masuk SD. Meski tingginya tidak sempurna seperti anak seusianya, siswa kelahiran 22 September 1996 ini tetap percaya diri. Tak ayal aksinya dipanggung mampu memukau ratusan penonton yang hadir di Lapangan Kartini, Kota Bajawa, Sabtu (10/5). Bahkan tak sedikit dari mereka yang meneteskan air mata. Penampilan Gabie kali ini merupakan satu dari sederet aksinya di depan banyak orang.
Saat ditanya kenapa Gabie begitu percaya diri, ternyata ada satu hal yang memotivasi dirinya untuk berani tampil di panggung. Katanya, siswa SLB Negeri Bajawa ini ingin menjadi artis seperti pelawak, Daus Mini.
“Cita-citanya pengin jadi artis seperti Daus Mini. Jadi bisa sering tampil di panggung. Kalau tidak jadi artis ya jadi MC tidak apa-apa,” kata Gabie sambil tersipu malu.
Anak kedua dari empat bersaudara ini nyalinya tak pernah ciut meski dirinya tak sempurna seperti anak pada umumnya. Air mukanya tetap ceria dengan senyum yang menggemaskan.
Pada gelaran Ngada Edu-Culture Fair beberapa waktu lalu ia membawakan sebuah puisi dan pantun yang membuat semua pasang mata tertuju padanya. Selain syairnya yang menggelitik hati, pembawaan Gabie juga menjadi inspirasi banyak anak lain yang tergolong normal.
Arum Puspitaningtyas, guru SM-3T yang ditugaskan di SLB pun sempat meneteskan air mata. Tidak menyangka muridnya bisa tampil memukau banyak orang. Menurutnya, yang terpenting saat mengajar anak luar biasa adalah ikhlas dan mencurahkan kasih sayang kepada sang anak.
“Yang terpenting tidak pilih kasih. Mereka semua sama, tinggal bagaimana kita memotivasi dan menggali potensi mereka. Saya bangga dengan Gabie,” kata Arum.
  
Gabie Juara 2 Lomba Matematika 
Gabie bersama guru dan teman-temannya
Putih warnanya bunga melati
Pastilah tentu harum baunya
Belajarlah kamu sedari dini
Kelak berguna di hari tua
(Pantun yang dibawakan Gabie dalam acara Ngada Edu-Culture Fair 2014)

Kepandaian Gabie juga disampaikan Maria Yasinta Naru, wali kelasnya di sekolah. Menurut Yasinta, muridnya yang satu ini memang tergolong pintar. Bahkan seringkali ia menugaskan Gabie untuk mengajari teman-temannya pelajaran matematika. Kepandaian siswa berkulit hitam manis ini mengantarkannya mewakili sekolah untuk mengikuti olimpiade matematika tingkat Provinsi NTT di Kupang.
“Dulu ikut lomba matematika dapat juara dua di Kupang. Rasanya senang bisa naik pesawat terbang sampai Kupang,” ujar Gabie sambil memainkan jari-jarinya untuk menghilangkan grogi.
Tepat Bulan Mei 2013 lalu ia mengikuti olimpiade matematika khusus untuk anak SLB. Dari situ semangat belajarnya terus terpacu bahkan seolah tak pernah mengikis. Dari wajahnya selalu menyiratkan senyum yang menginspirasi banyak orang.
Dulu saat akan menamatkan sekolah dari SD Ije Kecamatan Wolomeze, ia langsung mengikuti ujian nasional di SLB N Bajawa. Ia mendapat nilai delapan untuk mata pelajaran matematika. Beruntung saat duduk di bangku SD teman seusianya memahami keterbatasan Gabie. Sehingga ia tetap percaya diri saat berada diantara siswa normal lainnya.
Dengan begitu ia pernah mengenyam pendidikan bersama siswa normal lainnya. Dunia pendidikan biasa mengenalnya dengan istilah inklusi, dimana siswa berkebutuhan khusus mendapat layanan pendidikan yang sama dengan siswa normal lainnya.
Pendidikan inklusif adalah penempatan anak berkebutuhan khusus baik tingkat ringa, sedang, dan berat secara penuh di kelas reguler. Disini, ditemukan sisi positif pendidikan inklusif bagi siswa berkebutuhan khusus. Dimana dapat terbangun kesadaran dan menghilangkan sikap diskrimatif terhadap penyandang disabilitas.
Drs. Vinsensis Milo, Kepala Dinas PKPO Kabupaten Ngada mengatakan pentingnya pendidikan inklusif karena semua anak mempunyai hak yang sama untuk belajar bersama anak yang lain. Mereka tidak dibedakan secara rigrid, tetapi yang perlu diperhatikan bahwa mereka memiliki kesulitan dalam belajar. Tidak ada alasan yang mendasar untuk memisahkan anak dalam pendidikan.
Saat ditanya bagaimana cara belajar Gabie, anak kedua dari empat bersaudara ini mengatakan cukup sederhana. Ia hanya memanfaatkan waktu sore hari untuk sekadar membaca buku. Biasanya yang dibaca adalah buku cerita. Katanya, ia menyukai pelajaran IPA.
Aktivitasnya setiap hari memang terbilang monoton, tapi ia nampak sangat menikmati hal itu. Mulai dari jam lima pagi Gabie sudah bangun. Anak dari pasangan Yosep Mena dan Filonimat ini tinggal di asrama bersama teman-teman lain.
“Setelah bangun pagi langsung berdoa, kemudian beres-beres di asrama. Setelah itu baru mandi trus makan dan pergi ke sekolah,” jawabnya sambil berfikir mengurutkan aktivitasnya pagi hari.
Di sekolah banyak hal yang dilakukan Gabie. Diantara enam orang sekelasnya, ia tergolong yang paling pandai. Karena dibanding siswa lain, ia hanya memiliki keterbatasan secara fisik saja.
  
Gabie Pandai Membuat Syal
Gabie sedang membuat syal
Burung merpati terbang lepas
Burung dara memakan roti
Jadi anak janganlah malas
Sudah tua menyesal nanti
(Pantun yang dibawakan Gabie dalam acara Ngada Edu-Culture Fair 2014)

“Saya suka membuat syal. Ibu guru yang mengajari bikin syal,” ujarnya sambil menunjuk hasil kerajinannya yang terpajang dilemari sekolah.
Tangan terampilnya ini terus merajut merampungkan tugasnya membuat syal yang sering dibawa dalam pameran. Biasanya ia mampu menyelesaikan satu syal dalam empat hari. Hasilnya tidak hanya cantik, namun syal istimewa yang dihasilkan dari tangan anak luar biasa.
Selain syal, kata Gabie hasil merajutnya juga banyak dijadikan taplak meja, tas, topi, atau kerajinan lain. Beberapa hasil karya anak SLB ini sering menarik minat orang untuk membelinya. Kerajinan ini merupakan satu dari banyak hiburan yang membuat Gabie tetap ceria menjadi anak luar biasa.
Sepulang sekolah ia tidak langsung makan siang atau beristirahat, namun rutinitas telah mengajarkannya untuk menyelesaikan tugas terlebih dahulu.
“Pulang sekolah cuci piring dulu setelah itu baru makan siang. Kalau sudah selesai semua baru istirahat,” ujarnya.
Dari rutinitas yang melekat pada diri Gabie menjadikannya pribadi yang disiplin dan penuh percaya diri. Anak yang tidak suka membeli jajanan bocah di luar rumah ini mengaku suka dengan semua makanan. Yang ada di depannya itulah yang dimakan.
Gabie mini berusaha memanfaatkan semua waktunya untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat. Blandina Owa, Guru SLB N Bajawa mengatakan selain hobi membaca buku Gabie menyisakan waktu di sekolah untuk merajut atau membuat kerajinan lain.
“Kelak keahlian yang mereka miliki akan berguna di masa depan,” ujarnya. (*)


 dimuat di Harian Pagi SatelitPost

Keutamaan Puasa Arafah

ilustrasi 
Setiap mendekati hari raya Idul Adha ibu saya selalu mengingatkan untuk berpuasa. Katanya puasa arafah, dimana saudara kita yang sedang menjalankan ibadah haji pada hari itu juga sedang menjalankan wukuf di padang Arafah. Saya dapati dari berbagai sumber, bahwa puasa Arafah mengandung banyak keutamaan. Insya Allah apabila dilakukan dengan penuh keikhlasan kita termasuk golongan orang-orang yang beruntung.
Keutamaan segala amal yang diharapkan umat manusia adalah terhapusnya dosa. Begitu juga dengan keutamaan yang terkandung dalam puasa arafah yaitu dapat menghapus dosa. Sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:

سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ
Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa hari Arafah, beliau menjawab, “Puasa itu menghapus dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun berikutnya.” (HR. Muslim)
Selain itu puasa arafah juga mengandung keutamaan bagi umat manusia sebagai pembebasan dari api neraka. Sebagian ulama menjelaskan bahwa pembebasan dari neraka pada hari Arafah diberikan Allah bukan hanya kepada jamaah haji yang sedang wukuf, melainkan juga untuk kaum muslimin yang tidak sedang menjalankan haji. Terlimpahkannya ampunan Allah terhadap dosa selama dua tahun melalui puasa Arafah sangat terkait dengan keutamaan kedua ini.

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ
“Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah hari Arofah. Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?” (HR. Muslim)
Selanjutnya, kemustajaban doa di Puasa Arafah. Secara umum doa orang yang berpuasa akan dikabulkan oleh Allah, insya Allah. Ditambah lagi dengan keutamaan waktu hari Arafah yang merupakan sebaik-baik doa pada waktu itu, maka semakin kuatlah keutamaan terkabulnya doa orang yang berpuasa Arafah pada hari itu.

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
“Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arafah. Dan sebaik-baik yang kuucapkan, begitu pula diucapkan oleh para Nabi sebelumku adalah ucapan “Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadiir (Tidak ada Ilah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. MilikNyalah segala kerajaan dan segala pujian, Allah Maha Menguasai segala sesuatu).” (HR. Tirmidzi, hasan)

Niat Puasa Arafah
نويت صوم عرفة سنة لله تعالى
 “ Saya niat puasa Arafah , sunnah karena Allah ta’ala.”
Bismillah, semoga puasa kita tidak hanya mengharap keutamaan yang terkandung di dalamnya tapi benar-benar ikhlas karena Allah ta’ala.
Selain itu, memang hari-hari pada sepersepuluh bulan Dzulhijjah adalah hari-hari yang istimewa untuk menjalankan ibadah seperti puasa. Abnu Abbas RA meriwayatkan Rasulullah SAW bersabda:

مَا مِنْ أيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيْهَا أَحَبَّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِيْ أَياَّمُ اْلعُشْرِ قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ! وَلَا الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ؟ قَالَ: وَلَا الْجِهَادُ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ إلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهُ فَلَمْ يَرْجِعُ مِنْ ذَلِكَ شَيْءٌ
Diriwayatkan Rasulullah SAW bersabda: Tidak ada perbuatan yang lebih disukai oleh Allah SWT, dari pada perbuatan baik yang dilakukan pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya: Ya Rasulallah, walaupun jihad di jalan Allah? Rasulullah bersabda: Walau jihad pada jalan Allah kecuali seorang lelaki yang keluar dengan dirinya dan harta bendanya, kemudian tidak kembali selama-lamanya atau menjadi syahid. (HR Bukhari)
Bagi kaum Muslimin yang mempunyai tanggungan puasa Ramadhan juga disarankan untuk mengerjakannya pada hari Arafah ini, atau hari-hari lain yang disunnahkan untuk berpuasa. Maka ia akan mendapatkan dua pahala sekaligus, yakni pahala puasa wajib (qadha puasa Ramadhan) dan pahala puasa sunnah. :

يُعْلَمُ أَنَّ اْلأَفْضَلَ لِمُرِيْدِ التََطَوُّعِ أَنْ يَنْوِيَ اْلوَاجِبَ إِنْ كَانَ عَلَيْهِ وَإِلَّا فَالتَّطَوُّعِ لِيَحْصُلَ لَهُ مَا عَلَيْهِ
Diketahui bahwa bagi orang yang ingin berniat puasa sunnah, lebih baik ia juga berniat melakukan puasa wajib jika memang ia mempunyai tanggungan puasa, tapi jika ia tidak mempunyai tanggungan (atau jika ia ragu-ragu apakah punya tanggungan atau tidak) ia cukup berniat puasa sunnah saja, maka ia akan memperoleh apa yang diniatkannya.
Adapun berpuasa pada hari Idul Adha (10 Dzulhijjah) dan hari-hari tasyrik (11, 12 dan 13 Dzulhijjah) adalah diharamkan berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Umar ra:
Bahwasanya Rasulullah SAW melarang berpuasa pada dua hari, yaitu ‘Eid al-Adha dan ‘Eid al-Fitr. (Hadith Riwayat Imam Muslim, Ahmad, an-Nasa’ie, Abu Dawud)
Serta hadith yang diriwayatkan dari Abu Hurairah ra: Rasulullah SAW telah mengirimkan Abdullah Ibn Huzhaqah untuk mengumumkan di Mina: “Kamu dilarang berpuasa pada hari-hari ini (hari tasyrik). Ia adalah hari untuk makan dan minum serta mengingati Allah.” (Hadits Riwayat Imam Ahmad, sanadnya hasan). Ulama Syafi’iyyah membenarkan bahwa berpuasa pada hari tasyrik hanya untuk keadaan tertentu seperti bersumpah, qadha puasa di bulan Ramadhan serta puasa kifarah (denda).


*dari berbagai sumber 

Senin, 22 September 2014

Kerinduan Di Kaki Ragajembangan

Gunung Ragajembangan 

JIKA ada yang menyukai pegunungan, datanglah ke kampung halamanku. Di sana ada gunung yang menjulang tinggi, indah, bak lukisan yang baru saja diselesaikan dan siap untuk dipamerkan. Kampungku berada tepat di kaki Gunung Ragajembangan, Desa Wanayasa, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Kalau ingin menyaksikan air terjun di gunung ini aku tinggal keluar rumah dan mendengarkan desir airnya tanpa terhalang oleh sebatang pohon pun. Air terjun turun seperti gadis kecil pemalu tetapi selalu riang. Ia mengalir ke seluruh rumah penduduk untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.
Saat hujan turun, aku paling suka duduk dekat jendela sambil melipat tangan di dada. Dari jendela tampak dinding-dinding dan atap rumah yang sederhana mewakilkan nuansa pedesaan yang sejuk dan asri. Kulayangkan pandangan ke luar rumah sambil menyimak ketukan air yang tempias ke kaca. Tahun lalu aku merasakan kesejukan yang luar biasa ini dikampung halamanku. Tapi sekarang aku berada di suatu tempat yang tanahnya kering dan jarang sekali turun hujan, tanah Flores. Saat ini pula aku sangat rindu Wanayasa, kampung halaman yang aroma hujannya wangi dan udaranya sejuk.
Lebaran tahun kemarin adalah terakhir kali aku menikmati hujan di kampung halaman. Tepatnya sehari sebelum kami sekeluarga merayakan hari raya Idul Fitri. Hujan yang turun lebat waktu itu mengharuskanku untuk berjibaku dengannya. Beruntung pada hari H pelaksanaan solat Id di lapangan, cuaca sedang bersahabat jadi kami bisa melihat keindahan Wanayasa beserta Ragajembangannya.
Karena cuaca sedang bagus, kami merayakan lebaran dengan menerbangkan balon raksasa yang dibuat oleh para pemuda desa. Kebersamaan begitu terasa di desa ini, khas masyarakat tradisional yang keakrabannya masih sangat kental. Background yang melatarbelakanginya adalah gundukan tanah yang menjulang tinggi dikelilingi deretan pegunungan dan pepohonan yang subur. Gambaran alam ini pula yang mewakilkan kemakmuran tanah yang sudah tergolong dataran tinggi ini.
Keseruan menerbangkan balon bersama warga setempat usai solat Id menyisakan rindu yang saat ini sangat kurasakan. Acara ini menjadi ritual tahunan yang tak pernah ketinggalan setiap tahun. Uniknya balon raksasa ini dapat menyatukan seluruh perbedaan yang melekat dari masing-masing warga. Mempertemukan warga desa yang sebelumnya berpencar di tempat lain untuk mencari nafkah. Ada yang bekerja didesa tetangga, kota tetangga, bahkan di negara tetangga. Hiburan rakyat ini pada akhirnya mengumpulkan kami dalam waktu bersamaan.
Balon raksasa ini diterbangkan dengan bantuan tenaga bahan bakar yang dimodifikasi dengan apik. Sembari menungggu balon diterbangkan, para ibu asyik mempersiapkan hidangan berupa tumpeng dari masing-masing RT. Sedang anak-anak sibuk mengerubungi para pemuda yang sedang bersiap menerbangkan balon. Usai balon melesat mendekati Gunung Ragajembangan, kami berkumpul dan menikmati makan bersama di Lapangan Kertiyasa. Kampung halamanku selain bersahabat juga mengisahkan kenangan tersendiri setiap tahunnya.
Kalau mau melanjutkan perjalanan naik gunung juga tidak sulit. Bisa melalui jalan setapak di desa ini. Beberapa warga disini juga ada yang mempunyai lahan pertanian di gunung. Setiap harinya mereka naik gunung, berangkat pagi dan pulang sore. Membawa bekal yang mereka nikmati digubug (rumah kecil) yang sengaja dibangun di tengah ladang. Alas makannya biasanya menggunakan daun pisang jadi kalau sudah selesai bisa langsung dibuang agar tidak mengotori lingkungan.
Untuk sampai ke kampung halamanku tidaklah sulit. Biar pun desa, lebih tepatnya berada di kaki gunung tapi angkutan umum melaju setiap hari. Kalau dari kota Banjarnegara cukup naik bus sekitar satu jam. Selama perjalanan akan Anda jumpai nuansa kota karena tempat ini masih tergolong sub urban fringe. Tak lama setelah itu barulah udara mulai terasa dingin, di kanan kiri jalan hanya ada pepohonan dan beberapa rumah warga yang jaraknya saling berjauhan. Dingin kian menusuk saat melewati Gunung Lawe yang biasa menjadi destinasi para traveller untuk panjat tebing. Dari jalan nampak gunung batu yang menjulang dan cukup menghibur mata selama perjalanan.

Ini baru setengah perjalanan karena setelah mengikuti alur jalan ini selanjutnya akan dijumpai wisata kolam renang, Paweden namanya. Disini dinginnya semakin menjadi. Nah, barulah setelah itu seterusnya yang dilihat pepohonan rindang saja, namun sesekali akan ada hal yang mengejutkan selama perjalanan. Sejam hampir berlalu sampai Anda menjumpai keramaian tepatnya di perempatan Desa Karangkobar. Namun keramaian ini bukan berarti perjalanan Anda telah sampai. Tak perlu khawatir karena sepuluh menit lagi sampai di Wanayasa. Biasanya angkutan umum akan berhenti beberapa menit untuk mencari penumpang. Barulah di lintasan terakhir akan Anda jumpai lagi wisata kolam renang di tempat sepi yang dikelilingi pepohonan rindang. Meski ini sudah masuk kawasan dataran tinggi yang dingin namun tetap saja ada kolam renang yang ramai setiap hari libur. Terus melintas, nah akhirnya Anda sampai di desa Wanayasa. Meski masih di jalan raya tapi Anda akan melihat langsung gunung yang menjulang tinggi dan langsung terhirup aroma desa yang sejuk, Ragajembangan. (*)



Jumat, 12 September 2014

Menilik Varanus Komodoensis

RAMADAN datang lagi. Kali ini aku menikmatinya di tanah Flores yang kata orang penuh pesona. Dulu aku mengenal Flores hanya dari buku IPS semasa SD, tapi kali ini tidak. Aku berjibaku dengannya selama setahun dan mengunjungi titik-titik tertentu yang menjadi destinasi para wisatawan baik lokal maupun mancanegara. 
Berfoto dengan Varanus Komodoensi di Pulau Komodo
Setahun ditugaskan mengajar di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) membuatku lebih mudah untuk mengenal Indonesia lebih dekat. Meski baru setengahnya tanah Flores yang kujamah tapi setidaknya sudah tertunaikan mimpiku mengunjungi pulau bagian timur di Indonesia.
Ada satu destinasi istimewa yang kukunjungi dari sekian banyak tempat yang ada, Pulau Komodo. Satu titik di Indonesia yang terdaftar sebagai keajaiban dunia. Libur semester genap aku bersama tiga belas teman seperjuangan lain menyeberang dari Labuan Bajo ke Pulau Komodo, tepatnya tanggal 8 Juli 2014.
Tak mudah untuk sampai ke Labuan Bajo yang letaknya ada di ujung barat Flores, karena sekarang aku berdomisili di Riung, Kabupaten Ngada letaknya ada di Flores tengah. Terlebih masing-masing dari kami bertugas di daerah pelosok yang penuh dengan keterbatasan. Untuk bisa menyeberang ke Pulau Komodo kami harus melewati Kabupaten Manggarai Timur, Manggarai Tengah, barulah Labuan Bajo.
Perjalananku kali ini sudah memasuki Bulan Ramadan. Dari awal kami memang berniat menjadi backpacker untuk sampai di titik-titik indah Provinsi Nusa Tenggara Timur ini. Niatan melancong mengunjungi situs warisan dunia UNESCO tertunaikan sudah.
Di Aimere sebelum memulau perjalanan
Sebelumnya kukenalkan dulu personel SM-3T Ngada yang melancong ke Pulau Komodo. Ada Rahmat sesepuh yang kami tuakan, Dimas dan Rifqi backpacker sejati, Eko sang koordinator, Herpry fotografer handal, Anggi si gendut yang memakai syal warna pink, Arif Koordinator SM-3T Ngada, Irsyad yang logatnya sudah mirip orang Flores, Dyah gadis santai yang ikut-ikutan backpacker sepertiku, Septi si empunya kaki SNSD, Yanti yang hobi manjat gunung, Hida remaja pondok yang tomboy, dan Tya bu guru yang narsis tiap ada kamera.


Selasa, 8 Juli 2014
Biasanya usai sahur aku kembali menarik selimut, pagi ini tidak. Kali ini aku menarik tas ransel dan beberapa perlengkapan lain untuk perjalanan yang cukup jauh. Bergegas mengenakan jaket, kaus kaki, slayer, dan sarung tangan. Batok kepala dibungkus dengan helm kemudian menguncinya.
“Sudah siap melakukan perjalanan? mari kita berdoa dulu semoga perjalanan lancar,” kata Eko, koordinatorku.
Akhirnya dengan mantap kami siap melakukan perjalanan setelah sehari sebelumnya gagal gara-gara kekurangan motor. Rahmat kesana-kemari mencari motor sewaan akhirnya berjodoh dengan tukang ojek yang merelakan motornya kami sewa untuk tiga sampai empat hari ke depan. Dapat enam motor sewaan, sedang aku meminjam motor guru yang sedang liburan ke Atambua. Kebetulan selama liburan motornya nganggur bisa kugunakan. Meski tak semua motor terbilang sehat tapi berkat nekat dan pasrah yang sudah melekat dihati kami tetap berangkat.
Perjalanan dimulai dari Aimere, kontrakan Herpry yang sama-sama mengajar di daerah 3T. Sebelumnya kami mengambil posisi melingkar, tepatnya di ruang tamu yang masih berantakan. Kami memanjatkan doa yang dipimpin Rahmat sebagai orang yang dituakan. Usianya memang terpaut beberapa tahun dari kami, tapi ia seperti menjadi muda kembali
“Saya seperti salah komunitas bergabung dengan kalian. Tak apalah yang penting kita liburan ke Pulau Komodo,” ledek Rahmat.
Impianku mengunjungi Loh Liang tempat bersarangnya Komodo akan terwujud. Bersama sebelas teman yang semuanya adalah guru SM-3T Kabupaten Ngada. Liburan kami semoga menyenangkan.
Selepas dari Aimere kemudian memasuki Borong Ibukota Manggarai Barat. Sepuluh kilometer perjalanan masih dalam masa percobaan. Ternyata salah satu motor kami ada yang onar dan harus ganti oli. Berhenti sejenak di sebuah bengkel pinggir jalan. Maklum motor pinjaman ini tidak terlalu sehat untuk perjalanan jauh.
Ting...
Sebuah pesan singkat muncul dari aplikasi BBMku. Seorang teman sesama SM-3T yang kukenal diinstragram berpesan agar kami mampir dirumahnya. Ia berasal dari Malang yang ditempatkan di Manggarai Tengah, Cancar lebih tepatnya. Sambil menunggu motor sehat kembali aku sempatkan membalas pesannya.
Setengah jam berlalu, kami melanjutkan perjalanan masih dengan kecepatan rendah. Mengingat motor-motor kami adalah hasil pinjaman yang tidak terjamin kesehatan mesinnya. Dengan kecepatan yang sedang ini, aku bisa tahu desa-desa yang kami lewati. Masing-masing tidak ada yang mendahului karena memang dari awal kami sudah mengatur siasat berkendara. Kalau ada satu yang bermasalah maka semuanya harus toleran. Disitu aku merasakan kekeluargaan yang sangat erat dari teman seperjuangan.
Perjalanan dari Aimere dan sepanjang Manggarai menjadi lebih menyenangkan. Menyusuri pantai melalui jalan rusak yang menghubungkan kabupaten satu dengan lainnya. Setelah pemandangan laut habis, kemudian digantikan dengan pemandangan di kanan kiri yang berganti menjadi pohon dan perbukitan. Beberaja jam kemudian kami memasuki Ruteng, Ibukota Manggarai Tengah. Tanpa disadari setengah hari diperjalanan. Akhirnya istirahat di Masjid Kubah Hijau Kota Manggarai.
Kembali aku menilik ponsel yang sedari tadi kubiarkan diam. Beberapa pesan singkat mulai bermunculan dilayar datar ini. Salah satunya dari Asis, kenalanku di instragram. Katanya dia menunggu kami di perempatan Cancar.
“Pokoknya kalian harus mampir. Disini ada sawah laba-laba lo,” katanya merayu.
Sampai diperempatan Cancar sudah menunggu seorang pria bertopi dan mengenakan kaus putih. Awalnya aku tak mengenali pria itu. Setelah ia mendekati kami barulah kusadari kalau ia Asis yang baru pertama kali kujumpai. Beberapa kali aku hanya melihatnya di instagram saat ia mengunjungi tempat-tempat indah di Flores sepertiku.
Mampir di Cancar dan mengenal beberapa teman baru dari Malang, sungguh menyenangkan. Serupa wisata rohani yang membasahi jiwa saat bertemu dengan teman seperjuangan di daerah 3T. Tak lama dan tak ada suguhan di rumah mereka, karena kami semua masih bertahan untuk tetap puasa Insya Allah sampai maghrib nanti. Disini cukup mengabadikan cerita dan berfoto dengan mereka SM-3T Ruteng asli Malang.
Di Cancar, penempatan SM-3T teman2 UM
Roda motor kami kembali berputar melintasi jalan beraspal, masih rusak. Sesekali berhenti mengisi bensin sambil mencari sebuah bangunan berkubah yang dinamakan masjid untuk salat ashar. Sedari tadi tak ada masjid yang muncul di depan mata yang ada hanya gereja dan rumah naja (kayu) di pinggir jalan. Kalau tidak yang ada hanya tebing tinggi yang telah longsor. Alhasil jalannya licin, menanjak, dan berkelok tajam.
Hampir setengah enam kami belum salat ashar. Akhirnya berhenti dan bertanya pada penduduk setempat. Katanya masjid ada diujung gang yang beraspal rusak. Harusnya jalan kami masih lurus, kali ini harus belok kiri untuk mendapati masjid. Aku tak percaya kalau orang Flores menunjukkan jalan yang katanya dekat, ternyata masjidnya masih lumayan jauh dan waktu ashar hampir habis.
Masjid yang belum sempurna pengerjaannya ini belum memiliki nama. Katanya hanya ada satu masjid, kalau mau cari lagi harus ke kota. Sambil melepas penat, meletakkan ransel yang sedari menempel di pundak, aku menghembuskan nafas perlahan. Masjid ini letaknya memang di pinggir jalan, tapi di belakangnya membentang sawah yang luas.
Cukup beristirahat dan bergegas kembali ke jalan utama. Perut sudah mulai keroncongan, mungkin mengingatkanku kalau sebentar lagi maghrib tiba. Akhirnya perjalanan kami perlambat untuk mendapati warung makan untuk mencari sajian buka puasa. Jauh-jauh dari Jawa sampai Flores yang didapat tetap saja warung Jawa. Sudah seharian kami diperjalanan. Senja juga mulai menyingsing mengantarkan kegelapan di bumi pertiwi. Ada kepuasan tersendiri, meski perjalanan jauh tapi kami tetap berpuasa.
Perjalanan berlanjut masih ke arah barat. Kali ini jalan rusak tak begitu jelas jadi harus lebih berhati-hati lagi. Yang seharusnya dua jam sudah sampai Labuan Bajo kali ini tiga setengah baru sampai. Apalagi tadi siang diguyur hujan jadi licin oleh lumpur.
Mata sudah mulai lelah dan badan juga terasa lebih berat menahan beban. Mungkin karena kelelahan. Tapi seketika lamanya mataku langsung membelalak melihat gemerlap lampu yang berwarna di kejauhan. Ini seperti di kota tapi lebih romantis dan hangat. Kulihat kapal-kapal menepi ditandai dengan lampu-lampu malam yang tak bersuara.
“Itu pelabuhan sudah kelihatan,” kata Irsyad.
Melihat lampu-lampu itu lelahku mulai terbayar. Meski belum lunas tapi setidaknya sudah berkurang. Tempat ini ramai oleh turis asing dan wisatawan lokal. Teringat belum dapat penginapan segera kami menuju Kodim. Disana ada kenalan yang bisa dimintai bantuan mencari penginapan dan kapal untuk besok pagi nyeberang pulau. Ternyata kenalan Rifqi yang ada di Kodim sedang libur, terpaksa kami mencari penginapan sendiri. Kata orang penginapan yang murah di Hotel Pelangi. Bergegas menuju kesana tanpa memilah tempat yang lain.
Rifqi dan Eko meloby hotel dan ditetapkan harga lima puluh ribu per kepala. Kami ada dua belas kepala akhirnya memesan empat kamar. Di hotel kami juga berkenalan dengan guru SM-3T yang ditempatkan di Kupang. Dapat kenalan baru lagi teman seperjuangan. Tengah malam baru aku bisa memejamkan mata.

Rabu, 9 Juli 2014
Bangun kesiangan akhirnya hanya bisa sahur sepotong roti saja. Tapi niat berpuasa masih tertanam kuat, semoga sampai maghrib nanti. Semalam Rifqi sudah memesan kapal jadi pagi harinya kami tinggal menuju ke pelabuhan.
Di kapal menuju Pulau Komodo
Matahari pagi masih hangat, kami menunggu kapten kapal untuk menyeberang Pulau Komodo destinasi utama liburan kali ini. Akhirnya pukul 08.00 WITA kapal meninggalkan pelabuhan. Pandangan menyapu semua tepi yang dikelilingi pulau. Di baliknya langit biru yang masih meneduhkan menjadi penyempurna keindahan satu titik di Indonesia. Empat jam di kapal kami menghalau beberapa pulau kecil seperti Pulau Bidadari, Rinca, dan pulau-pulau lain yang belum kukenal satu per satu.
Setelah mendarat di dermaga Pulau Komodo kami disambut oleh para ranger yang siap memandu perjalanan kami. Alih-alih agar perjalanan aman dari serangan binatang buas yang dilindungi ini. Kami memilih rute midle way yang dipandu Mas Gugus dkk sebagai tim ranger. Mereka membawa kayu yang bagian ujungnya berbentuk V. Katanya kalau-kalau ada Komodo yang menyerang maka senjata itu yang akan langsung beraksi menjepit leher hewan spesies kadal ini.
Bersama Varanus Komodoensis
Belum berjumpa dengan komodo terlebih dahulu kami disuguhi rusa-rusa liar yang sedang berjemur. Perjalanan dilanjutkan sampai akhirnya kami melihat seekor binatang yang sedang berteduh di bawah pohon. Dia sendirian. Kulitnya mirip dengan warna tanah yang kering. Kata Mas Gugus saat itu sedang musim kawin hewan buas ini, jadi mereka tidak banyak bermunculan.
Pelan-pelan kami mengabadikan gambarnya secara bergiliran. Hewan ini seperti berpose saat kami menjepretnya, tapi tetap harus ekstra hati-hati. Meski penglihatannya tidak jelas, namun Komodo mengandalkan indera penciuman untuk memburu mangsanya. Kalau ada bau darah sedikit saja ia sudah langsung menyerang. Akhirnya tertunaikan sudah berfoto langsung dengan binatang yang menjadi satu keajaiban dunia ini. Meski pun hanya melihat satu ekor saja.
Hari yang sama kami melanjutkan penyeberangan ke Pulau Pink yang kata orang wajib dikunjungi kalau liburan disini. Kapal kami terpaksa tak bisa menepi karena laut sedang surut. Akhirnya kapal kecil menjemput kami di zona neritik Pink Beach. Menghabiskan waktu disini, mengisi botol minuman dengan pasir pink, dan akhirnya kami menyudahi snorkeling di pink beach.
Liburan kami sudahi di dua pulau ini. Kapal kembali menuju Labuan Bajo pada sore hari. Kami masih menahan diri untuk berpuasa. Alhamdulillah sampai juga waktu maghrib saat masih berada di kapal. Aku menyaksikan langsung matahari tenggelam menandakan kalau waktu berpuasa sudah habis.
“Nikmat sekali buka puasa di kapal dengan makanan seadanya,” kata Rifqi.
Pihak kapal hanya menyediakan air panas satu termos, teh, dan gula. Sedang kami hanya membawa air mineral dua botol besar dan beberapa roti sisa sahur tadi. Tetap nikmat karena dinikmati bersama-sama.
Sampai di pelabuhan kami menyegerakan diri menuju hotel dan bersih-bersih diri. Menyegerakan untuk mencari santapan buka puasa yang sebenarnya. Setelah ituah barulah free time untuk masing-masing, menyiapkan tenaga untuk kembali ke Ngada besok pagi. Sampai jumpa Komodo, sampai jumpa Pink Beach, sampai jumpa Labuan Bajo kelak aku aku akan mengunjungimu lagi. (*)

oleh Fitri Nurhayati

Minggu, 13 Juli 2014

Sering Pingsan, Elsa Tetap Percaya Diri

Paras dewasa nampak dari wajahnya yang sederhana, sebanding dengan usianya yang sudah lewat 23 tahun. Biasanya gadis di usia ini sedang sibuk memikirkan dandanan atau bahkan gandengan lawan jenis yang akan diajak seriusan, namun hal itu tidak berlaku bagi Elsa. Di usia yang seharusnya sudah memasuki fase dewasa ini ia masih berperilaku  layaknya ABG yang sedang menikmati masa pubertas.
Jangan heran, karena pemilik nama Maria Felisitas T. Bei ini memang baru duduk di kelas 2 SMA. Saya mendapatinya saat menjadi guru SM-3T di SMA S Kejora Riung, Nusa Tenggara Timur. Di kelas XI Bahasa yang saat itu sedang jam kosong saya mengenal Elsa. Saat itu iseng saja mengisi kelas kosong karena guru yang bersangkutan sedang dinas luar, kebetulan pada minggu pertama penempatan di sekolah ini saya belum mendapat jadwal mengajar.
Di kelas yang saat itu dindingnya masih kasar dan jendelanya tak berkaca saya mengenalkan diri, diikuti para siswa satu per satu. Ternyata tanpa dipancing lebih mendalam beberapa siswa dengan sukarela memperkenalkan diri masing-masing termasuk Elsa. Dikatakan bahwa gadis berparas gemuk ini adalah yang usianya paling tua di kelas, diikuti siswa lain yang usianya terpaut lima sampai enam tahun lebih muda. Melihat sekilas wajah Elsa saya pikir tidak ada perbedaan yang mendasar dengan siswa lainnya. Apalagi saat mereka membaur dan melakukan aktivitas di kelas secara bersama-sama.
Ikatan rambut yang menjadi ciri khasnya ini menjadikan dandanan Elsa terpaksa masih seperti ABG. Namun tidak demikian untuk soal keberaniannya saat unjuk gigi di depan kelas. Percaya dirinya muncul tanpa benteng penghalang sedikit pun saat saya meminta mereka untuk meramaikan kelas dengan sukarela usai sesi perkenalan. Elsa adalah siswa pertama yang mengangkat tangan untuk bersedia memberikan hiburan dalam kelas. Ia menyanyi sendirian dengan membawakan lagu Air Susu Mama. Berdiri di depan kelas dengan pakaian rapi, sepatu hitam, dan senyum malu-malu sambil sesekali membuang pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.
Sontak kelas menjadi tenang menyaksikan keberanian Elsa bernyanyi sendiri di depan kelas yang tentunya hal ini tidak pernah dilakukan siswa lain. Keberanian gadis bermata bulat ini pula yang memicu siswa lain untuk ikut unjuk keberanian di depan kelas. Mereka tak ingin kalah dengan Elsa meski siswa lainnya maju dengan membawa teman, ada yang berdua, bahkan bertiga.
Gadis yang duduk di kursi pojok kiri tepatnya nomor dua dari depan ini mendapat applause meriah saat menyudahi penampilannya. Setiap kali saya menjatuhkan pandangan padanya karena kagum, Elsa hanya tersenyum malu. Sejak itulah saya mengira kalau siswa di sekolah ini mempunyai keberanian dan rasa percaya diri yang tinggi. Namun anggapan ini saya bantah sendiri setelah menjumpai karakter siswa yang beragam bahkan penilaian untuk beberapa kelas dengan tingkatan yang berbeda pula. Sampai sekarang yang masih meninggalkan kesan percaya diri  luar biasa adalah Elsa.
Keesokan harinya usai apel pagi seorang guru menghampiri saya di kantor, Maria Selviana Koka Owa namanya. Guru pengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia ini juga dipercaya menjadi wali kelas Elsa. “Ibu kemarin masuk kelas Bahasa? Bagaimana pertama masuk kelas itu bu?” tanya dia.
Saya menceritakan keasyikan saat berada di kelasnya selama dua jam pelajaran, termasuk kesan pertama saya pada Elsa. Ibu Selvi bercerita tentang Elsa menjadikan saya semakin yakin bahwa siswa yang satu ini memang menjadi perhatian banyak kalangan, entah karena percaya dirinya, usianya, atau faktor lain yang belum saya ketahui dengan detail.
Dikatakan bahwa Elsa kecil dulunya pernah jatuh dari tempat tidur hingga mengakibatkan benturan di kepala. Saat itu memang tidak parah namun dokter mengatakan kejadian ini mungkin dampaknya akan terasa saat si gadis memasuki usia remaja atau dewasa. Seharusnya sekarang ia sudah duduk di bangku kuliah  atau bahkan sudah lulus sarjana. Tak salah dugaanku, bahwa anak ini istimewa dan membutuhkan perhatian khusus dalam perkembangan belajarnya.
Kejadian masa kecil itu pula, kata Selvi yang membuat gadis ini sering sakit di sekolah. Bisa sampai pingsan atau kejang seperti orang ayan. Penyebabnya sederhana, hanya karena kelelahan, pikiran stress, atau suasana hati yang tidak menyenangkan. Apalagi duduk di kelas dua SMA tentu ia harus menjumpai materi pelajaran yang tingkat kesulitannya mulai tinggi. “Makanya dia tidak boleh kelelahan dan pikirannya juga tidak boleh stress,” ujarnya Selvi.
Sering orangtua Elsa datang ke sekolah untuk menjemput anak pertamanya ini. Selvi mengakui si bungsu dari tiga bersaudara ini memang rajin dan ulet meski secara kepandaian ia terbilang lambat apabila dibandingkan siswa lain di kelasnya. Beruntung siswa lain mempunyai sifat terbuka dan memahami kondisi Elsa. Keterlambatan Elsa dalam memahami pelajaran atau bersosialisasi juga dimungkinkan akibat kecelakaan semasa kecil.
“Semangat belajarnya tinggi, biarpun pemahamannya terbilang lambat. Tapi kita harus terus memberi semangat pada Elsa,”ujarnya.
Rajin yang dimaksud Selviana saya buktikan tidak hanya saat berada di kelas mengerjakan soal ujian sampai waktu habis saja, namun saya juga melihat keuletannya saat ia menenteng keranjang cukup besar berisikan mangga aromanis. Setiap musim panen ia membawanya ke sekolah untuk dijual kepada guru atau teman-temannya. Dijualnya seharga Rp 10 ribu untuk satu plastik berisi empat sampai lima lima mangga tergantung besarnya.
“Buat bantu orangtua bu,” kata Elsa saat ditanya kenapa menjual mangga. Hal yang dilakukan Elsa ini belum tentu dengan mudah dilakukan siswa lain di sekolahnya. Rasa percaya diri gadis Flores yang satu ini seharusnya dapat menginspirasi siswa lain setidaknya saat berada di dalam kelas. 

Jumat, 04 Oktober 2013

Bersentuhan dengan Laut Flores


AKU tidak pernah memikirkan untuk menulis sesuatu yang indah tentang Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan berlatar pantai. Dalam benakku hanya ada gambaran tentang kondisi sekolah yang memperihatinkan dan membutuhkan sedikit sentuhan mesra dari tangan-tangan generasi muda. Sebab dari cerita SM3T angkatan sebelumnya pulau yang ada di Indonesia timur ini sungguh miris, meski tak sedikit pula yang bercerita tentang keindahan alam yang terkandung di dalamnya. Mengingat niatan awal saat meninggalkan tanah Jawa, tujuanku ke provinsi yang ada di Pulau Flores ini adalah untuk menjadi pendidik, sebagai guru bantu yang ditugaskan Dikti kepada kami.
Septi, Pipit, Irsyad, Mala, dan Azifa
Belum genap sebulan aku tinggal di Flores, ada banyak bisikan mesra dari penduduk setempat yang mengharuskanku untuk mengunjungi beberapa tempat indah di pulau ini, termasuk di dalamnya adalah 17 Pulau Riung. Mulai dari rekan guru di sekolah, muridmu, tetangga baik yang dekat maupun jauh menceritakan tentang pulau di seberang Dermaga Nangamese ini. Tak sabar ingin membuktikan langsung surganya Flores, aku beserta rombongan mendatanginya, Minggu (29/9).
Masih terbilang pagi saat kami memulai perjalanan dari Dermaga Nangamese menuju pulau yang paling dekat, yaitu Pulau Kelelawar. Kapal motor berwarna putih bertuliskan EPEN mulai meninggalkan dermaga. Kami sengaja berangkat saat fajar belum menyingsing. Tujuannya agar cuaca belum terlalu panas dan alam juga masih sangat bersahabat. Harapan kami waktu itu cukup sederhana, semoga hari ini menjadi Minggu yang menyenangkan.
Dari bibir dermaga sudah terlihat hamparan pulau yang membentang sejauh mata memandang. Bentuknya memang nampak sederhana, namun keindahan sederet daratan diseberang laut itu didukung dengan rona siluet berlatar langit kebiruan yang masih remang-remang. Begitu juga dengan permukaan Laut Flores yang nampak sangat tenang dengan selimut angin pagi yang kian berhembus.
Flores pagi itu membuat aku, Azifa, Septi, Mala, dan Irsyad tak sabar untuk menginjakkan kaki di 17 Pulau. Tak lupa juga ditemani rekan guru dari SMP Negeri 1 Riung yang merupakan kenalan baru kami, Ibu Masran dan Ibu Ami namanya. Meski mereka belum menikah dan umurnya tidak jauh berbeda dengan kami namun sapaannya akrabnya tetap diawali dengan ibu karena kami terbiasa memanggil dengan sebutan ibu guru di sekolah.
Baru beberapa mil meninggalkan daratan Nangamese mata kami sudah dimanjakan dengan panorama alam yang berlatar langit dan air yang tenang. Seandainya aku bisa melukisnya maka tak butuh banyak warna untuk memperindah objek ini. Hanya warna dasar biru, kemudian disempurnakan dengan hijau, hitam, dan sedikit polesan putih atau lain agar lukisanku lebih berbicara.
Dari 17 pulau yang berjajar rapi dan jaraknya berdekatan yang pertama kami kunjungi adalah Pulau Kelelawar. Di seberang sana terlihat seperti dedauan berwarna hitam menempel diranting pohon. Kapal kami sudah mulai mendekat dengan pepohonan rindang itu. Belum usai menyaksikan keindahan pulau yang dihuni ribuan kalong ini kapal motor yang kami tunggani berjalan lebih lamban. Kata Ombing, sang komandan, kapal sengaja berjalan lebih pelan agar kami bisa melihat keindahan taman laut yang ada disekeliling kapal.
Kulambaikan tangan mengarah ke air sambil sesekali membasahinya. “Sepertinya puas sekali kalau aku bisa menyaksikan langsung taman laut tidak hanya dari kapal saja. Mumpung sedang ada di laut, tubuhku harus basah dengan air Flores,” aku hanya bisa menggerutu dalam hati. Kami terus melanjutkan perjalanan menuju kalong-kalong yang masih mendekap pepohonan.
Seperti sedang beristirahat, mereka nampak tenang dan pastinya enggan untuk diganggu. Tapi kalau didiamkan saja kami tak bisa melihat keindahan ribuan kalong yang tinggal di pulau ini. Kapal semakin mendekat dan mengarah ke tanaman bakau yang mengelilingi pulau ini. Ombing berteriak kencang membangunkan hewan yang suka tidur di siang hari ini. Tempatnya terbuka, di laut bebas sehingga suara Ombing juga terdengar lantang. Tidak menggema atau bahkan terganggu dengan kebisingan suara Ombing kecuali ribuan kelelawar ini. Mereka terbang sejenak meninggalkan peraduannya masing-masing. Inilah kesempatan kami untuk mengabadikan mereka meski hanya dengan kamera poket sederhana. Setidaknya bisa menjadi barang bukti untuk kami ceritakan dengan keluarga di kampung halaman bahwa Flores memang indah, mempesona, dan luar biasa.
Tak ada daratan yang nyaman untuk kami singgahi di Pulau Kelelawar, terpaksa kami tidak turun dari kapal. Paling pol kami berdiri di ujung kapal dan berfoto dengan background langit biru, dihiasi tanaman bakau yang keindahannya disempurnakan dengan ribuan kelelawar beterbangan.
Tak lama kami berhenti di pulau kecil ini, karena perjalanan harus terus dilanjutkan.
Saat perjalanan menuju pulau berikutnya ternyata Ombing menyuruh kami untuk terjun langsung ke laut. Memang tidak dalam ini terbukti dengan tanaman dan ikan-ikan kecil yang terlihat menyambut kedatangan kami. Mereka menampakkan diri dibeningnya air laut yang sangat transparan ini. Oh betapa segarnya saat melihat Ombing terjun bebas dari bibir kapal. Aku tak ingin kalah mencicipi asinnya laut bebas yang kaya akan keindahan alam ini. Akhirnya dengan mengenakan pelampung aku juga ikut terjun membasahi diri.
Nyebur laut bebas dari Pulau Kalong ke Rutong
Untuk yang pertama kalinya aku terjun ke laut bebas dan bercengkerama langsung dengan penghuninya. Asin yang amat sangat dan mata ini langsung terasa pedih padahal aku belum melihat dasar laut, ah akibat lupa mengenakan kacamata. Setelah seorang teman memasangkan kacamata barulah aku bisa mengintip dengan jelas bintang laut dan ribuan tanaman lain yang sangat terlindungi keberadaannya. Tak lupa terlihat juga ikan kecil yang tubuhnya bercorak indah dan bentuknya unik nan beragam.
Flores, taman lautmu sungguh indah. Mengenalkanku pada rasa asin yang teramat dan segarnya air yang membasahi tubuh. Aku sudah bercengkerama langsung denganmu dan ribuan penghunimu yang lain, puas rasanya.
Kapal motor terus berlayar, kini perjalanan kami menuju Pulau Rutong atau biasa dikenal dengan pasir putihnya. Belum sampai di pantai mata ini kembali disuguhi dengan keindahan alam yang sangat mempesona. Kali ini warna alam memang sangat sederhana namun memanjakan mata. Hanya warna pasir putih yang membentang disepanjang pantai dan beberapa pepohonan kering yang sebagian telah meranggas. Airnya nampak jernih dengan perubahan warna yang terlihat semakin kontras. Mulai dari yang paling dekat dengan kapal motor kami warnanya sangat biru, menandakan bahwa kedalamannya masih teramat sangat. Kian mendekat ke daratan warna laut sudah menjadi lebih cerah hingga akhirnya warna biru yang sangat muda bahkan bening hingga warna pasir putih terlihat jelas.
Terbayar sudah impian yang kubayangkan sejak tadi malam untuk menginjakkan kaki ke pulau pasir putih. Tak ada ragu sedikitpun untuk kembali membasahi diri. Kubentangkan tubuh ini agar semua bagian basah oleh air Rutong. Tak ada rasa takut akan kulit hitam atau kering nantinya, yang penting bisa bercengkerama dengan panorama alam ini.
Terlihat seorang bocah perempuan sedang mengumpulkan bintang laut yang mampir ke bibir pantai. Aku sedikit berkenalan dengannya, ternyata ia datang dari Medan yang sengaja ingin berlibur di Flores bersama keluarga. Akhirnya bintang laut tak lagi menjadi makhluk asing yang kupegang. Nampak cantik dengan coraknya yang bervariasi dan bentuknya yang indah. Setidaknya bisa mewakilkan gambaranku tentang bentuk bintang yang sebenarnya. Tidak hanya membayangkan bentuk bintang yang ada di langit saja, tapi aku bisa menyentuhnya langsung meski ini bintang laut.
Beberapa wanita tua juga nampak sibuk mengumpulkan kerang yang nantinya akan dijual ke pasar atau untuk konsumsi sendiri. Aku juga ikut mengumpulkannya meski hanya sekadar iseng saja. Dengan mengorek pasir putih yang lembutnya seperti tepung, kami menemukan banyak benda unik yang tak pernah dijumpai di daerah pegunungan tempatku berasal.
Flores memang indah, sekali lagi aku meyakinkan diri bahwa pulau ini benar-benar indah. Sangat tepat untuk melepas penat atau menghilangkan stress setelah menjalani banyak rutinitas.
Pulau Rutong merupakan satu dari 17 pulau yang biasa dikunjungi wisatawan baik asing maupun domestik. Pulau ini tidak terlalu luas, hanya berbentuk bukit yang menjulang, apabila kita menaikinya maka akan semakin terlihat jelas bentang alam di perairan ini.
Ibu Ami mengajakku berjalan mengelilingi pulau dengan melewati bibir pantai. Aku lebih memilih berjalan di air yang agak dalam agar bisa berenang sambil melihat taman laut yang penghuninya sangat beraneka ragam. Berputar di satu pulau tak membutuhkan waktu lama. Kami mengakhirinya di tempat yang sama saat mendarat dan kembali menikmati laut bebas yang tak ada batasnya saat dipandang. Hanya beberapa bagian saja yang dipagari pegunungan dengan tanah gersang akibat kemarau panjang.
Matahari sudah sangat terik menerangi langit kami, kemudian memantulkan cahayanya ke segala penjuru termasuk pulau ini. Sudah puas rasanya mengelilingi pulau, kini tinggal perut yang sudah mulai keroncongan. Jajanan bekal kami sudah habis dimakan selama perjalanan menuju Rutong. Ah tapi perut ini masih saja meminta asupan makanan. Tak apalah rasa lapar dibayar dengan tontonan alam yang indah, kami berharap rasa lapar ini segera pergi jauh dari perut.
Baru dua pulau, tentu masih terbayang dengan keindahan pulau lain yang mempunyai karakteristik tersendiri setiap kali dikunjungi. Sekarang kami kembali berlayar menuju pulau berikutnya. Namanya Pulau Tiga, merupakan pulau terakhir yang kami kunjungi. Kebanyakan wisatawan hanya mengunjungi tiga pulau, karena sisanya yang lain mempunyai gambaran yang hampir sama.
Kalau Pasir Putih lebih banyak menghadirkan hewan laut yang singgah di bibir pantai, Pulau Tiga sedikit berbeda. Ia lebih banyak disinggahi ikan laut yang beranekaragam. Nelayan pun mencari tangkapan ikan di pulau ini. Saat turun dari kapal motor, terlihat sebuah kapal besar yang di dalamnya banyak ikan kecil sedang dijemur. Baunya sangat menyengat saat kami melintas di sampingnya. Ombing dan Irsyad membantu nelayan ini untuk mendorong kapal agar sedikit menjauh dari pantai.
Ternyata Pulau Tiga juga lebih banyak menarik para turis asing, karena tempatnya lebih sepi dan banyak pepohonan untuk berteduh. Ikannya lebih banyak, bahkan saat menyelam dekat tanaman tembakau mereka akan terlihat lebih jelas. Ada ribuan ikan disana, saat kami menyelam untuk melihat langsung keindahan mereka, ikan-ikan ini juga tidak pergi malah semakin mendekat. Bisa bercengkerama dengan ikan kecil sungguh mengasyikkan. Hingga penyelaman kami berhenti di pantai yang lebih sepi. Kami berteduh di balik pohon besar, rehat sejenak untuk saling bercerita dengan bahasa masing-masing. Sebagai pemersatunya kami bercakap-cakap menggunakan Bahasa Indonesia.
Ombing menirukan gaya bahasa orang Lengkosambi, sebuah desa yang ada di Kecamatan Riung tempat Mala mengajar. Kami tertawa terbahak-bahak karena bahasanya yang unik. Meski tidak tahu apa maksudnya tapi kami tetap tertawa karena Ombing menirukannya dengan sangat lucu. Cepat, kasar, keras, dan sedikit membentak khas cara berbicara orang NTT. Jangan kaget kalau berbicara dengan penduduk asli pulau ini. Kalaupun menggunakan bahasa persatuan tetap saja susunan katanya tidak baku seperti Bahasa Indonesia. Apapun itu, kami tetap tertawa.
Langit sudah sangat terik, baju kami pun sudah mulai kering. Tak mempedulikan hal itu, kalau saja masih berkesempatan mengunjungi pulau lain tentu akan kami kunjungi. Tapi sepertinya pesiar pertama dicukupkan dulu, lain waktu pasti kami akan datang lagi.

17 Pulau Riung, kau adalah indah yang dapat kami jamah
kau adalah rindu yang dapat kami cumbu
diujung pandanganku ada panorama cantik yang kau gambarkan
pesiar pertamaku membuat nona jatuh hati padamu

Jumat, 5 Oktober 2013
00.16 WITA