Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 September 2015

Mengapa Kami Dibedakan?

Foto ilustrasi. Pipit
Seorang direktur perusahaan nampak matching saat mengenakan kemeja dan berdasi. Ia akan lebih disegani oleh bawahannya. Lain cerita ketika yang mengenakan adalah seorang loper koran. Meski tetap serasi, namun perlakuan orang lain akan berbeda. Padahal keduanya berpakaian sama mulai dari merek, harga, warna, hingga motifnya. Ini disebabkan karena status sosial keduanya berbeda.
Analogi di atas juga berlaku bagi para tenaga pendidik atau guru. Hal itu menjadi semacam korelasi yang berbanding lurus antara status sosial dengan perlakukan orang. Para guru mempunyai cerita tersendiri yang mendeskripsikan statusnya dalam kesetaraan rekan seprofesinya. Mereka yang masih menyandang status Guru Tidak Tetap (GTT) mendapat perlakuan yang berbeda dengan Pegawai Negeri Sipil (PNS). Meski keduanya sama-sama mendidik dan berdiri di depan kelas, sama-sama membuat perangkat pembelajaran, bergelut dengan buku, mengajarkan kebaikan dan transfer ilmu, tetapi berbeda dalam pendapatan. Perbedaan ini menjadi bentuk diskriminasi profesi yang harus diselesaikan.
Negara memberi penghargaan lebih kepada mereka yang sudah berlabel PNS dengan segala kenikmatan yang dijanjikan. Mulai dari gaji berlipat, tunjangan, asuransi, bahkan baru-baru ini pemerintah juga bekerjasama dengan perusahaan swasta untuk memperlakukan mereka dengan spesial. Lain cerita dengan guru yang menjadi tenaga honorer. Beban kerja sama namun status sosial dan perlakuan negara tidaklah sama.
Para honorer ini menggantungkan nasib kepada yayasan tempat mereka bekerja. Gaji yang mereka dapatkan biasanya diakumulasi hingga beberapa bulan. Padahal kebutuhan sehari-hari mereka tidak dapat diakumulasi. Yang ada malahan hutang menumpuk dan ketika gaji cair akan langsung mengalir untuk membayar hutang. Yayasan seharusnya menetapkan upah minimum yang diberikan kepada GTT sehingga tak lagi ada guru yang digaji Rp 200 ribu per bulan. Namun pada kenyataannya itu pun tak dapat dipenuhi karena keterbatasan dana dari masing-masing yayasan.
Menjadi polemik klasik ketika para honorer menuntut kesejahteraan kepada negara. Memang menjadi guru adalah pengabdian dan tak seharusnya orang mengabdi menuntut imbalan lebih. Namun ketika hal itu malah menjepit dirinya, maka bukan lagi pengabdian yang menjadi tujuan, tapi kesejahteraan.
Kenapa guru? lagi-lagi pahlawan tanpa tanda jasa ini yang digantungkan nasibnya. Sisa hidupnya hanya akan menjadi relawan pendidikan yang digaji ‘seadanya’. Wacana tentang kesejahteraan guru digencarkan setiap musim biasanya ketika memasuki musim CPNS. Tenaga honor di level grass root akan berlomba mengambil antrean keberuntungan, mengadu nasib di tengah ribuan orang. Kalau saja para guru bersedia keluar dari zona nyaman, masih banyak peluang di daerah terpencil yang membutuhkan tenaga-tenaga profesional di dunia pendidikan. Maka, orientasi guru tidak lagi sebatas kesejahteraan, namun meningkatkan kualitas pendidikan.

Tawaran solusi dari pemerintah lagi-lagi menjadi sebatas wacana yang pada akhirnya menguap begitu saja. Sistem pendidikan sudah seharusnya dirancang untuk membenahi diri dalam melakukan reformasi. Sebelum orde baru, guru menjadi semacam primadona yang diagungkan banyak orang. Akhirnya saat ini tenaga guru menumpuk karena dulunya terjebak pada kenikmatan semu. Pada akhirnya profesi guru tak lagi berpegang pada hiroh-nya mengabdi untuk negeri, mencerdaskan anak bangsa. Namun menjadi tempat untuk mengadu nasib mencari kesejahteraan semata. (*)

Jumat, 08 Mei 2015

Guru Berkompeten Menguasai K13

Dewan Guru SMA Kejora Riung, Flores, NTT 
Beberapa tahun lalu, kita masih bisa menjumpai anak SD yang menggendong tas berisi buku-buku sekolah. Mulai dari buku tulis, buku paket, LKS, sampai sumber belajar lain yang dikemas menjadi satu dalam tas mereka. Mungkin tas mereka berat, seberat tuntutan ilmu yang harus dikuasai. Namun, hal seperti itu sudah jarang dijumpai sekarang. Dalam tas anak SD sekarang, paling hanya berisi satu atau dua buku yang sudah mencakup beberapa mata pelajaran. Bisa dibayangkan betapa padatnya isi buku baru mereka ini.
Hal ini terjadi di beberapa sekolah yang sudah menerapkan Kurikulum 2013 (K13). Konsep pembelajaran tematik mengacu pada tema-tema tertentu sehingga beberapa mata pelajaran dikerucutkan menjadi satu pembahasan atau satu buku saja. Berbeda dengan pembelajaran di SD, pembelajaran di SMA tidak menerapkan pembelajaran tematik namun menerapkan konsep based-learning. Dalam konsep ini, peserta didik harus aktif di dalam kelas untuk menguasai materi tertentu.
Menurut Nurhadi, M.Si (Dosen Pendidikan Geografi-red), K13 adalah kurikulum yang istimewa. Seistimewa konsepnya, tingkat kerumitannya pun sepadan. Mulai dari persiapan guru sebelum melakukan pembelajaran, sampai pada tahap penilaian. Keaktifan siswa menjadi tujuan utama untuk membentuk karakter mereka. Diharapkan ketika terjun di masyarakat nanti, mereka sudah memiliki sifat jujur, disiplin, dan mandiri.
Berbicara soal pendidikan di Indonesia, masih ada 1001 masalah yang menyelimuti. Beragam solusi ditawarkan pemerintah untuk mengatasi permasalahan ini. Satu diantaranya adalah melalui K13 yang berbasis karakter. Entah karakter seperti apa yang dimaksudkan karena sejauh ini para pelakunya pun masih meraba-raba. Hasilnya pun belum nampak jelas. Apalagi hanya beberapa sekolah yang menyatakan siap menerapkan K13, sedang yang lainnya masih dengan kurikulum sebelumnya (KTSP-red). Seperti yang tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 160 Tahun 2014 tentang Pemberlakuan Kurikulum Tahun 2006 dan Kurikulum 2013, tidak semua sekolah siap untuk merubah mindset, pola, dan konsep mengajar.
Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia, pernah berujar bahwa pendidik hanya bisa merawat, bukan memaksa. Tapi pemerintah saat ini memaksakan penyeragaman anak sekolah di Indonesia. Jika diperhatikan secara mendasar, sebenarnya bukan persoalan kurikulum yang perlu dipusingkan sebagai tawaran solusi mengatasi masalah pendidikan. Pada kenyataanya, yang paling memiliki pengaruh dalam memajukan pendidikan dan mencerdaskan anak-anak bangsa adalah guru.
Di balik pembicaraan soal sistem yang rumit, kurikulum, peraturan menteri, seminar yang berderet, bahkan alokasi dana pendidikan yang mencapai 20 persen, sejatinya guru lah yang berdiri di depan kelas menemani anak-anak menuntut ilmu. Namun begitu, melihat guru di Indonesia pun tak terlepas dari berbagai masalah. Mulai dari pendistribusian guru yang tidak merata, kesejahteraannya yang tidak terjamin, hingga yang paling urgent adalah kompetensi guru yang masih perlu ditingkatkan. Kalau sudah begini, bagaimana akan tercapai proses pembelajaran yang baik jika K13 belum betul-betul dikuasai para guru. Pemerintah hendaknya menjamin kompetensi guru, mempersiapkannya agar benar-benar mampu dan siap mendidik. Hadirnya mereka di sekolah bukan hanya mengajar, namun juga memberi inspirasi para siswa.
Pada kurikulum yang baru ini, peran utama guru adalah sebagai fasilitator di dalam kelas. Salah besar jika banyak orang menganggap bahwa peran guru di dalam kelas lebih ringan dari yang sebelumnya. Pada prinsipnya, menjadi fasilitator tugasnya jauh lebih berat. Ia tidak hanya bertanggungjawab meningkatkan aspek pengetahuan saja, namun juga harus mempertimbangkan aspek spiritual, sosial, dan keterampilan anak. Maka hendaknya pemerintah mematangkan kompetensi guru demi lancarnya proses pembelajaran di kelas. (*) 
oleh Fitri Nurhayati

Kamis, 30 April 2015

UN Bukan Lagi Penentu Kelulusan

UN di SMA Regina Pacis, NTT

Entah menjadi angin segar atau malah menjadi bumerang bagi dunia pendidikan di Indonesia, pada penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) tahun ini, setiap sekolah diberi kebebasan untuk menentukan kelulusan para siswanya sendiri. UN tidak lagi menjadi syarat utama atau syarat mutlak kelulusan siswa pada jenjang pendidikan tertentu (SD, SMP, dan SMA).
Berdasarkan Permendikbud No. 5 Tahun 2015 Pasal 4 ayat 1 tentang kelulusan peserta didik, kriteria kelulusan siswa untuk semua mata pelajaran diperoleh dari gabungan rata-rata nilai UN dan nilai rapor dengan rasio 30 berbanding 70 persen. Artinya, sekolah diberi keleluasan lebih untuk mengevaluasi hasil belajar siswanya sendiri. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Anies Baswedan, pernah menyampaikan bahwa kebijakan UN yang dibuat kali ini lebih menekankan pada nilai kejujuran, bukan semata pada tingkat kelulusan siswa saja.
Apa yang disampaikam Mendikdasmen tadi juga disampaikan oleh Muhammad Nursa’ban, M.Pd dosen Pendidikan Geografi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Beliau mengatakan bahwa kelulusan siswa ditetapkan oleh satuan pendidikan yang bersangkutan dalam rapat dewan guru. “Ketentuannya sudah ada dalam peraturan menteri yang baru,” kata dia.

Senin, 20 April 2015

Pendidikan Menuju Era Digital

Isu pendidikan selalu menarik untuk diperbincangkan. Lebih dari satu dekade, pendidikan di Indonesia mengalami banyak perubahan. Ada perubahan yang menggembirakan, namun tak sedikit pula yang masih diam di tempat. Seperti yang baru saja digelar adalah momentum tahunan Ujian Nasional (UN).
Tahun 2015 UN diselenggarakan dengan wajah yang berbeda. Pertama, UN tidak lagi menjadi penentu kelulusan, namun hanya digunakan untuk pemetaan mutu pendidikan. Kedua, penyelenggaraan UN daring/online (dalam jaringan) dengan berbasis komputer .
Harian Kompas (Selasa, 14 April 2015) menyajikan headline tentang UN Generasi Z. Generasi Z adalah mereka yang akrab dengan dunia digital. Tercatat ada 515 sekolah menengah atas sederajat telah menjalani UN berbasis komputer. Itu artinya era digital mulai menghampiri dunia pendidikan. Hal ini hendaknya menjadi satu langkah progresif untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. 
Melalui media digital, beberapa masalah klasik dalam penyelenggaraan UN dapat diminimalisir. Seperti halnya masalah pendistribusian soal. Juataan naskah dengan rantai distribusi yang panjang akan di-cut sehingga dapat digantikan dengan sinkronisasi data dalam hitungan menit saja. Dengan begitu media digital dapat menghemat waktu, tenaga, maupun biaya.
Berbicara soal biaya, dalam UN kali ini media digial sudah mampu menghemat anggaran hingga 20 persen atau sekitar 70 miliar. Hasil penghematan ini seharusnya dapat dialihkan untuk pengembangan beberapa sekolah yang belum menerapkan UN berbasis komputer. Menurut data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tahun pertama penyelenggaraan UN berbasis komputer ada 160.947 murid yang mengikuti UN berbasis komputer di 29 provinsi. Angka ini masih tergolong kecil apabila dibandingkan dengan jumlah peserta UN yang setidaknya mencapai 2,8 juta siswa.
Selain menghemat biaya, UN daring pun akan memberi kemudahan kepada siswa dalam mengerjakan soal. Keamanan juga akan lebih terjaga karena proses pengoreksian dilakukan oleh sistem. Seharusnya  hal ini dapat memperkecil kecurangan yang sering terjadi.
Perubahan cara lama menuju era digital tentu tidaklah mudah. Apalagi masih ada banyak sekolah yang menyelenggarakan UN dengan cara lama. Harus ada persiapan yang matang baik dari guru, siswa, maupun sekolah. Siswa yang saat ini sudah terbiasa mengerjakan soal menggunakan LJK, tentu membutuhkan adaptasi untuk beralih mengerjakan soal di depan komputer. Memang siswa saat ini sudah memasuki generasi Z yang melek IT, namun selama ini penggunaannya tidak dikhususnya untuk evaluasi pendidikan dalam satu jenjang. Maka mereka harus melakukan kesiapan tidak hanya secara mental saja, namun juga teknik pelaksaan.
Sama halnya dengan siswa, sekolah pun harus benar-benar siap memberikan fasilitas yang memadai. Khususnya perangkat keras, jaringan internet, dan ketersediaan listrik yang lancar saat pelaksanaan UN.
Memang banyak manfaat yang terkandung dalam sistem baru ini, namun kendalanya juga tidak sedikit. Bagi sekolah yang kondisi geografisnya tidak memadai penyelenggaraan UN berbasis komputer tentu menjadi kesulitan. Bayangkan saja, sekolah yang berada di daerah pedalaman. Untuk mendapat aliran listrik pun sulit, apalagi menghadirkan UN daring yang membutuhkan jaringan internet dengan lancar. Ini menjadi PR besar bagi Kemendikbud pada tahun-tahun mendatang. Pemerintah tak boleh menutup mata karena masih banyak sekolah yang belum bisa melaksanakan UN berbasis komputer.
Teknologi memang menjanjikan kemudahan dan penghematan, namun konsekuensinya pun tidak mudah. Apalagi kualitas pendidikan masing-masing daerah pun berbeda-beda. Pemerintah hendaknya mempersiapkan sistem, piranti keras, dan tenaga teknis yang matang agar peserta didik tidak dirugikan.
UN 2015 bisa dijadikan percontohan penerapan media komputer dalam dunia pendidikan. Seharusnya penggunaan media ini tidak hanya saat UN saja, namun diterapkan juga dalam proses pembelajaran sehari-hari. Baik guru maupun siswa akan lebih terbiasa dengan teknologi yang semakin canggih. (*)

Selasa, 03 Juni 2014

Melunasi Hutang Indonesia Pada Tunas Bangsa

INDONESIA menyambut pertengahan tahun 2014 dengan euforia pesta demokrasi. Berbagai harapan ditengah gelaran pesta rakyat ini terkumpul menjadi satu demi menjaring pemimpin bangsa yang kompeten untuk lima tahun mendatang. Para dedengkot politik telah menyiapkan generasi penerus demi eksistensi mereka. Mulai dari kalangan politisi, pendidik, artis, hingga masyarakat biasa. Sementara di luar sana tak sedikit tunas bangsa yang ingin merasakan sentuhan euforia itu melalui kebijakan yang memihak kepada mereka. Generasi yang masih menjadi tunas ini menunggu uluran tangan untuk membangkitkan mereka melalui program yang dinamakan pendidikan.

Kamis, 29 Mei 2014

Berpindah dari Zona Nyaman untuk Pemerataan Penduduk

Di pinggir jalan mendekati area lampu merah, beberapa anak usia SD melawan terik matahari yang menyengat. Tidak mengindahkan kulit yang terbakar atau petir yang menyambar saat hujan. Langkah mereka mendekat ke setiap kendaraan yang berhenti saat lampu merah menyala, lalu menengadahkan tangan atau terkadang ada yang menyodorkan gelas plastik sisa minuman ringan. Berulang-ulang dan bertahun-tahun dilakukan, meski mereka tahu kegiatan ini tak akan menjadikannya miliuner dan dihormati banyak orang. Namun hidup harus terus berjalan dan perut harus diisi dengan makanan. Dengan mengerahkan segala upaya, bisa dipastikan kalau penghasilannya dalam sehari hanya cukup untuk mengenyangkan perut saja.

Rabu, 22 Januari 2014

ABK Butuh Pendidikan Inklusi

LEE Soo Yeon, gadis 14 tahun dalam film I Miss You mendatangkan inspirasi bagi saya untuk sedikit memahami tentang kebutuhan pendidikan anak yang berbeda-beda. Drama Korea yang dirilis tahun 2012 ini menceritakan kehidupan gadis remaja yang ayahnya menjadi tersangka kasus pembunuhan. Tokoh yang diperankan Kim So Hyun ini mempunyai karakter pendiam, dingin, tertutup, dan tidak mudah bersosialisasi. Hal ini dikarenakan Soo Yeon selalu diejek teman sekolahnya dengan sebutan anak pembunuh.
Cerita Soo Yeon menyadarkan saya bahwa sebenarnya anak dari latar belakang apapun tak boleh tersingkirkan. Lingkungan baik keluarga, sekolah, maupun masyarakat seharusnya memberi dorongan positif kepada anak demi tumbuh kembangnya. Soo Yeon hanyalah satu dari gambaran banyak anak yang membutuhkan perhatian khusus agar ia tidak merasa terpinggirkan. Bahkan anak-anak semacam ini seharusnya mendapat layanan pendidikan secara khusus.
Di Indonesia masih banyak anak yang mirip dengan Soo Yeon. Bahkan mereka memiliki banyak label di masyarakat akibat perilaku yang sedikit berbeda dengan anak pada umumnya. Apabila hal ini terus berlanjut maka akan mempengaruhi perkembangan anak ke depannya. Maka perlu ada pendidikan khusus yang menawarkan solusi untuk mengatasi hal ini.
Dimandatkan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2013 tentang Sistim Pendidikan Nasional Pasal 32, bahwa pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental, sosial, dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.
Anak-anak semacam Lee Soo Yeon tergolong dalam anak berkebutuhan khusus (ABK) seperti yang dikatakan psikolog, Dr Endang Widyorini. Bahwa ABK adalah anak yang memiliki keterbatasan intelektual, emosi, dan sosial. Bukan hanya keterbatasan fisik saja, karena ada anak yang terbatas secara sosial tetapi tidak cacat fisik. Anak-anak ini dalam perkembangannya mengalami hambatan, sehingga membutuhkan suatu penanganan secara khusus.
ABK biasanya lebih suka menyendiri, sedikit melakukan kontak mata, atau menghindar untuk bertatapan. Ia tidak tertarik untuk bermain bersama teman atau bahkan malah menjauh. Alhasil penyandang ABK dapat berperilaku berlebihan (hiperaktif) atau malah kekurangan (hipoaktif). Endang mengatakan, di Indonesia dari prevalensi 2,6 juta ABK sebanyak 1,5 juta berusia 6-15 tahun.
Kalau sudah begini kira-kira siapa yang paling tepat menjadi pendeteksi awal. Sudah pasti orangtua adalah pemeran utama yang menjadi pendeteksi pertama kali, karena mereka yang tahu betul perkembangan buah hatinya. Setelah itu lingkungan sekolah sebagai pendeteksi berikutnya atau bahkan profesional  dalam hal ini psikolog anak.
Selanjutnya pendidikan seperti apa yang tepat bagi mereka? Menurut data Indonesian Society for Special Needs Education (ISSE) lembaga di Indonesia yang fokus pada pendidikan ABK ada 2,6 juta lebih. Namun yang masuk ke sekolah khusus hanya 48 ribu ABK atau 1,83 % saja. Lantas 98 persen ABK yang lain kemana?
Menyiasati keterbatasan layanan pendidikan untuk ABK, pemerintah melalui Direktorat Pendidikan Luar Biasa (PLB) melakukan uji coba pendidikan terpadu atau lebih dikenal dengan pendidikan inklusi. Program ini bertujuan untuk memberikan solusi terhadap sulitnya ABK dalam menikmati layanan pendidikan secara utuh, baik di desa-desa maupun daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Terpencil). Dengan bahasa yang sederhana, inklusi ini menginginkan siswa berkebutuhan khusus dapat belajar bersama dan bersatu dengan siswa normal.
Diselenggarakannya pendidikan inklusi akan memberi dampak positif bagi ABK yaitu berkurangnya rasa takut dan munculnya rasa percaya diri. Dalam pendidikan inklusi sekolah juga harus mempunyai karakteristik sehingga anak mampu beradaptasi. Sekolah tidak boleh melihat dari sudut kecacatan anak, namun lebih memandang pada kebutuhan mereka untuk memperoleh perlakuan yang optimal sesuai dengan kemampuan. Sekolah juga harus mengambil peran untuk menciptakan pembauran ABK bersama-sama anak lain seusianya dalam sekolah reguler sehingga proses belajar lebih bersifat kebersamaan antar siswa.
Upaya ini perlu adanya dukungan berbagai pihak mulai dari pemerintah, masyarakat maupun sekolah. Pemerintah berperan untuk mendesain sistim pendidikan yang memungkinkan ABK dapat berkembang secara maksimal. Masyarakat dapat memperlakukan ABK seperti halnya siswa-siswa lain yang normal. Sedangkan sekolah berperan untuk melaksanakan pendidikan secara terintegrasi antara anak normal dan ABK. (*)

Harian SatelitPost Rabu, 22 Januari 2014
http://satelitnews.co/abk-butuh-pendidikan-inklusi-oleh-fitri-nurhayati-guru-sm-3t-kabupaten-ngada-ntt/


Senin, 16 Desember 2013

Internet, Belajar Jadi Menyenangkan


Seperti Terbang Keluar Angkasa
TANPA berkedip, mata lugu itu menatap ke arah layar yang tersorot dengan jelas pada tembok di samping papan tulis. Seolah mata itu berbicara tentang keheranan yang tidak pernah jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Bumi dengan mudah diputar, diperbesar, atau pun diperkecil hanya dengan mengeklik atau mengarahkan mouse saja. Pembelajaran menggunakan layar LCD ini telah menghipnotis siswa kelas XII IPS 2 yang saat itu sedang mendapat materi Penginderaan Jauh mata pelajaran Geografi.
Saya sebagai guru yang mengampu mata pelajaran itu merasakan sedikit kepuasan karena semua siswa memperhatikan. Kalau pun ada suara hanya kekaguman mereka dengan Google Earth, aplikasi yang saya gunakan. Tiga jam pelajaran di dalam kelas sungguh rasanya sangat sebentar, apalagi melihat siswa yang mengangguk tanda memahami materi yang saya ajarkan.
Melalui aplikasi ini mereka bisa melihat permukaan bumi atau fenomena geosfer tanpa bersentuhan langsung dengan objek yang dikaji. Tak sedikit dari mereka yang request untuk menampilkan tempat tinggal mereka, objek wisata di Flores, dan jalan-jalan yang sering mereka lewati. Awalnya saya hanya menampilkan lokasi sekolah mereka yang nampak jelas pada citra dari aplikasi yang seolah membawa kami terbang ke luar angkasa. Tanpa menjelaskan lebih panjang para siswa sudah langsung paham tentang cara kerja aplikasi ini.

Ketagihan Berselancar Pakai Google Earth
Seorang siswa, Maria Yuniberta Dede mencoba langsung penggunaan Google Earth untuk mencari lokasi yang dia inginkan. Yein, panggilan akrabnya, awalnya terbata-bata saat menggerakkan mouse untuk melakukan pencarian lokasi. Meski begitu ia tetap melanjutkan pencarian bahkan hingga zoom yang sangat besar. Nampak jelas permukaan bumi yang ingin dicarinya.
“Wah ini Soa, ini bandaranya, ini jalannya,” ujarnya kegirangan. Begitu juga dengan teman sekelasnya yang ikut kegirangan menyaksikan permukaan bumi dari sorot LCD pada tembok. Bahkan beberapa siswa lain pun terus meminta Yein untuk melanjutkan pencarian daerah lain yang sering mereka kunjungi.
Program globe virtual buatan Keyhole, Inc ini juga memudahkan saya memberikan contoh fenomena geosfer yang saya ajarkan. Selain memahami materi, pembelajaran menggunakan Google Earth juga mengasyikkan bagi siswa.
Maria Yuniberta Dede sedang mencoba program Google Earth
Belajar Geografi di dalam kelas selama tiga jam biasanya membuat siswa mengantuk atau sesekali pasti ada yang izin keluar kelas. Namun saat pembelajaran menggunakan LCD saya tidak pernah menjumpai siswa izin keluar kelas atau bahkan sampai terkantuk-kantuk. Tanpa menunggu perintah, mereka juga mencatat materi ajar yang saya sampaikan. Sebenarnya materi ini bisa saya photo copy, namun dengan tujuan mendapat manfaat yang berlipat, saya enggan memberikan print outnya. Dengan menulis, siswa telah melakukan aktivitas membaca, menulis, dan memahami sehingga materi yang saya ajarkan akan lebih melekat dalam ingatan mereka. Alhasil siswa sangat berantusias untuk memahami materi ini.
Terbukti pada pertemuan berikutnya mereka sudah duduk rapi di dalam kelas menunggu saya datang. Tidak hanya mereka yang duduk rapi namun LCD juga sudah terpasang dan siap untuk saya gunakan. Padahal saya tidak menginstruksikan seorang siswa pun untuk menyiapkan media elektronik ini, bahkan masuk kelas pun saya tidak membawa laptop.
“Ibu guru kemarin kan belum lihat desa saya di Google Earth, jadi sekarang kita lihat ya bu,” kata Leonardus Rohendra, siswa yang biasa izin keluar kelas saat pembelajaran berlangsung. Kalau sudah begini tak ada pilihan lagi selain mengikuti kemauan mereka untuk menerapkan pembelajaran elektronik.

E-learning Mempermudah Kegiatan Belajar Mengajar
Kegiatan belajar mengajar dengan menerapkan teknologi sangat membantu guru untuk mentransfer ilmu kepada siswa. Apalagi belakang ini sedang gencar penerapan Kurikulum 2013 yang mengharuskan siswa lebih aktif dalam pembelajaran. Meski kurikulum ini belum sampai di daerah 3T (Terluar, Terdepan, dan Terpencil) tempat saya mengajar, namun siswa harus dibiasakan untuk mengenal teknologi atau media pembelajaran elektronik. Apalagi untuk jenjang SMA yang tidak lama lagi akan memasuki bangku kuliah.
Sebagai guru SM-3T (Sarjana Mendidik di daerah 3T) SMA S Kejora Riung, Nusa Tenggara Timur yang notabene masih belum familiar dengan teknologi, saya membiasakan diri untuk menerapkan pembelajaran elektronik. Tidak melulu harus dikonekkan dengan internet, namun terkadang saya hanya menampilkan gambar atau video yang berkaitan dengan materi ajar.
Beberapa sekolah di Pulau Flores ini sudah mempunyai fasilitas pembelajaran elektronik yang terbilang lengkap. Hanya saja sumber daya manusia dalam hal ini tenaga pengajarnya yang masih enggan memanfaatkannya. Dengan alasan belum menguasai teknologi, waktu yang terbatas untuk menyusun bahan ajar, atau alasan lain yang sering saya dengar. Padahal pembelajaran elektronik cukup simple dan mudah, terlebih untuk pelajaran tertentu yang sering menjadi momok tersendiri bagi siswa.
Guru hendaknya meng-update perkembangan teknologi yang terus berkembang terutama untuk pembelajaran baik di dalam maupun luar kelas. Dampak kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) terhadap dunia pendidikan semakin terasa. Bahkan saat ini hampir semua aspek kehidupan manusia tidak luput dari peranan TIK. Oleh karena itu guru harus mampu menjembatani siswa dalam mengikuti perkembangan teknologi dengan memanfaatkan pembelajaran, baik sebagai alat maupun media pembelajaran.


Rabu, 11 Desember 2013

Membangun Pendidikan Karakter

Muridku lagi diskusi di dalam kelas
Dengan mengenakan seragam merah putih seorang siswa nampak bersemangat datang ke sekolah. Seperti yang dilakukan anak-anak pada umumnya mereka datang bersama teman-temannya. Waktu masih menunjukkan pukul 06.20 WITA, masih terbilang pagi untuk anak-anak berangkat sekolah. Meski begitu tak sedikit pula dari mereka yang sudah datang lebih dulu karena mendapat giliran piket untuk membersihkan halaman sekolah. Tak lupa guru piket pun mengawasi setiap kerja mereka.
Saya memperhatikan anak-anak SD yang sangat rajin ini, namun seketika terlintas sebuah keheranan saat melihat seorang guru yang memukul muridnya. Terdengar samar-samar, guru itu juga mengeluarkan omelan karena siswa didiknya ini dianggap datang terlambat. Dengan seketika tiga anak yang baru datang ini berbaris untuk mendapat giliran dijewer dan dipukul menggunakan sebilah kayu. Setelah itu guru piket juga melakukan hal yang sama kepada siswa yang sedang memungut sampah di bawah pohon. Satu per satu siswa ini dipukul karena membersihkan halaman tidak menggunakan sapu lidi.
Alasan yang sepele untuk menjatuhkan sanksi kepada anak usia SD  ini sempat menjadi perbincangan saya dengan rekan guru selama perjalanan menuju SMA, tempat kami mengajar. Tindakan guru yang kami jumpai ini sebenarnya sudah terbilang tindak kekerasan di lingkungan sekolah. Ada sedikit keheranan karena perlakukan ini jarang kami jumpai di Jawa. Ternyata di Indonesia bagian timur pendidikan masih erat kaitannya dengan tindak kekerasan yang telah dianggap lumrah. Alhasil tercipta pula generasi yang mempunyai perilaku sama dengan pola didikan yang didapatnya di sekolah.
Kekerasan guru kepada siswa dianggap lumrah karena hampir semua sekolah juga menerapkan pola asuh yang sama. Baik kepada siswa SD, SMP, maupun SMA. Jarang atau bahkan nyaris tidak ada sanksi yang diberikan kepada guru seperti yang diterapkan di Jawa, mengingat kebiasaan ini sudah mendarah daging dalam dunia pendidikan di Indonesia Timur.
Awalnya ada sebuah keanehan saat saya menjumpai seorang guru menjewer, memukul, dan membentak siswa. Alasannya karena siswa melakukan kesalahan atau hanya sekedar tidak mampu memahami materi pelajaran dengan baik. Selama berada di NTT perlakuan ini nyaris saya jumpai setiap hari. Bahkan tidak hanya dilakukan guru kepada siswanya, namun orangtua kepada anak pun juga sama. Saya sempat bertanya kepada guru dan orangtua mengapa anak harus diperlakukan dengan keras.  Tujuannya adalah agar anak menjadi pribadi yang penurut, rajin, dan disiplin. Namun pada kenyataannya bukan tujuan utama yang tercapai, malahan tercipta generasi yang berani membangkang, berwatak keras, dan bermental ciut dalam proses pembelajaran di sekolah.
Akibat dari kebiasaan ini siswa semakin merasa terbebani karena harus memenuhi tuntutan sekolah untuk menjadi pribadi yang rajin, disiplin, dan pandai di bawah tekanan pola didik yang keras. Padahal usia sekolah adalah masanya pencarian jati diri seorang anak. Mereka dalam tataran identifikasi atau proses meniru apa yang dilihatnya. Tugas guru dan orangtua hanya mengarahkan atau mengawasi proses perkembangan mereka, bukan meminta banyak tuntutan kepada anak. Sekalipun tujuannya dianggap baik, namun seharusnya dilakukan dengan cara pendekatan kepada anak, bukan kekerasan secara  fisik dan psikis.
Memang tidak salah dalam kehidupan kita harus menghadapi banyak hal di luar kendali, namun pembentukan karakter anak tidaklah demikian. Karakter merupakan hasil pilihan dan cara pembentukannya. NTT memang dikenal dengan pola pendidikannya yang keras menyesuaikan dengan karakter penduduk yang keras pula. Berbeda dengan di Jawa, sekali saja guru memukul siswa maka urusannya akan berkepanjangan.
Kebiasaan memukul dan menjewer siswa ini tidak seimbang dengan  tingkat kesadaran akan pentingnya proses pendidikan demi perkembangan si anak. Alhasil tercipta generasi yang hanya bisa tunduk terhadap perintah tanpa mempertimbangkan manfaatnya bagi diri sendiri. Pola pikir anak tidak dapat berkembang dengan baik karena hanya menjadi objek dari pola asuh yang salah. Mereka tidak mendapat kesempatan untuk berfikir kritis atau menikmati masa-masa keemasaannya, hanya dijejali dengan tuntutan dari guru atau orang tua saja.
Padahal lingkungan sekolah merupakan satu wadah yang dapat memberi pengaruh besar terhadap pendidikan karakter anak. Hal ini bisa diwujudkan dengan dukungan guru yang setiap perkataannya didengar oleh anak. Kecerdasan siswa tidak hanya diukur dengan hasil akademik yang memuaskan, namun juga ketercapaian pembentukan karakter siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Orang-orang dengan karakter buruk cenderung mempersalahkan keadaan mereka ketimbang mengatasi persoalan bagaimana untuk memanfaatkan keadaan dengan keterbatasan yang ada. Atau kebanyakan orang hanya mengukur tingkat kecerdasan dari besarnya materi yang didapat, dalam hal ini adalah nilai akhir di sekolah. Mereka sering menyatakan bahwa cara mereka dibesarkanlah yang salah, kesulitan keuangan, perlakuan orang lain atau kondisi lainnya yang menciptakan karakter keras.
Apalagi mulai dari keluarga sudah diterapkan pola asuh yang keras terhadap anak alhasil mereka membawanya sampai di sekolah. Sesampai di sekolah anak juga mendapat perlakuan yang sama dari gurunya masing-masing. Begitu seterusnya yang terjadi dari generasi ke generasi di NTT. Dampak ini kemudian dikembalikan pada anak dengan label kecerdasan rendah dan lambat dalam menerima pelajaran. Kalau pun banyak anak yang melakukan pelanggaran sekolah atau tidak disiplin ini menjadi persoalan yang wajar. Mengingat usia sekolah merupakan masa pencarian jati diri seorang anak. Apabila di beberapa daerah seperti halnya di Indoneia Timur terjadi kenakalan remaja yang terbilang tidak wajar, saya pikir ini merupakan kegagalan pola asuh baik dalam keluarga maupun sekolah.
Karakter tidak bisa diwariskan, tidak bisa dibeli, dan tidak bisa ditukar. Karakter harus dibangun dan dikembangkan secara sadar hari demi hari melalui suatu proses yang tidak instan. Karakter bukanlah suatu bawaan sejak lahir yang tidak dapat diubah lagi seperti sidik jari. Perlu diketahui bahwa anak mempunyai potensi untuk menjadi seorang pribadi yang berkarakter apabila hal itu diupayakan. (*)


Fitri Nurhayati, S.Pd
Guru SM-3T Kabupaten Ngada, NTT



Kamis, 03 Januari 2013

Tak Ada Lagi Bahasa Perlawanan


Pipit Nurhayati, Kamis (3/1) 
Jejaring sosial menjadi sarana empuk yang dapat menyalurkan ide baik berupa tulisan, gambar, maupun animasi. Media ini seolah menjadi wadah yang paling efektif untuk mempublikasikan karya seseorang. Disinilah gudangnya karya yang secara instan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.
Hampir semua kalangan mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa tak pernah absen membuka jaringan ini. Mereka juga tak pernah absen meninggalkan jejak setelah membuka sebuah situs tertentu. Ada saja yang patut untuk dikomentari atau bahkan hanya sebatas tanda baca sekalipun. Media ini menghubungkan komunikasi antar pengguna yang jaraknya tidak dekat namun seolah keduanya saling berhadapan langsung.
Tentunya banyak manfaat yang dapat diambil dalam penggunaan jejaring sosial ini. Namun karena dimanjakan dengan teknologi yang terus berkembang, seolah daya kritis masyarakat terhadap kondisi sosial malah menurun. Kecuali pada media masa elektronik yang memang memunyai fungsi sebagai kontrol sosial dan pemberi informasi kepada khalayak umum.
Sebagaimana empat fungsi media yang bertindak sebagai pemberi informasi, edukasi, transformasi, dan kontrol sosial. Hendaknya memang selalu meng-update karya jurnalistik melalui jejaring sosial sehingga tetap eksis mengkritisi kondisi sosial di masyarakat. 
Berbicara tentang sebuah karya baik berupa tulisan maupun gambar  tentu berasal dari hasil daya pikir dan imajinasi seorang kreator. Karya ini tak akan terlepas dari adanya penjelasan berupa kata yang tertata rapi menjadi kalimat dan pada akhirnya mampu mewakili pesan yang ingin disampaikan. Bisa  berupa karya visual maupun auditori.
Tulisan tentu akan mewakilkan ide bahkan yang bersifat general sekalipun. Dalam lirik-liriknya tentu ada sebuah pesan dari hasil olah pikir sang penulis dengan perpaduan emosi sebagai bumbunya. Emosi dalam hal ini tidak sebatas mencaci-maki atau perasaaan lain yang negatif karena pada hakikatnya emosi adalah luapan perasaan seseorang. Hendaknya tulisan ini memang tak jauh panggang dari api untuk mengkritisi kondisi sosial yang sedang terjadi.
Wadah yang bernama jejaring sosial ini bisa kita imajikan sebagai ruangan kecil yang di dalamnya dapat menampung ide apapun. Namun masih jarang yang memanfaatkan media ini sebagai wadah yang seharusnya digunakan untuk menganalisis kondisi di masyarakat.
Yang disayangkan adalah banyak dijumpai lirik-lirik manis yang tertuang di media maya tidak bersifat general sehingga tidak dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Pada dasarnya lirik semacam ini hendaknya tidak perlu diketahui publik karena karena hanya menjadi ruang pengaduan masalah atau konflik yang sedang dialami pribadi  penulisnya.
Ketika bait yang disampaikan hanyalah sebuah pengaduan semata tentu tidak akan memberi kebermanfaatan terhadap para penikmat media ini. Bisa dipastikan tulisan yang ada di jejaring sosial ini berupa lirik kegalauan dari personal penulisnya. Sedangkan kegalauan terhadap kondisi sosial di masyarakat porsinya terbilang kecil bila dibandingkan dengan emosi pribadi yang dituangkan.
Setiap karya tentu berasal dari keringat yang menguras pikiran dari penulisnya, bahkan dengan menguras emosi hingga hadir sebuah karya yang apik. Adanya kebebasan terhadap daya pikir inilah yang menjadikan seorang penulis seolah enggan untuk menguras ide dalam mengkritisi kondisi sosial. Mereka lebih nyaman ketika tulisannya dihadapkan dengan konflik pribadi yang dialami.
Kegalauan secara personal yang dituangkan dalam sebuah tulisan mendapat porsi lebih banyak karena hal ini memang menjadi hak dari penulisnya. Terlihat jelas apabila dibandingkan antara kemurungan kolektif masyarakat yang tidak dapat mengakses media maya dengan nasib pribadi yang emosinya selalu berganti.
Padahal konflik dimasyarakat terbilang massif dan hampir dijumpai diseluruh lapisan, namun tak terjamah oleh mereka kalangan pembaharu yang mampu mengakses media maya. Agaknya jarang kita jumpai kemurungan kolektif yang disampaikan melalui sebuah tulisan seperti yang pernah dituliskan oleh W.S. Rendra dengan sajak-sajak perlawanannya.
Penikmat media maya agaknya lebih memilih bergulat dengan kegalauan personal yang diakibatkan karena kerinduan, cinta, pencarian jati diri, bahkan sampai hubungan dengan tuhannya. Ini sebenarnya menjadi masalah personal yang seharusnya telah selesai dalam pribadi masing-masing tanpa harus dipublikasikan. Setidaknya sekiranya akan dipublikasikan pun tidak menggeser daya analisis terhadap permasalahan kolektif di masyarakat.
Bahasa yang disampaikan mencoba memainkan peran untuk mewakilkan tingkat emosi yang sedang dialami penulisnya. Ia menjumpai kondisi sosial yang bergejolak di masyarakat hingga mampu menggelitik emosi untuk dituangkan dalam kritik yang disampaikan dalam sebuah tulisan. Karya ini akan bisa dinikmati seluruh lapisan masyarakat secara massif karena hampir seluruh penikmatnya merasakan langsung kondisi sosial yang tidak stabil.
Berbeda dengan hasil karya yang kita jumpai saat ini. Bahasanya cenderung memainkan peran dalam menuangkan ide pribadi yang disampaikan untuk pribadi pula. Jarang hadir bahasa dalam sebuah karya yang disampaikan untuk menghantam pelanggaran yang menimbulkan kesenjangan sosial.
Memang tak dapat dipungkiri bahwa media maya membawa kebermanfaatan, hanya saja penikmatnya jarang sekali yang memadukan untuk menganalisis tatanan sosial kemasyarakatan. Entah karena ketidaktahuan mereka atau tidak adanya daya kritis terhadap kesenjangan sosial yang terjadi.
Padahal disamping konflik pribadi, secara personal makhluk sosial tak dapat terlepas dari kehidupan bermasyarakat yang masih mengalami disharmoni. Masih banyak dibutuhkan kritik bersifat membangun untuk menganalisa kondisi yang terjadi. Baik persoalan antar masyarakat maupun dengan lingkungannya. Kritik ini bisa disampaikan berupa tulisan dengan bahasa yang menggairahkan emosi untuk membangkitkan semangat perlawanan demi perubahan yang progesif.
Entah sebab apa ide yang muncul tidak berakar dari fenomena sosial yang sedang terjadi. Bisa jadi sebagian dari mereka memang benar-benar tidak tahu, tidak mau tahu, atau bahkan menganggap kondisi ini sudah berada di zona nyaman. Atau bisa jadi fenomena dimasyarakat tak lagi dianggap penting karena menjadi tanggung jawab negara dan kalangan tertentu saja yang berkaitan langsung.
Lebih parahnya ketika sebagian dari mereka tidak menemukan kemurungan di masyarakat sehingga membuatnya tetap nyaman dengan kondisi saat ini. Pada akhirnya ide mereka alihkan untuk menguasai emosi pribadi dengan sebatas pengaduan, curahan hati, dan pengharapan terhadap tuhan.
Apabila sudah terjadi hal semacam ini maka siapa lagi yang akan menguras emosi untuk kepentingan masyarakat secara kolektif dengan berbagai ide liar untuk mengkritisi polemik di masyarakat.
Hal ini dapat kita ketahui bahwa kepiawaian mereka membahasakan ide berupa tulisan bukanlah untuk analisa sosial secara kritis, namun merupakan bakat yang jatuh dari langit sebagai kebiasaan semata. Dimana media maya ini menjadi ruang tanpa batas untuk menulis, mengolah pikiran, menuangkan emosi pribadi yang tidak lebih menjadi sebatas rutinitas tidak penting.
Sebenarnya ada hal menarik yang sepatutnya dikaji kembali dalam era klik seperti saat ini. Sebab secara nyata masih banyak tangan-tangan yang belum pandai mengoperasikan jejaring sosial untuk menyampaikan ide yang bersifat massif. Ide disini dapat disampaikan secepat kilat untuk diketahui khalayak umum dan menjadi bahan kajian dalam kehidupan bermasyarakat. Bisa ditarik asumsi sederhana bahwa jejaring sosial buatan manusia ini mampu meringankan kerja mereka, bermanfaat untuk mendekatkan yang jauh, dan yang mampu menampung ide tanpa batas telah mampu melakukan seleksi sosial dimasyarakat dengan tingkat analisis dan daya kritis yang rendah.
Sejak dini individu dapat melatih diri mengemukakan gagasan yang logis dengan mentradisikan kebiasaan bernalar dengan pertimbangan emosi pribadi. Tak ada lagi bahasa sebagai pedang untuk memerangi konflik dimasyarakat, kesenjangan sosial, atau permasalahan massif lainnya. Padahal melalui tulisan yang tersebar di media maya sangatlah efektif untuk sampai dihampir seluruh kalangan. Tulisan seharusnya mampu mewakilkan ide yang tak sampai saat digulirkan melalui ucapan dan tindakan. (Pipit Nurhayati)

Kamis, 22 November 2012

Wanita


Fitri Nurhayati
Membaca biografi tokoh pejuang wanita tentu sangat menginspirasi kita semua. Menjadi orang yang merugi apabila tidak terketuk hatinya untuk mengagumi sosok pejuang wanita yang satu ini, RA. Kartini.
Perjuangannya sungguh gigih, alhasil nikmatnya dapat dirasakan saat ini. Di tengah perkembangan zaman yang semakin kompetitif, tak sedikit kalangan yang ingat tentang sejarah sebagai wujud perjuangan menuju sukses.
Terlebih bagi kaum wanita yang telah menikmati jerih payah Kartini hingga mereka mempunyai derajat sama dengan kaum laki-laki. Tak ada lagi sekat yang membedakan antara keduanya.
Hal kecil dapat terlihat dalam aktivitas yang dilakukan para wanita saat ini. Mereka mempunyai kebebasan untuk mengembangkan minat dan bakat selama masih dalam koridor norma yang berlaku dimasyarakat.
Terlihat dari gaya berpakaian dalam melakukan pekerjaan. Mereka tampil modis dengan segala aksesoris yang semakin mempercantik auranya. Wanita tidak lagi dipekerjakan di dalam rumah, mengurus anak, dengan mengenakan pakaian ala kadarnya.
Tak kalah dengan kaum pria yang bebas gaya dan sporty, kini busana wanita juga mempunyai sejuta model bahkan untuk busana muslim sekalipun. Wanita muslim dibebaskan untuk mengenakan jilbab saat melakukan pekerjaan di luar rumah.
Modelnya juga beragam, mulai dari pilihan warna, bahan, hingga harga yang semakin bersaing. Mereka kian terlihat modern dengan dandanan tren era terbaru.
Busana muslim (gamis) tidak hanya dikenakan di pesantren atau sekolah agama saja, namun di kantor pemerintahan atau tempat-tempat umum sekalipun mereka kenakan. Gamis dengan perpaduan jilbab segala model menjadi kebanggan para wanita.
Dengan banyak model inilah mereka bebas memilih sesuai dengan keinginan. Hal ini juga berpeluang bagi para pengusaha untuk mengembangkan bisnisnya dalam memasarkan busana muslim.
“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar Rahman: 67)
Saat ini bolehlah dikatakan bahwa jilbab dan pakaian muslim telah mentradisi menjadi budaya bangsa. Bisa mempercantik setiap penampilan wanita, menjadi ladang bisnis, memakmurkan pengusaha dan para pekerjanya.
Apabila menilik kembali gaya busana pada tahun 1980an, saat itu pakaian wanita masih sederhana dan hanya sebatas menutup badan saja. Tidak mengandung nilai estetika di dalamnya.
Hal ini disebabkan karena keterbatasan pengalaman yang dimiliki masyarakat Indonesia. Kekuasaan yang didominasi oleh bangsa asing membatasi ruang gerak para wanita. Tak hanya itu, penguasa yang mempunyai kebijakan pun membatasi gaya busana muslim beredar di masyarakat.
Pada saat itu tradisi keagamaan begitu diawasi, dicurigai, dan dikekang. Pakaian muslim dan jilbab tidak boleh dikenakan di sekolah, namun rok dan baju mini bebas dipakai di mana pun berada.
Penguasa saat itu berhasil mengisi jabatan penting sehingga dengan mudah membuat aturan yang membatasi kebebasan menjalankan hukum-hukum islam. Waktu itu tokoh pergerakan islam ditangkapi dan dibui. Para jilbaber diteror, direkayasa, diimagekan buruk dengan isu-isu miring seperti adanya kasus jilbab pencopet.
Masyarakat islam yang masih awam dibuat phobia terhadap agamanya sendiri. Kalangan yang kuat semakin berkuasa dan yang lemah semakin tertindas. Korupsi merajalela hampir di semua instansi pemerintahan. Kemaksiatan pun terus mengalami kemajuan.
Pelacuran menjadi hal biasa yang dilindungi oleh becking-becking kekuasaan. Film-film cabul diputar dibioskop seluruh penjuru tanah air. Semua itu diperbolehkan karena keberadaan mereka membawa keuntungan untuk pemasukan negara.
Muslimah berjilbab saat itu dilarang bekerja di kantor pemerintahan. Namun bersyukurlah saat ini keadaan sudah semakin membaik. Setidaknya  beberapa koruptor telah tertangkap. Tokoh agama semakin terpandang dengan penyampaian menggunakan metode dakwah yang bervariasi.
Kehidupan beragam pun sudah semakin dihormati. Semoga selanjutnya bisa menjadi tradisi dalam hidup berbangsa. Semua perubahan yang diraih Indonesia saat ini tidak terlepas dari peranan wanita di dalamnya. Mereka berperan serta dalam memperbaiki moral bangsa.
Terbukti tak sedikit kaum wanita yang masuk dalam jajaran pemerintahan, membuat kebijakan yang adil demi kelangsungan hidup dalam berbangsa dan bernegara.
Wanita mempunyai kebebasan dalam melakukan pekerjaan di luar rumah. Bahkan banyak pula dari mereka yang menjadi tulang punggung keluarga sebagai perwujudan dalam membantu kaum laki-laki.
Penampilan wanita juga semakin rapi dan sedap dipandang mata. Menjadikan mereka lebih dihormati dan bersahaja saat tampil di tengah publik. Meski dengan busana muslim yang modis para wanita tetap mempertahankan aturan syar’i.
Tak hanya penampilan, gagasan brilliant juga bermunculan untuk memberikan rekomendasi demi perubahan bangsa yang progresif. Pola pikirnya tak lagi kolot namun menginsprasi bagi sesama, bahkan terhadap lawan jenisnya sekalipun. Meski demikian kaum ini juga tak melupakan kodratnya ketika kembali kepada keluarga.
Kehidupan wanita muslim semacam ini merupakan bentuk nikmat  yang diperuntukkan bagi Indonesia dengan perantara kaum wanita. Mereka adalah satu dari ratusan bahkan ribuan jalan untuk menuju nikmat Alloh SWT. Tinggal bagaimana masyarakat Indonesia mensyukuri nikmat yang sering tidak disadari.
Hidup memang tidak selalu indah, langit pun tidak selalu cerah, dan malam juga kadang suram karena tak berbintang. Begitulah lukisan alam, begitulah aturan Alloh SWT sebagai wujud nikmat yang harus disyukuri.
Kehadiran wanita muslim akan memberi dampak positif bagi perkembangan suatu bangsa. Ada pepatah yang mengatakan apabila dalam suatu negara terdapat wanita baik maka akan menjadi baik pula negara itu, begitu juga sebaliknya.
Saat Indonesia mendapati berjuta masalah, sejatinya itu merupakan sebagian kecil nikmat Alloh yang berwujud cobaan. Ini menjadi pelajaran bagi umat manusia untuk selalu ingat kepadaNya.
Bersyukurlah dan yakin bahwa Alloh sedang mempersiapkan bangsa ini menjadi teladan bangsa yang lain. Para wanita muslim sedang dipersiapkan menjadi sosok yang berani dan tegar untuk mencerahkan Indonesia.
Tokoh Kartini merupakan potret wanita Indonesia yang ikut andil dalam melakukan perubahan yang progresif. Ia telah memberi berbagai landasan untuk pembangunan.
Sosoknya mampu memperjuangkan kaum wanita agar mendapat hak yang sama dan sederajat dengan laki-laki. Kartini memperjuangkan pendidikan kaum wanita yang menjadi martir untuk menjunjung harkat dan martabat kaumnya.

Jumat, 13 April 2012

Komersialisasi Pendidikan di Indonesia

Everyone has the right to education. Education shall be free, at least in the elementary and fundamental stages. Elementary education shall be compulsory, technical and profesional education shall be made generally available higher education shall be equally accessible to all on the basis of merit… (Artikel 26 (1) Universitas Declaration of Human Rights) 

Pendidikan Dalam Ruang Lingkup Sosial
Pendidikan menjadi tiang peradaban manusia saat ini. Ia memegang peranan penting dalam mentransfer sejarah perkembangan masyarakat. Bagaimana pendidikan diperjuangkan sejak zaman penjajahan Belanda. Dalam lingkup sosial hendaknya pendidikan mampu membangun peradaban manusia yang lebih baik. Mampu mentransfer ilmu pengetahuan yang ditemukan sepanjang sejarah maupun nilai-nilai universal. Tanpa ada pendidikan transfer tersebut akan sulit dilakukan. Oleh karena itu hendaknya ia dapat diakses oleh semua kalangan agar dapat menuju peradaban yang lebih baik, paling tidak dapat dirasakan oleh sebanyak-banyaknya orang.
Pendidikan kita tidak boleh apriori terhadap trend yang dibawa oleh proses globalisasi. Kita harus tetap tegar memegang karakteristik hakikat pendidikan. Bahwa pada dasarnya ia memanusiakan manusia. Globalisasi dan universalisasi sangat mempengaruhi dunia pendidikan yang timbul melalui tangan para pemegang kebijakan suatu bangsa. Globalisasi memaksa mereka saling meniru, mentransfer serta memadukan kebijakan pendidikan yang mereka buat.

Senin, 02 Januari 2012

Kaum Komunal Intelektual

Mahasiswa adalah kelompok intelektual yang berada pada posisi edukasional sehingga mampu membawa perubahan progresif dalam masyarakat. Sebagai agent of change, yang menggelitik pemikiran kita adalah perubahan apa yang akan di lakukan, bagaimana caranya, dengan siapa, dimana dan kapan perubahan itu akan dilakukan, entah sampai kapan limitnya. Kampus ibarat medan kecil bagi mahasiswa untuk melakukan perang pemikiran, perang idiologi bahkan sampai perang fisik. Sejarah telah mencatat, gerakan mahasiswa dimulai tahun 1908. Sepak terjang mahasiswa telah terbukti mampu menggoyahkan kelompok yang secara arogan membuat kebijakan-kebijakan elit.
                Mahasiswa adalah pemuda, dimana daya kritis dan ideologis menguasai jalan pikirannya. Mudah meledak, ibarat granat bila sedikit saja tersentuh. Dan mudah melunak ketika melihat realitas yang jauh dari idealisnya. Kebebasan yang ada pada dirinya terkadang membuat jalan pemikirannya terpancing emosi dengan serta merta. Rasa tanggung jawab seharusnya berjalan beriringan dalam menggiring perubahan. Sehingga kebebasan tersebut bermakna kebebasan yang bertanggung jawab. 
Idealnya kaum intelektual ini bekerja dengan berdasar pada logika, dan retorika, bukan dengan fisik yang selama ini masih sering dijumpai disekeliling kita. Mahasiswa bukanlah golongan komunal robotik yang bekerja atas dasar otot atau fisik semata tanpa mempertimbangkan etika dan nalarnya. Jalanan telah menjadi lahan garap mahasiswa, baik dengan massa ribuan hingga segelintiran. Dari isu internasional, nasional, sampai isu internal kampus. Dan sekarang sepertinya gerakan mahasiswa menjadi hablur dengan anarkisme mahasiswa yang lebih memperjuangkan kepentingan golongan masing-masing.
                Berfikir dan berjuang, itu yang menjadi senjata dalam berkontribusi terhadap negara. Berfikir untuk melihat realitas yang ada dan bagaimana seharusnya. Mencoba menerawang lintasan negara, kemana arahnya. Karena muatan dari negara ini adalah jutaan rakyat indonesia yang beragam, yang menumpukkan nasibnya pada pemegang lintasan itu. Berjuang demi menegakkan kebenaran dan keadilan agar kesejahteraan rakyat terpenuhi. Semua itu dapat terealisasi dengan gerakan mahasiswa yang berproses secara ilmiah, bukan dengan otot semata. Kegiatan diskusi dan aksi damai yang dilakukan  dengan golongan yang berbeda akan mengembalikan arah gerak mahasiswa.

Senin, 26 Desember 2011

Terpaksa, Ketimbang Nganggur



Gelar sarjana diletakkan pada posisi yang edukasional. Dewasa ini sering ditemui lulusan sarjana yang bekerja tidak sesuai dengan bidangnya saat duduk di bangku kuliah. Pilihan ini di ambil ketimbang lulusan sarjana harus menyandang status pengangguran karena tidak tersedia lapangan pekerjaan dengan dalih sambil menunggu panggilan kerja.

Dalam perjalanan menempuh karir, seseorang akan berkeyakinan bahwa apa yang dilakukannya selama ini adalah untuk mencapai cita-citanya. Perkuliahan menjadi momentum tersendiri dalam mendalami keahlian yang mereka inginkan. Jurusan dalam perkuliahan tentu menjadi pertimbangan nantinya dalam menghadapi masyarakat seutuhnya. Setelah selesai kuliahpun output yang diharapkan mampu memenuhi pangsa pasar di masyarakat. Yang menjadi ironis adalah ketersediaan lapangan pekerjaan tidak sesuai dengan kuantitas para pencari kerja terutama lulusan sarjana. Hal itu yang menjadikan mereka bekerja tidak sesuai dengan jurusannya pada saat menempuh jenjang perkuliahan. Walau kecil akibat yang akan ditimbulkan jika bekerja tidak sesuai dengan bidangnya. Namun masyarakat tidak memiliki kekuatan untuk melakukan perlawanan jika menyaksikan kondisi tersebut. Perjalanan karir akan menjadi sejarah panjang dan mengagumkan bagi seseorang terutama bagi lulusan muda yang bekerja apa adanya meskipun tidak sesuai dengan bidangnya. Fenomena demikian dilakukan dengan terpaksa untuk merobohkan kebijakan penguasa yang sekendak hati menyebarluaskan pengangguran di masyarakat.

Jumat, 11 November 2011

Sifat Lingkungan Hidup

Oleh Fitri Nurhayati

Ruang lingkup peninjauan tentang lingkungan hidup dapat sempit, misalnya sebuah rumah dengan pekarangannya, atau luas, misalnya Pulau Irian. Lapisan bumi dan udara yang ada mahluknya, dapat juga dianggap sebagai suatu lingkungan hidup yang besae, yaitu biosfer. Bahkan tatasurya kita atau malahan seluruh alam semesta dapat menjadi objek tinjauan. Sifat lingkungan hidup ditentukan oleh bermacam-macam faktor. Pertama, oleh jenis dan jumlah masing-masing jenis unsur lingkungan hidup tersebut. Dengan mudah dapat kita lihat, suatu lingkungan hidup dengan 10 orang manusia, seekor anjing, tiga ekor burung perkutut, sebatang pohon kelapa dan sebuah bukit batu akan berbeda sifatnya dari lingkungan hidup yang sama besarnya tetapi hanya ada seorang manusia, 10 ekor anjing, tertutup rimbun oleh pohon bamboo dan rata tidak berbukit batu.

Selasa, 01 November 2011

Kebudayaan Masyarakat Desa


Adat adalah kebiasaan-kebiasaan yang berlangsung dan menjadi norma dalam masyarakat atau pola-pola perilaku tertentu dari warga masyarakat di suatu daerah. Dalam adat istiadat terkandung serangkaian nilai, pandangan hidup, cita-cita pengetahuan dan keyakinan serta aturan-aturan yang saling berkaitan sehingga membentuk satu kesatuan yang bulat. Fungsinya sebagai pedoman tertinggi dalam bersikap dan berperilaku bagi seluruh warga masyarakat. Dan setiap daerah memiliki memiliki adat istiadat atau kebiasaan yang berbeda-beda, sesuai dengan struktur social daolam masyarakat tersebut.
Dapat di amati pola kebudayaan masyarakat di Desa Wanayasa kabupaten Banjarnegara yang dari dulu sampai sekarang masih ada didesa tersebut. Pola kehidupan masyarakat desa sangat intim antara individu dengan individu yang lain. Seperti ketika sebuah keluarga tertimpa musibah, salah satu keluarganya meninggal dunia. Maka tanpa adanya sosialisasi pun mereka dengan sendirinya ikut merasakan kesedihan keluarga tersebut atau ikut simpati. Bukti konkrit dari hel tersebut adalah adanya tahlilan pada hari ketiga setelah meninggalnya salah satu keluarga, kemudian tahlilan hari ketujuh, dan tahlilan hari ke empat puluh.
Hal demikian merupakan wujud kepedulian masyarakat desa yang begitu tinggi dengan sesamanya. Sampai sekarang fenomena tersebut masih berlaku di Desa wanayasa. Tidak hanya rasa simpati yang ditunjukkan masyarakat desa, namun gotongroyong dalam pembangunan rumah sebuah keluarga, masyarakat yang lain tanpa dimintai pertolongan mereka akan membantu dengan ikhlas. Baik tenaga maupun pikiran.
Ada hal lain yang menarik dari kebudayaan suatu desa.Proses struktur social berjalan dengan lancer apabila jalinan didalam unsur-unsur social tersebut tidak mengalami kegoncangan pada unsure yang lain.
            Dalam hidup bermasyarakat, seseorang biasanya memiliki bebrapa kedudukan sekaligus. Kedudukan yang berbeda-beda sering disertai hak dan kewajiban yang berbeda-beda yang terwujud dalam ketidaksamaan social sehingga menimbulkan konflik dalam masyarakat.
            Untuk menyelesaikan konflik dalam masyarakat, setiap daerah juga memiliki cirri khas/kebiasaan tersendiri yang berlaku. Begitu juga dengan daerah tempat tinggal saya Desa Wanayasa, Banjarnegara.
            Setelah saya amati, apabila terjadi konflik dalam masyarakat terutama didaerah tempat tinggal saya, maka perangkat desa melakukan hal-hal sebagai berikut:
  1. persuasive
artinya perangkat desa atau orang tertentu yang dianggap berpengaruh daloam masyarakat melakukan usaha untuk mengajak / membimbing, berupa anjuran (pendekatan secara halus)
  1. coersive
apabila dengan cara utama tidak efektif maka usaha berikutnya adalah dengan memberikan sanksi-sanksi mendidik.
  1. compulsive
artinya sekelompok masyarakat menciptakan situasi yang sedemikian rupa sehingga seseorang terpaksa taat atau patuh kepada aturan
  1. pervasion
dengan penanaman norma yang ada secara rutin dengan harapan bahwa hal itu dapat membudaya. Dengan demikian orang tersebut akan mengubah sikapnya. Contoh konkrit dari usaha mengatasi konflik didfaerah saya dengan cara diatas adalah:
“ketika seorang laki-laki mengunjungi perempuan dimalam hari tidak boleh melebihi pukul 21.00 apabila melanggar maka usaha yang pertama dilakukan oleh perangkat desa adalah menegur atau dengan pendekatan secara halus. Kemudian ditetapkan sanksi misalnya apabila melanggar sampai tiga kali maka akan dinikahkan secara paksa (bahasa Wanayasa: tungkup). Untuk lebih efektif lagi adalah dengan menciptakan situasi yang sedemikian rupa sehingga seseorang terpaksa taat pada aturan. Contoh konkrit dengan adanya ronda malam. Kemudian perangkat desa semaksimal mungkin menanamkan norma-norma yang ada secara rutin sehingga hal tersebut dapat membudaya.”
            Lembaga social adalah suatu system pola social yang tersusun secara sistematis, bersifat permanent, mengandung perilaku-perilaku tertentu yang terpadu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
            Setiap lembaga social memiliki fungsi dan tanggungjawab masing-masing yang berbeda satu sama lain. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pranata social merupakan seperangkat aturan yang berkisaar sekitar kegiatan atau kebutuhan social tertentu. Karena didalam masyarakat ada berbagai kegiatan dan kebutuhan social, maka dalam masyarakat juga terdapat berbagai lembaga social.
            Lembaga social di Desa Wanayasa sangat berperan penting karena sebagai penentu kebijakan dalam masyarakat desa.  Mulai dari lembaga yang paling kecil yaitu lembaga keluarga, sampai perangkat desa.

Selasa, 27 September 2011

Refleksi Rektor Ideal untuk Progresifitas Kampus


Bercermin dari tokoh perintis
Sosok  gagah  nan  ideal  sebagai  penggagas  kemuhammadiyahan.  Akrab  kita  kenal dengan   nama   K.H.   Ahmad   Dahlan.   Ide -idenya   yang   membawa   perubahan   secara revolusioner  mulai  dari  sistem  pendidikan,  ekonomi,  sosial,  dan  politik.  Ahmad   Dahlan menyaksikan  polemik  masyarakat  Yogyakarta  yang  dipandang  tidak  sesuai  dengan  jiwa ajaran  islam.  Kondisi  obyektif  umat  islam  waktu  itu  berada  dalam  keterbelakangan, kebodohan  dan  kemiskinan.  Sedangkan  bangsa  Indonesia  berada  dalam  cengkeraman penjajahan.  Kondisi  obyektif  semacam  itu  semakin  member  dorongan  padanya  untuk melakukan  perubahan  atas  kondisi  yang  buruk  itu .  Dengan  menengok  pada  khasanah pembaharuan   di   dunia   islam,   maka   ia   mewujudkan   dorongan   itu   kedalam   cita-cita