Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Mei 2015

Mungkin Berat Badan Saya Akan Bertambah




MENDOAN menjadi klangenan tersendiri bagi siapa saja yang bertandang ke Purwokerto. Bahkan makanan ini menjadi buah tangan spesial untuk keluarga di rumah. Sebagai oleh-oleh, makanan berbahan dasar kedelai ini juga selalu dicari Supratignyo setiap mengunjungi sang istri di Cirebon.
Pria yang baru saja diresmikan sebagai Pemimpin Cabang BNI Syariah Purwokerto ini kembali menjajal mendoan dan makanan lain yang khas dengan lidah orang Jawa. Maklum, sejak puluhan tahun lalu ia meninggalkan kampung halamannya, Jawa Timur untuk menjalankan tugasnya di dunia perbankan.
Setelah menamatkan bangku SMA di Malang, ia langsung hijrah ke Balikpapan untuk melanjutkan kuliah sambil bekerja. Disana, kata Pratignyo ia didampingi sang kakak hingga menamatkan gelar sarjana ekonominya.
Dulu, kata dia sempat menyukai makanan khas beberapa daerah, bahkan saking senangnya berat badannya sempat bertambah. Sekarang ia kembali ditempatkan di daerah yang menyediakan aneka makanan yang pas dengan lidahnya.
"Ditempatkan di Purwokerto, kemungkinan berat badan saya bisa bertambah lagi. Karena kota ini selain makanannya pas dengan lidah orang Jawa, lingkungannya juga nyaman dengan biaya hidup yang masih sangat terjangkau," kata Supratignyo.
Awal mula bekerja diperbankan tahun 1983, pria yang akrab disapa Pratignyo ini ditempatkan di Balikpapan. Disana biaya hidup tentu lebih mahal ketimbang daerah asalnya, Blitar. Begitu juga dengan beberapa tempat lain yang pernah disinggahinya.
Dikota inilah ia merintis karir dan mengembangkan perbankan yang telah membesarkan namanya. Hingga kinerjanya dinilai baik oleh perusahaan, pada tahun 2010 ia dimutasi ke Cirebon. Yang menjadi kebanggaan adalah ditempat barunya, Bapak dua anak ini langsung dipercaya menjadi pimpinan cabang.
Tak berhenti sampai disitu, selama tahun 2012 ia juga dipindahtugaskan hingga tiga kali penempatan. Bulan April di Bandung, September di Batam, dan Desember lalu di Purwokerto.
Ada saja kesan yang ia dapatkan disetiap daerah penempatan kerjanya. Batam misalnya yang berbeda jauh dengan tempat barunya saat ini. Tak heran jika mengingat aneka makanan di Purwokerto, yang ada dibenaknya adalah berat badan yang akan bertambah.
Selain makanan, sebagai seorang pimpinan setiap bertandang ke tempat baru tentu yang ada dibenaknya adalah strategi pasar untuk mengembangkan bisnisnya. Namun tak menjadi masalah bagi pria lulusan Universitas Tri Dharma Balikpapan ditempatkan dimanapun, karena basic awalnya memang sudah belajar tentang perbankan. (nurhayatipipit@gmail.com)

Tak Ingin Mewariskan Karir yang Menyita Banyak Waktu
BERBICARA tentang perbankan tentu yang ada dalam benak setiap orang adalah keuntungan yang akan didapat. Bahkan untuk perbankan syariah sekalipun. Ini menjadi hal yang wajar, namun bukanlah menjadi tujuan awal bagi Supratignyo memilih menceburkan diri di dunia perbankan.

Setiap ia bertandang ke tempat baru untuk menawarkan produk hampir semua yang ditemui tak pernah absen untuk memegang alat hitung yang namanya kalkulator. Tentu ini menjadi hal yang lumrah, padahal ia ingin mengenalkan bahwa yang membedakan tempatnya bekerja adalah proses pengolahan transaksi yang menggunakan sistim syariah.
Kebiasaan semacam ini menjadi PR baginya demi pengembangan bisnis yang akan terus melejit. Namun ini hanya menjadi satu tantangan kecil yang membutuhkan pemikiran serius. Totalitas baik tenaga maupun pikiran tentu ia tuangkan dengan maksimal.
Tak hanya itu, Pratignyo juga harus menggadaikan waktunya demi pekerjaan. Beruntung keluarga memberi dukungan penuh padanya. Namun ia tak ingin mewariskan karirnya ini kepada sang anak yang kini jauh darinya karena sedang menempuh pendidikan.
"Bekerja dimanapun baginya yang penting harus serius, sekalipun harus menyita banyak waktu. Biarkan anak-anak memilih minatnya sendiri yang tidak harus menyita waktu banyak," kata Supratignyo.
Ia sering merasakan kerinduan untuk berkumpul dengan keluarga ketika waktunya tersita untuk pekerjaan. Apalagi komitmen yang harus siap dipindahtugaskan sewaktu-waktu. Meski dimanapun berada, Pratignyo selalu memboyong sang istri untuk menemani.
Setiap hari, kata Pratignyo untuk mengobati kerinduan dirinya maupun istri maka selalu menelopon anak setidaknya dua hari sekali. Meski sudah terbiasa jauh dari anak yang terpenting baginya adalah menjaga komunikasi dengan mereka. Selain itu anak juga diajarkan sikap terbuka apabila sedang menjumpai masalah dalam hal apapun. (fitri nurhayati)

BioFile
Nama   : Supratignyo SE
Alamat: Perum Limas Agung CD1 nomor 6, Purwokerto
TTL     : Blitar, 15 Juli 1963
Profesi : Pemimpin Cabang BNI Syariah Purwokerto
Istri      : Nur Aida Haryati
Anak   : Cicilia Lintang Gentawan (21)
         Wisnu Wangsa Wardana (17)
Pendidikan:
        SD, SMP Blitar
        SMA Malang
        S1 Universitas Tri Dharma Balikpapan

Minggu, 02 Juni 2013

Gerakan Sosial Tapi Packaging-nya Unyu-unyu

Komunitas Bhinneka Ceria
RASA penasaran Wildan menanam jamur ternyata mengantarkannya pada terbentuknya sebuah komunitas kenamaan Bhinneka Ceria. Bersama dua orang temannya, ia merancang strategi gerakan desa bangkit mewujudkan masyarakat adil makmur.
Awalnya, kata pemilik nama lengkap Wildanshah tahun 2010 lalu di kontrakannya, ia penasaran tentang budidaya jamur. Kemudian menjajal menanamnya sendiri dan dibantu Bojong alias Lukman, mahasiswa Biologi Unsoed yang sedikit paham tentang budidaya ini.

Saat mencoba menanam kemudian ada beberapa anak kecil yang tinggal di sekitar kontrakannya dan penasaran ingin belajar juga. Kemudian Wildan bersama Bojong dan Endrikus mencoba menanam dalam kapasitas yang lebih besar. Dengan tujuan agar anak-anak di sekitarnya juga bisa ikut latihan menanam.

Melihat keasyikan menanam jamur bersama anak-anak kemudian terbersit pemikiran untuk terus belajar bersama. Tidak hanya itu bahkan muncul pula ide untuk mengembangkan potensi yang dimiliki anak. Ada yang suka menanam jamur, melukis, baca buku, musik, dan aktivitas anak-anak lainnya.

"Dari situlah kami berinisiatif membentuk sebuah komunitas. Kami melihat para pemuda yang jarang ikut gerakan sosial, jadi melalui komunitas yang kami buat ini semoga bisa memberi kontribusi kepada masyarakat," kata Wildan.

Pembelajaran dengan anak-anak terus berlanjut hingga datanglah relawan yang berasal dari kalangan mahasiswa. Menurutnya gerakan sosial saat ini identik radikal, sehingga Wildan dkk mencoba mengemas dengan sedikit asyik. Kata dia, bisa dibilang gerakan sosial tapi dengan packaging yang unyu-unyu agar disukai anak-anak.

Berkontribusi kepada masyarakat mulai dari kalangan anak-anak dianggap paling efektif. Pasalnya, pelatihan yang diberikan menjadi dasar untuk membentuk generasi yang mapan.

Relawan pun berdatangan, bahkan tidak hanya berasal dari kalangan mahasiswa saja namun ada siswa SMA maupun mereka yang sudah bekerja. Hingga saat ini sudah tercatat ada sekitar 100 relawan, sedangkan 60 di antaranya terus akif dalam kegiatan sosial ini.

Wildan mengatakan, relawan ini tidak hanya berasal dari Purwokerto saja, namun sudah menyebar di kota-kota lain seperti halnya Yogyakarta. Di kota ini terbentuk komunitas yang sama karena adanya inspirasi dari Bhinneka Ceria Purwokerto.

Banyaknya relawan yang bergabung, komunitas ini tentunya ingin melebarkan sayap dalam menjalankan kegiatan sosial. Sehingga saat ini tidak hanya belajar bersama saja, namun dilengkapi pula dengan kegiatan baksos, jualan baju, stiker, dan buku yang hasilnya digunakan untuk mendukung kegiatan sosial di beberapa tempat yang mereka datangi. (nurhayatipipit@gmail.com)


Buka Perekrutan Relawan untuk Ngajar Bareng

DATANG ke desa untuk memberi pelatihan tentu tak langsung diterima oleh masyarakat setempat. Ada yang mengira kegiatan sosial yang Komunitas Bhinneka Ceria lakukan merupakan bagian dari kepentingan politik tertentu.

Wildanshah, perintis komunitas yang berdiri tanggal 1 Mei 2010 lalu ini mengatakan, pihaknya memiliki cara tersendiri untuk bisa diterima di kalangan masyarakat yang menjadi targetnya. Satu di antaranya dengan menggelar bakti sosial di tempat yang dituju.

Ditanya soal dana, Wildan mengatakan, sebagian berasal dari hasil iuran pengurus, sedangkan lainnya berasal dari donatur yang peduli dengan kegiatan yang mereka laksanakan. Donaturnya pun tidak tanggung-tanggung, seperti dari kalangan dosen, dokter, atau pekerja lainnya.

"Awalnya kita ngadain baksos kemudian setelah diterima di desa setempat. Barulah kita menjalankan misi. Kita mencoba membaur dengan aktivitas mereka jadi tahu apa yang mereka butuhkan. Ada yang minat musik, membaca, dan melukis, hingga kami bisa membentuk sebuah perpustakaan," kata Wildan.

Setiap harinya dibuka perekrutan relawan yang ingin ngajar bareng. Apalagi untuk pemuda yang ada di desa. Mereka menggandengnya untuk menjadi relawan dengan mengadakan pendidikan relawan setiap hari, tentunya tanpa memandang atribut sosial apapun sebelumnya.

Wildan mengatakan, gerakan sosial ini lebih mengarah pada urusan anak-anak untuk belajar sesuai kebutuhannya. Sehingga tiap daerah jenis pembelajarannya bisa berbeda. Misalnya saja kerjasama dengan Bukit Ilmu yang memberikan pengetahuan tentang etika. Selain itu ada juga pembelajaran tentang pembuatan kerajinan tangan.

Ada juga yang belajar kesenian dan budaya, seni lukis, menabung, teater, hingga organisasi anak-anak yang mengurus budidaya ikan lele. (fitri nurhayati)

Punya Tiga Fokus Gerakan 

ADA tiga hal yang menjadi fokus gerakan Komunitas Bhinneka Ceria selama perjalanannya. Mulai dari perjuangan untuk pendidikan, menggandeng pemuda, hingga gerakan untuk perdesaan dan perkotaan.

Untuk mewujudkan tiga hal ini mereka melakukan pendamping di beberapa dusun yang menjadi sasaran. Seperti halnya di Dusun Sudan, Purbalingga dengan membentuk Forum Komunitas Anak Desa (Forkades).

"Di sana kami membentuk Forkades sebagai pergerakan warga setempat. Terbentuknya forum ini juga bertujuan agar keinginan masyarakat bisa didengar pemerintah," kata Wildan.

Pernah melalui Forkades ini, Bhinneka Ceria mengadakan karnaval desa untuk memperingati Mesuji. Hasilnya pascakarnaval berlangsung ada perhatian tersendiri dari pemerintah Purbalingga. Kata Wildan, waktu itu masih di bawah kepemimpinan Bupati Heru.

Hasilnya bupati setempat memberi bantuan dana kepada Dusun Sudan untuk mengadakan kegiatan. Sesuai target awal, pergerakan yang didominasi kalangan mahasiswa ini menjadi titik temu dengan masyarakat. Sehingga antara mahasiswa dan masyarakat solid dan akhirnya pemerintah turun tangan untuk menyelesaikan banyak permasalahan di desa-desa. (pit)


Kamis, 30 Mei 2013

Mbah Boncel, Keliling Indonesia dengan Sepeda Ontel



Mbah Boncel (kiri) saat bertandang ke SatelitPost
Dituduh Pemulung dan Ditangkap Polisi
Kamis (23/5) malam, kantor redaksi SatelitPost kedatangan orang istimewa. Mbah Boncel namanya. Lelaki usia 53 tahun itu masih tegap. Namun, dandanannya semrawut dengan beberapa sobekan di celananya. Pertama, pasti akan canggung untuk mendekat dengan lelaki tersebut mengingat dandanannya yang bisa dikatakan acak-acakan.
Namun setelah kenal dan ngobrol langsung dengannya barulah akan merasakan kedekatan yang luar biasa. Hal ini disebabkan karena banyaknya pengalaman Mbah Boncel dalam melakukan tur keliling Indonesia menggunakan sepeda ontel.
Pria kelahiran Bantul ini menceritakan pengalamannya selama berkeliling Indonesia dengan sepeda ontel peninggalan sang ayah tahun 1948 silam. Obsesinya untuk tercatat dalam Museum Rekor Indonesia terjawab sudah, tepatnya tahun 2007 lalu yang diberikan langsung oleh Jaja Suprana.
Pemilik nama lengkap Supriyanto ini memulai perjalan tur pertama pada 11 November 2006 sampai 28 Agustus 2007. Ia berhasil menginjakkan kaki di daratan 32 provinsi di Indonesia. Dandanannya yang seperti anak punk hanya sekadar menggunakan kaus dan rompi ini, seringkali membuatnya dituduh sebagai pemulung, orang gila, kurang kerjaan, atau bahkan ditangkap polisi karena diduga sebagai anak punk.
Menanggapi hal itu, ia hanya tertawa dan mengajak polisi berdialog bersama tentang nasionalisme dan patriotisme. "Jangan dilihat dari penampilannya saja, tapi mari bicara Indonesia dan dialog dengan baik, tidak perlu ribut. Saya itu tulus mengelilingi Indonesia tanpa tujuan politik atau apapun itu namanya. Nasionalisme dan patriotisme saya masih 100 persen," kata Mbah Boncel. 

Pernah Disandera GAM
Mbah Boncel (kiri) saat bertandang ke SatelitPost
PERAWAKAN kurus dengan rambut memutih terlihat dari sosok Mbah Boncel. Meski begitu di usianya yang sudah memasuki angka 53, ia tetap kuat untuk terus melanjutkan perjalanan keliling Indonesia. Bahkan saat ini obsesinya sudah lebih tinggi dari yang sebelumnya. Tidak lagi keliling Indonesia, namun keluar negeri dengan sepeda ontel. Ia ingin menginjakkan kaki di negara yang masih tergabung dalam rumpun melayu. Dipilihnya negara itu dengan tujuan agar bahasanya tidak jauh berbeda dengan bahasa Indonesia.
Kepada SatelitPost, Mbah Boncel menceritakan pengalaman ketika keliling Indonesia untuk pertama kalinya. Pada November 2006 dia memulai perjalanan dari Yogyakarta menuju Surabaya, lalu Flores Nusa Tenggara Timur. Kemudian kembali lagi ke Surabaya. Setelah itu menuju Merak, Selat Sunda, Lampung, Aceh, Pekanbaru, Dumai, Batam, Tanjung Pinang, Kalimantan, hingga perbatasan Malaysia. Perjalanan dilanjutkan dengan kembali ke Bogor, Bandung, Banjarmasin, Palangkaraya, Sulawesi, Ambon, dan Jayapura.
Satu per satu pengalaman dijumpainya. Diceritakan satu kisah saat ia disandera kawanan separatis Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Tepatnya tanggal 18 sampai 23 Februari 2007 lalu. Waktu itu mbah sedang melakukan perjalanan pada malam hari. Berjumpa dengan kawanan GAM kemudian pria asli Mangiran ini disandera.
"Untungnya saat disandera mbah bisa lolos. Saat itu prinsip mbah kalau kamu lalai saya lolos dan akhirnya betul mereka lalai dan mbah bisa melarikan diri," ujarnya. Kelalaian pihak GAM membuat Mbah Boncel mampu melepaskan diri dari penyanderaan. Keyakinannya untuk bisa lolos menjadi kenyataan.
Pengalaman berkesan tidak hanya saat ia disandera kawanan GAM. Namun mbah dua cucu ini juga sempat dirampok hingga ia menyerahkan sepeda dan tas sebagai harta satu-satunya. Namun hal yang sangat menakjubkan terjadi karena setelah kawanan perampok berjalan delapan meter, sepeda itu tidak mau jalan. Akhirnya, kata mbah mereka tinggalkan sepeda yang akan dirampoknya.
Selama melakukan perjalanan, tidak banyak bekal yang dibawanya. Hanya tas kumal yang berisi kaus dan buku catatan. Ada dua buku yang tak pernah ditinggalkannya. Yang satu sudah penuh dengan pesan dari beberapa orang yang dijumpainya selama perjalanan. Sedang buku yang lain sebagian masih belum terisi penuh. Beberapa lembar buku kedua ini tinggal masih terus disodorkannya kepada orang yang baru dikenal.
Dia mengatakan, tulisan orang-orang yang dikenalnya itu untuk kenang-kenangan. Bahkan dalam buku itu ada beberapa foto yang ditempelnya setelah ia berfoto bersama dengan beberapa orang yang dijumpai. Setelah perjalanan pertamanya. Mbah Boncel juga melakukan perjalanan kedua pada 28 Juni sampai 13 Agustur 2010. Mbah Boncel berhasil mencapai titik nol kilometer di Pulau Sabang, Daerah Istimewa Aceh Darussalam. 

Pergi Tak Pernah Pamit Istri
Mbah Boncel tak pernah lelah menceritakan pengalamannya keliling Indonesia dengan sepeda ontel. Pada SatelitPost, dia mengatakan, ada kalanya menemui medan yang berat dan sulit.
"Daerah paling sulit dilalui adalah Flores. Medannya paling berat," kata dia. Di sisi lain, yang paling mengesankan adalah ketika sampai di Jayapura. Ayah dari Gesang dan Ingge Apriliana ini, mengatakan, Jayapura sangat menakjubkan. Tempat ini merupakan provinsi ke 28 yang disinggahinya. Menurutnya kotanya cukup kondusif, berbeda dengan pandangan orang luar yang kebanyakan hanya membaca dari berita atau mendengar kabar saja
"Papua kalau malam hari bagai Kota Hongkong. Kotanya juga aman, jauh berbeda seperti yang diceritakan kebanyakan orang," ujarnya. Belum berhenti sampai di situ bahkan ia juga pernah diusir dari sebuah rumah makan di Subang, Jawa Barat. Ia memesan ayam goreng, namun diusir oleh pemilik warung dan disuruh makan di luar karena melihat dandanannya yang compang-camping. Mendapati hal itu, mbah hanya mengelus dada melihat betapa manusia hanya melihatnya dari penampilan saja.
Ia sempat menyampaikan rincian pengeluaran selama perjalanan ke Medan, hanya membawa uang Rp 200 ribu. Katanya di perjalanan bannya bocor hingga ia menghabiskan dua ban dalam untuk depan dan belakang, serta satu ban luar. Untuk biaya ini ia mengurangi sangunya Rp 140 ribu. Kemudian dikurangi Rp 10 ribu untuk biaya pemasangan, Rp 10 ribu untuk membeli makan dan minum. Sisanya untuk keperluan selama perjalanan. Sedangkan kalau biaya hidup kurang terkadang ia makan dari kepedulian masyarakat yang merasa terharu dengannya.
Perjalanan panjang menunaikan mimpi yang kini telah terwujud ini terkadang menjadikan mbah rindu dengan kehangatan suasana di rumah. Karena saat memulai perjalanan biasanya ia tidak berpamitan baik dengan istri maupun anak-anaknya. "Mbah langsung pergi saja, nanti kalau sudah perjalanan kadang istri atau anak telepon. Mereka sekarang sudah tidak heran, kalau dulu sering dicari dikiranya pergi ke mana," katanya.
Mengobati rindu yang terkadang datang dengan seketika tanpa tahu tempat, biasanya pecinta lagu Hidup Untukmu, Mati Tanpamu ini lebih memilih mendengarkan lagu-lagu pop sambil terus mengayuh sepeda tuanya. (fitri nurhayati)



Kamis, 23 Mei 2013

Ora Utang Ya Ora Duwe Modal


Figur bisnis
Budiarto, Suplayer bumbu dapur


SEBAGIAN orang takut untuk mendapatkan modal usaha dengan cara berhutang. Apalagi harus berhubungan langsung dengan bank. Ada yang menganggap prosesnya sulit, berbelit, dan bunganya tinggi.

Berbeda dengan Sri Budiarto, suplayer bumbu dapur di Purwokerto. Ia meyakini, bahwa dengan cara berhutang kita bisa mendapatkan modal sesuai kebutuhan. Tak perlu ada ketakutan, yang penting yakin dan tetap usaha.

Budiarto memantapkan hati memilih cara ini setelah mendapat nasihat dari sang ibu. Waktu itu, ia membutuhkan banyak modal setelah kiosnya kebakaran pada tahun 2008. Dari musibah ini, ia tidak bisa memulai usaha lagi karena tak memunyai kios dan stok barangnya juga ikut ludes.

"Ora utang ya ora due modal. Jadi saya mencoba berhubungan dengan bank untuk penambahan stok dan membeli kios baru. Waktu saya sedang butuh banyak uang dalam waktu dekat, paling yang bisa ngasih pinjaman ya bank," kata Budiarto.

Ada beberapa bank yang didatangi, meski begitu tidak semuanya dapat memenuhi permintaannya untuk berhutang. Hingga usaha ini terus dilakukan pada akhirnya ia berhasil meminjam modal Rp 250 juta. Tentu jumlah ini tidak sedikit, namun ia meyakini pasti bisa mengembalikan.

Baginya, apabila ada usaha, pasti pendapatan akan terus masuk untuk bisa menutupi kredit. Menurut Budiarto, pengusaha harus bisa mengambil risiko, satu diantaranya dengan memilih cara ini. Namun jangan asal pilih, kata dia karena harus selektif.

Ia merasakan bank yang memberikan pinjaman modal kepadanya saat ini memberikan layanan cepat, sehingga modal bisa langsung terpenuhi, bersifat ngemong atau membimbing, dan ngewongke atau memberikan perhatian kepada debiturnya.

Setelah hutangnya lunas, ia akan kembali melakukan pinjaman, bahkan kalau diperbolehkan dalam jumlah yang lebih besar. Ia tak lagi takut berhubungan dengan bank untuk pengembangan usaha. (fitri nurhayati)

Lewat Bisnis Ingin Membawa Kebermanfaatan


Figur bisnis
H Wartoyo, Pemilik Cafe Alan



PILIHAN menekuni banyak kegiatan memiliki banyak risiko, termasuk waktu yang tergadaikan. Bahkan bisa dibilang 24 jam waktu yang tersedia dipersembahkan untuk kegiatan yang dilakoni. Hal ini juga yang menjadi pilihan H Wartoyo, pemilik Cafe Alan.

Kesibukan pria berusia 63 tahun ini memang sudah berlangsung lama. Bahkan masa mudanya juga dihabiskan untuk kegiatan di luar rumah. Yang terpenting baginya adalah bisa mengabdikan diri kepada masyarakat.

"Menurut saya, sebaik-baiknya manusia ya yang bisa bermanfaat untuk orang banyak. Saya aktif di organisasi sejak masih muda, nah belakangan saya kembangkan untuk menjalani usaha. Lewat usaha ini, saya berharap tetap memberi kebermanfaatan untuk msyarakat," kata Wartoyo.

Prinsip inilah yang dipegang teguh hingga ia bisa membagi waktunya, menjalani banyak kegiatan dalam waktu yang bersamaan. Kalau untuk bisnis, kata Wartoyo juga sebagai bentuk pengabdiannya kepada masyarakat.

Dipilihlah bisnis kuliner sejak 2002 lalu, karena menurutnya bidang inilah yang potensial untuk dikembangkan di hampir semua tempat. Bahkan bapak empat anak ini pernah melakukan survei sendiri ke beberapa kota besar, seperti Jakarta, Bandung, dan Semarang. Binisi kuliner menjadi bisnis paling banyak serta potensial untuk terus dikembangkan. (fitri nurhayati)