Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Mei 2015

Kehilangan


kapan aku akan kehilangan kemenangan
aku membentang hanya untukmu
dan aku dapat mencapai langit
apapun aku bisa
karena cintamu menjadi mengagumkan
karena cintamu memberi ilham kepadaku
dan kapan aku memerlukan seorang teman
kau selalu memihakku

Jumat, 12 September 2014

Indonesia Bangga

Dulu cita-citaku ingin jadi presiden
Berpakaian rapi, mengenakan jas, dan berdasi
kemana pun pergi selalu dikawal bodyguard
setelah dipikir ulang menjadi presiden mungkin hidupnya tidak tenang
aku harus mengurus negara
Akhirnya cita-citaku berganti ingin jadi dokter
Menyembuhkan orang sakit dan memberi suntikan obat
tapi sayang kuliah di kedokteran itu mahal
kalau pun ada beasiswa hanya untuk anak-anak yang pintar
kembali kuurungkan mimpi kedua
Cita-citaku baru lagi, kali ini ingin jadi tentara
Angkat senjata untuk membela negara
tapi fisikku tak memenuhi syarat
tidak kekar, tidak membaja, tidak pula siap untuk selalu push up
akhirnya kuurungkan mimpi ketiga

Masih ada cita-cita lain, kali ini aku hanya ingin kebebasan
gagal jadi presiden, dokter, dan tentara membuatku pasrah
aku ingin jadi orang bebas saja yang bisa keliling Indonesia
Tapi kalau jadi orang bebas darimana aku dapat uang untuk bisa keliling Indonesia
Ah, memikirkan cita-cita memang tidak ada habisnya
tanganku tak sampai untuk menjangkau banyak mimpi yang melenakan
Akhirnya cita-citaku menjadi sangat sederhana, jadi guru
mungkin akan lebih mudah untuk kujangkau
kulihat tetanggaku yang jadi guru hidupnya enak
berangkat pagi, siang sudah pulang
gajinya juga mungkin akan cukup untuk membawaku keliling Indonesia
Semesta sepertinya mendengar mimpiku yang satu ini
alam bertasbih seperti tasbihku pada tuhan di malam hari
jadilah aku seorang guru yang ingin hidup enak dan bisa keliling Indonesia
Suatu hari alam menghembuskan angin segar
mengantarku mengunjungi titik-titik indah di Indonesia
aku dikirim menjadi guru di pulau seberang yang penuh keterbatasan
kudapati disana ada calon presiden yang bijaksana, calon dokter yang pintar, 
calon tentara yang kuat, ada juga calon guru yang sederhana
Kurasakan menjadi guru pun ternyata tak mudah
Aku tak lagi memikirkan gaji dan kerja yang nyaman
tapi bagaimana caraku bisa memintarkan anak orang
Ada satu yang menjadi kebanggan
aku bisa mengantarkan tunas-tunas bangsa meraih mimpi
menjadi presiden, dokter, tentara,
dan akan banyak orang sukses lainnya yang lahir dari tanganku
Perlahan mimpi keliling Indonesia tertunaikan
Malahan aku tak hanya mengenal bahwa negeri ini indah
tapi negeriku punya banyak tunas yang masih terpendam
dan tugasku untuk menumbuhkan
Tempat baru mengajarkanku tentang perjuangan meraih mimpi,
tentang pengabdian kepada negeri, tentang keikhlasan untuk berbagi
Ah, ingat guru ingat kamu
aku dan kamu akan membuat bangga Indonesia

Riung, 13 Agustus 2014
Pipit Nurhayati 

Minggu, 13 Juli 2014

Takut Laptop Bu Guru Rusak

Murid SMAKER Riung, Flores, NTT
Aku mempersilakan siapa saja yang ingin mencoba menuliskan nama dan cita-citanya Ternyata tidak ada satu pun yang berani maju di depan kelas

HAMPIR seminggu masuk sekolah aku masih belum mendapat jadwal mengajar. Ada dua kelas yang kebetulan jamnya kosong karena guru pengampu jadwalnya bentrok dengan jadwal mengajar di sekolah lain. Hal ini sudah biasa terjadi bahkan hampir di semua sekolah. Tak heran apabila siswa sering ketinggalan materi pelajaran.
Beberapa guru masih disibukkan dengan persiapan kunjungan kerja perdana Kepala Dinas PKPO Kabupaten Ngada. Maklum kunjungan ini merupakan yang pertama dilakukan oleh orang nomor satu di Dinas PKPO setelah sebulan ia menjabat. Untuk itulah butuh persiapan yang matang, terlebih kunjungan ini melibatkan seluruh sekolah baik negeri maupun swasta yang ada di Kecamatan Riung. Kebetulan sekolahku ketempatan untuk kunja perdana ini.
Waktu itu kelas 3 IPS 1 dan 2 yang kosong, seharusnya mereka belajar TIK. Dua kelas ini terpaksa digabung karena satu ruangan sedang direnovasi untuk sementara waktu.
Daripada duduk di ruang guru aku memilih masuk kelas yang kosong. Ada waktu dua jam untukku bercakap-cakap dengan mereka. Seperti di kelas lain aku selalu mengenalkan diri dan sedikit menceritakan profil singkat tentang diriku sendiri. Bukan apa-apa tujuannya hanya memberi motivasi kepada mereka untuk terus belajar. Kalau perlu sampai mereka merantau ke tanah orang dan kembali ke kampung halaman untuk membangun kampung halamannya.
TIK sebenarnya adalah pelajaran yang sangat menyenangkan, seperti pengalamanku dulu saat duduk di bangku SMP. Selain bisa mengenal teknologi aku juga tidak perlu banyak berfikir seperti halnya saat mata pelajaran yang lain. Mapel yang satu ini tinggal praktik langsung, tinggal klik dan layar akan berubah dengan seketika. Mengenal teknologi seperti komputer waktu itu memang sangat luar biasa, maklum kami orang desa yang sebelumnya tidak pernah mengenal teknologi yang terbilang canggih ini. Tak heran jika muridku saat ini merasakan hal yang sama, hanya saja persentase praktik mereka lebih sedikit ketimbang teori, bahkan nyaris tidak ada praktik sama sekali.
Bahkan KBM sudah berjalan hampir dua bulan namun guru mapel TIK sama sekali belum pernah masuk kelas. Siswa hanya diberi tugas mengerjakan soal yang ada dalam buku paket, membaca materi sendiri, dan memahaminya sendiri. Sudah salah kaprah pembelajaran semacam ini. Tapi apa mau dikata kondisi sekolah yang tidak memungkinkan.
“Kalian pernah belajar komputer?” tanyaku dalam kelas.
“Pernah bu waktu SMP tapi sudah lupa. Diajari ngetik saja,” kata seorang anak.
Dalam benakku seharusnya mereka sudah tak asing dengan komputer tapi pada kenyataannya tidak. Pelajaran ini butuh praktik sehingga siswa bisa memahami langsung apa yang mereka pelajari.
“Sekarang tutup bukunya. Kita belajar ngetik yaa,”
“Asyik...”
Kebetulan aku membawa laptop dan terpaksa aku juga meminjam netbook milik Septi yang waktu itu sedang duduk santai di ruang guru. Ia bersedia membantuku untuk mengawasi anak-anak saat belajar mengetik. Hanya ada dua laptop di dalam kelas, tak apa setidaknya mereka bisa menyentuh yang namanya komputer.
Sebelumnya kujelaskan beberapa bagian yang di dalamnya, mulai dari layar monitor, keyboard, mouse, dan coolpad yang aku bawa. Meski sebenarnya aku  juga tidak menguasai semua piranti dalam teknologi ini. Ternyata sebagian dari mereka masih ada yang ingat, ada yang menirukan suaraku saat menyebutkan beberapa perangkat keras ini.
Satu per satu aku menyuruh mereka menulis nama dan cita-cita yang ingin dicapai kelak setelah mereka dewasa. Tujuanku tidak hanya belajar saja, namun aku juga ingin membangun motivasi belajar siswa untuk meraih cita-cita.
Semua siswa kegirangan saat laptop kusiapkan di depan kelas. Aku mempersilakan siapa saja yang ingin mencoba menulis nama dan cita-citanya. Ternyata tidak ada satu pun yang berani maju ke depan kelas.
“Takut laptop bu guru rusak,” kata Maria Yein yang saat itu duduk di kursi deretan paling depan.
Aku sedikit tergelitik dengan pengakuan mereka. Lugu, jujur, tapi sebenarnya mempunyai semangat belajar yang tinggi. Sebenarnya sekolah punya beberapa unit komputer, kelihatannya ada enam komputer yang masih baru hanya saja sepertinya jarang sekali digunakan. Ini karena terbatasnya tenaga pengajar yang terbilang mumpuni di bidangnya, kalau pun ada mereka harus membagi waktu dengan kelas atau sekolah lain.
Aku memandu mereka agar semua siswa bisa mencoba mengetik di laptopku. Mulai dari Yein yang kebetulan memang duduk di kursi paling depan. Kemudian diikuti siswa lain yang duduk disampingnya. Setelah seorang siswa maju untuk praktik maka siswa lain sudah tak lagi segan untuk mencoba kegiatan yang sama.
Dua jam pelajaran terasa sangat cepat. Hasil dari tulisan mereka memberitahukan padaku bahwa sebenarnya anak-anak ini punya cita-cita yang luar biasa. Ada yang ingin menjadi guru, polisi, tentara, dokter, ahli matematika,  jadi pastor, dll.  
Di luar sana terdengar lonceng berbunyi nyaring pertanda sudah waktunya ganti pelajaran. Aku bergegas menutup pertemuan kali ini dan kukatakan suatu saat aku akan kembali ke kelas ini, kalau ada jadwal mengajar atau hanya ingin menengok mereka di kelas.
Aku bergegas mematikan laptop dan segera menuju ruang guru. Mama Sisi sudah bersiap diri untuk masuk ke ruang kelas yang sama.
“Nah begitu bu Fit anak-anak senang kalau belajar komputer apalagi praktik langsung. Sekarang gantian saya yang masuk kelas,” kata Mama Sisi sembari membawa Buku Matematika yang akan disampaikan kepada siswaku tadi. (*)

Kamis, 13 Juni 2013

Hadirlah cinta



Hadirlah cinta...
meski hanya dalam diam
karena engkaulah yang akan menguatkanku
meraih mimpi, menaklukkan hari ini
seandainya kehadiranmu bukan untuk saat ini
setidaknya aku pernah berharap,
dan kita pernah sama-sama saling berharap

Antara kita juga pernah saling menjamu kehadiran cinta
ketika mereka pergi, bukan berarti kita juga ikut pergi
karena dalam penantian yang panjang,
akan ada sebuah kehadiran yang menyejukkan
tiada yang lain, antara kita hanya cinta

Purwokerto, 12 Juni 2013
00:56 WIB

Kamis, 04 April 2013

Imajinasi Pagi

AKU mempunyai imajinasi yang begitu subur
hingga tak ada lagi yang kuinginkan 
selain membaringkan diri dan menutup mata
Saat itulah aku dapat mencapai khayalan tertinggi, 

menggapai angkasa yang maha luas
Aku terbebas untuk menuruti apapun yang aku suka 

hingga tak terhitung bahwa sesungguhnya asa telah menjadi nyata
Satu per satu aku genggam kenikmatan dan tak pernah tahu berapa jumlahnya
Bintang-bintang seolah telah ku rengkuh, 

sedangkan yang cahayanya paling terang masih setia dalam peraduannya
Sinarnya nampak menyendiri nan jauh disana, 

seperti mata yang indah berkilauan memancarkan kecintaan dan seruan
Sedangkan sepercik cahaya disampingnya terlihat membebaskan diri
Seakan berbicara, berbisik, dan mengaduh
Mereka menjadi saksi imajiku yang kian bertaburan
Telah banyak langkahku yang seolah tak berkesudahan 

namun sesungguhnya menjumpai keberhasilan, meski sedikit dan tanpa disadari
Kini tak ada lagi keraguan untuk meraihnya, 

karena sesungguhnya banyak keraguan yang tidak ada buktinya
Saatnya meraih senyuman di pagi hari dan segera ucapkan selamat datang
Sungguh aku sangat merindukanmu pagi...

Selasa, 26 Maret 2013

Senin, 14 Januari 2013

Bunga Masa Depan



Jalan mendaki memang berat tapi mulia dan dimuliakan
Tak banyak yang mampu bertahan, bahkan sebagian dari mereka berhenti di tengah jalan
Sebenarnya disinilah letak nikmatannya
Karena sebentar lagi akan dijumpai langit yang indah setelah mencapai puncaknya.
Kepada bunga-bunga masa depan
Berhias dirilah dengan sederhana, agar tak melunturkan keanggunan pada setiap rantingnya
Meski kumbang datang menawarkan racun yang memabukkan
Niscaya keindahanmu akan tetap melekat andai engkau siap menjaganya
Berhias dirilah dengan sederhana
Seperti embun yang tak lupa menghias pagi agar tetap menyejukkan
Seperti hujan yang menghias langit, saat memerangi panasnya matahari
Dan seperti bintang yang melekat di atap bumi agar tetap gemerlap di malam hari
Sungguh sederhanamu adalah mahkota luar biasa yang memancarkan kejayaan di taman cinta.

Pipit Nurhayati

Kamis, 22 November 2012

Bintangmu

Bintik itu tak akan cantik kalau tidak menempel di langit yang hitam
Maka jangan salahkan jika sebagian belahan bumiku tak tersentuh cahaya
Karena ini menandakan matahari sedang memberi peluang untukmu bersinar
Ia berharap kau tak kalah dengan kilau angkasa yang menjadikannya indah

Jemariku tak akan mampu menghitung seberapa banyak pesaingmu malam ini
Tapi tetap saja cahayamu masih yang paling te
rang
Akan aku tunjuk satu bintang, itulah bintangmu, dan itulah cahayamu.

Ajari aku bagaimana memandang sinarmu dari berbagai sisi
Agar aku dapat melihat tidak hanya dari permukaan bumi, 
tapi dari setiap sudut keberadaanmu
Meski harus menjelma tanpa tahu sebatas apa luas jagat semesta.
Sebelum matahari membenamkan disaat aku tak mampu.

Lelaki Pertama

Rambutnya ikal, kasar, hitam, dan kaku. Matanya tajam tetapi menenteramkan. Senyumnya menampakkan lesung pipit yang membuat setiap orang ingin mencibirnya. Sikapnya tegas, pendiriannya pun membaja. Kesetiaan tak pernah lekang bagai karang. Kejujuran menjadi modal, dan kecerdasan menjadi perisai hidupnya.
“Lelaki pertama yang aku kagumi.Demikian pujianku setiap merayunya.
Suara lelaki itu akan mengguntur bila ia berang, namun akan terdengar bagai lagu penawar rindu bila ia senang. Dalam dirinya mengalir kebijaksanaan dan ketulusan. Pada seisi gubug ini mengalir keringat sucinya. Dari dalam dada ia mengemban seribu amanah, aku, Si Mbok, dan Syarif.
Sudah dua tahun lelaki itu tak pernah lagi mengunjungi gubug kami. Gubug tua yang mengenalkan aku tentang hidup dan kehidupan. Dari dalam gubug ini aku mendengar pertengkaran Si Mbok dengan lelaki ini, hampir setiap malam. Aku selalu mengintip bersama angin malam dari lubang pagar bambu yang sudah usang. Permasalahan tentang kebutuhan keluarga yang tidak pernah tercukupi. Sebenarnya hal itu adalah permasalahan klasik dalam setiap rumah tangga.
***
Sabtu pagi, lelaki itu berpamitan akan pergi ke Jakarta untuk bekerja agar dapat mencukupi kebutuhan kami sekeluarga. “Agar Si Mbok tidak ngomel lagi, katanya. Pagi itu sungguh menambah ketidakberdayaan hari kemarin.
Sebulan sekali lelaki itu pulang dengan menenteng satu kilogram apel merah kesukaanku. Bekerja di Jakarta cukup menambah pemasukan keluarga kami sehingga kehidupan kami terasa lebih harmonis dari sebelumnya. Bahkan aku tidak lagi mendengar perselisihan di sudut ruangan pada malam hari. Karena pertemuan kami untuk berkumpul memang sangat terbatas. Begitu juga dengan Si Mbok, ia terlihat sangat menikmati kebersamaan ini.
            “Kelak  kau akan menjadi orang sukses nak,” gumamnya sambil membelai rambutku dengan mesra. Belaian lelaki pertama yang aku kagumi yang jarang sekali aku rasakan. Sungguh pertemuan yang membuatku tak ingin mengakhirinya.
Namun memasuki tahun pertama bekerja di Jakarta, intensitas kepulangan lelaki itu mulai jarang. Si Mbok mulai cemas dengan kondisi ini. Betapa tidak, lelaki lain yang satu kampung dengan kami sudah pulang, bahkan sudah berangkat lagi. Kian hari lelaki itu sama sekali tak memunculkan tubuh perkasanya lagi. Kami kelimpungan harus mencari ke Jakarta. Jakarta sangat luas, tempat kerjanya pun tidak menetap.
Aku ingat, lelaki itu pernah bercerita tentang pekerjaanya menjadi penjahit borongan. Penghasilannya akan lebih banyak apabila mendapat orderan yang banyak pula. Biasanya ia menjahit pakaian seragam dari perusahaan atau instansi tertentu, jadi penghasilannya tidak menentu.
Karena kecemasan Si Mbok yang sudah tidak karuan, aku beranikan diri untuk menyusul lelaki itu ke Jakarta. Kepergianku itu, disusul kecemasan Si Mbok dan Syarif yang sangat besar. Seorang gadis yang belum pernah pergi ke kota metropolitan sendirian, memberanikan diri pergi hanya berbekal alamat yang pernah lelaki itu tinggalkan di gubug kami.
***
Inikah Kota Jakarta yang pernah ia ceritakan, kota yang kata orang sesak oleh para pendatang untuk mencari pekerjaan. Jalan Kembang Sepatu, Pasar Senin Jakarta Pusat. Di depan perusahaan konveksi berplang “Indira” aku melihat lelaki itu turun dari Mobil Avanza menggandeng wanita hamil usia paruh baya.
Kami beradu pandang kemudian aku tersenyum dan menyapanya berulang-ulang. Namun sayang, ia tidak mengenaliku lagi, gadis yang dulu pernah dibelainya. Lelaki pertama yang kukagumi, ternyata pandai mengobral janji. Bapak rela mengkhianati dan meninggalkan Si Mbok, aku, dan Syarif demi kesuksesannya dan wanita lain.
            “Maaf, Bapak. Kini aku - anakmu - tidak mengagumimu lagi.”


*Cerpen ini dimuat di Buku Kado untuk Pasutri